
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51737-jangan-suka-melaknat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Jangan Suka Melaknat (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Berhati-Hati dalam Melaknat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ketahuilah bahwa melaknat seorang muslim yang terjaga (kehormatannya) itu haram berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Namun boleh melaknat orang-orang yang memiliki sifat tercela, seperti ucapanmu, “Laknat Allah untuk orang-orang dzalim, laknat Allah untuk orang-orang kafir, laknat Allah untuk orang-orang Yahudi dan Nasrani, laknat Allah untuk orang-orang fasik, laknat Allah untuk tukang gambar (makhluk bernyawa, pen.), dan semacamnya.” </span><b>(</b><b><i>Al-Adzkar, </i></b><b>hal. 303)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47723-hukum-bersumpah-dengan-agama-selain-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Bersumpah dengan Agama selain Islam</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hukum Melaknat dengan Bahasa General</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat beberapa hadits yang menunjukkan bolehnya melaknat dengan bahasa general. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Laknat Allah untuk orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid.” </span><b>(HR. Bukhari no. 435, 436 dan Muslim no. 529)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Laknat Allah untuk orang yang menyembelih untuk selain Allah, dan laknat Allah untuk orang yang melindungi penjahat (buron) </span><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;">, laknat Allah untuk orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan laknat Allah untuk orang yang memindahkan (mengubah) tanda patok batas tanah.” </span><b>(HR. Muslim no. 1978)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47717-hukum-mencela-waktu-masa.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mencela Waktu (Masa)</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hukum Melaknat dengan Menyebut Person Tertentu</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun melaknat dengan menyebutkan nama person tertentu (misalnya, “Laknat Allah untuk si fulan A si pencuri itu”), maka terdapat perselisihan pendapat di antara ulama apakah diperbolehkan ataukah tidak. Sebagian ulama membolehkan, sebagian yang lain tidak membolehkannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi Asy-Syafi’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adapun melaknat person tertentu yang melakukan maksiat, seperti Yahudi, Nashrani, orang zalim, pezina, tukang gambar, pencuri, pemakan riba, maka makna yang ditangkap dari hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa hal itu tidaklah haram. Namun Al-Ghazali </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mengisyaratkan haramnya hal tersebut, kecuali pada orang-orang yang kita ketahui bahwa dia meninggal di atas kekafiran, seperti Abu Lahab, Abu Jahal, Fir’aun, Haman, dan orang-orang semisal mereka. Al-Ghazali berkata, “Karena laknat itu berarti (berdoa) menjauhkan seseorang dari rahmat Allah Ta’ala. Sedangkan kita tidak mengetahui bagaimana kondisi akhir hidup orang fasik atau orang kafir ini. Al-Ghazali juga berkata, “Yang mendekati kalimat laknat adalah mendoakan kejelekan untuk orang lain, meskipun orang zalim. Seperti ucapan seorang yang terzalimi, “Semoga Allah tidak memberikan badan yang sehat untukmu, semoga Allah tidak menyelamatkanmu, dan ucapan semisal itu.” </span><b>(</b><b><i>Al-Adzkar, </i></b><b>hal. 304)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah membawakan perkataan An-Nawawi di atas, Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menguatkan pendapat Al-Ghazali dengan berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang benar, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’lam, </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah pendapat Al-Ghazali yang mengatakan bahwa tidak boleh melaknat orang-orang yang telah diketahui memiliki maksiat tertentu, kecuali pada orang tertentu yang kita ketahui bahwa dia mati di atas kekafiran. Hal ini karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup orang fasik atau orang kafir ini. Betapa banyak kita melihat atau betapa banyak kita mendengar orang-orang yang terjerumus dalam maksiat dan kekafiran, kemudian Allah Ta’ala beri hidayah dan menutup hidupnya dengan kebaikan. Mereka menjadi penolong kebenaran setelah sebelumnya menjadi penolong kebatilan.” </span><b>(</b><b><i>Afaatul Lisaan, </i></b><b>hal. 94)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">dengan alasan yang sama, yaitu adanya kemungkinan orang tersebut untuk bertaubat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’lam, </span></i><span style="font-weight: 400;">pendapat yang benar dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang menyatakan bolehnya melaknat person tertentu sekalipun, namun dengan syarat bahwa mereka memang berhak untuk mendapatkan laknat. Jika tidak, maka yang mendoakan laknat tersebut telah berbuat kezaliman.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45909-tidak-boleh-meyakini-kafirnya-orang-yahudi-dan-nashrani.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Boleh Meyakini Kafirnya Orang Yahudi dan Nashrani?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Jabir </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seekor keledai yang diberi cap (diberi tanda atau </span><i><span style="font-weight: 400;">wasm</span></i><span style="font-weight: 400;">) mukanya </span><b>[2]</b><span style="font-weight: 400;">, beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَعَنَ اللهُ الَّذِي وَسَمَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Laknat Allah untuk orang yang melakukannya.” </span><b>(HR. Muslim no. 2117)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melaknat person tertentu, yaitu orang yang memberi cap </span><i><span style="font-weight: 400;">(wasm) </span></i><span style="font-weight: 400;">pada binatang tersebut. Tentu bahasa di atas mengarah kepada person pelakunya, bukan laknat secara umum (general).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda setelah sebagian suku Arab membantai sahabat-sahabatnya terbaiknya secara licik dan culas,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ، وَرِعْلًا، وَذَكْوَانَ، وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللهَ وَرَسُولَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, laknatlah bani Lihyan, bani Ri’l, bani Dzakwaan dan bani ‘Ushayyah. Mereka telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.” </span><b>(HR. Muslim no. 675)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas juga menunjukkan bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melaknat secara spesifik, dengan menyebutkan kabilah-kabilah Arab yang telah membantai sahabat terbaik Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam. </span></i><b>[3]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-neraka.html" data-darkreader-inline-color="">Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43280-hukum-operasi-plastik-untuk-kecantikan.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Operasi Plastik Untuk Kecantikan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 16 Dzulhijjah 1440/17 Agustus 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Bisa juga dimaknai dengan melindungi pelaku bid’ah atau mensupport amalan-amalan bid’ah.</span></p>
<p><b>[2] </b><i><span style="font-weight: 400;">Wasm </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah besi yang diberi tanda tertentu, kemudian dipanaskan, lalu ditempelkan ke bagian tubuh tertentu dari binatang sebagai penanda. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wasm </span></i><span style="font-weight: 400;">diperbolehkan di selain wajah, misalnya di bagian pantat. Bahkan dianjurkan untuk hewan zakat agar diketahui bahwa hewan ini adalah hewan zakat sehingga dikembalikan di tempatnya.</span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Afaatul Lisaan fii Dhau’il Kitaab was Sunnah, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 90-94.</span></p>
 