
<p>Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, keluarga, dan sahabatnya.</p>
<p>Anda  telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi  bahtera  rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?</p>
<p>Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”</p>
<p>Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda: “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Saudaraku,  kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika,  lika-liku, dan  pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda  bersedih. Tidak  jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan  kadang kala Anda  cemberut dan bermasam muka.</p>
<p>Bukankah demikian, Saudaraku?</p>
<p>Berbagai  tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa  menghiasi  hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka  semakin berat  dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.</p>
<p>Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.</p>
<p>Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.</p>
<p>Sebelum  menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan  bahwa  pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh,  pandai  mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran  indah.</p>
<p>Bukankah demikian, Saudaraku?</p>
<p class="arab">تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ</p>
<p><em>“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan:   harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka,   hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau   beruntung.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Al-Qurthubi menjelaskan  makna hadits ini dengan berkata, “Empat  pertimbangan inilah yang  biasanya mendorong seorang lelaki untuk  menikahi seorang wanita. Dengan  demikian, hadits ini sebatas kabar  tentang fakta yang terjadi di  masyarakat, dan bukan perintah untuk  menjadikannya sebagai pertimbangan.  Secara tekstual pun, hadits ini  menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi  seorang wanita dengan keempat  pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya  pertimbangan agama lebih  didahulukan.”</p>
<p>Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-‘Ash <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ  تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ   يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى   أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى   الدِّينِ وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ</p>
<p><em>‘Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan   parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara.   Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa   saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi,   hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh,   seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh   beragama, lebih utama dibanding mereka semua.'”</em> (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)</p>
<p>Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?</p>
<p>Bila  benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup  Anda, maka  saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan  akhirat. Bila  tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.</p>
<p>Saudaraku,  besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya  menimpa Anda  seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.</p>
<p class="arab">عَنْ  أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ   يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ،  وَمَرْيَمُ  بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ  كَفَضْلِ  الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ</p>
<p>A<em>bu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu   ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai   kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil   menggapainya kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran.   Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan   kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!</p>
<p>Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.</p>
<p class="arab">لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ</p>
<p><em>Tidak  pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita  yang beriman.  Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia  puas dengan  perangainya yang lain.” (Hr. Muslim)</em><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em></em>Saudaraku, Anda  kecewa karena istri Anda kurang  pandai memasak? Tidak perlu khawatir,  karena ternyata istri Anda adalah  penyayang.</p>
<p>Anda kurang puas  dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah  dan kurang sabar?  Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik  rupawan.</p>
<p>Anda  berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan  hati  Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan  karunia  keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa  besar  penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi  mandul.</p>
<p>Demikianlah seterusnya.</p>
<p>Tidak  etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek  kekurangan  istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan  kelebihan-kelebihannya.  Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar  seorang suami yang berjiwa  besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam  membaca kelebihan pasangan  Anda.</p>
<p>Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan  mahir  dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah   mengisahkan,</p>
<p class="arab">قَالَ  لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي  لَأَعْلَمُ  إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ  غَضْبَى .  قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ:  أَمَّا إِذَا  كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ  مُحَمَّدٍ،  وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ.  قَالَتْ:  قُلْتُ  أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ  إِلاَّ اسْمَكَ</p>
<p><em>“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam   bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku,   demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah   bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah   menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau   bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila   engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau   berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah   menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah,   ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Demikianlah teladan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.   Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa   membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah   berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka,   senantiasa berada di sanding Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> dan berbicara seperti biasa, namun Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar   biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.</p>
<p>Tidak mengherankan, bila beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي</p>
<p><em>“Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam   memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian   dalam memperlakukan istriku.”</em> (Hr. At-Tirmidzi)</p>
<p>Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?</p>
<p>Saudaraku,  tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar  lamunan dan  gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah  dalam benak  Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda  dengan gambaran  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang kaum wanita berikut ini,</p>
<p class="arab">الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ</p>
<p><em>“Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin   meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau   bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang   dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Pada riwayat lain, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ  تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا  هِيَ  كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا  تَسْتَمْتِعْ  بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ</p>
<p><em>“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan.   Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin   meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau   biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya,   (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” </em>(Hr. Ahmad)</p>
<p>Nah,  sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita  pendamping  hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan  selanjutnya  tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak  kelebihan.</p>
<p>Lalu,  bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan  wanita lain,  maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita  itu ternyata  juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah  untuk membuktikan  hal ini pada istri Anda. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا</p>
<p><em>“Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka   segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal   yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.”</em> (Hr. At-Tirmidzi)</p>
<p>Demikianlah  caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga  dengan pasangan  hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda  tampak hijau,  sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.</p>
<p>Selamat  berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan  kepada  Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.</p>
<p>Sebaliknya,  sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan  pasangan hidup  yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan  tinggi, penuh  perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain  sebagainya.</p>
<p>Betapa  indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya  pasangan  hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah  demikian,  Saudariku?</p>
<p>Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh  kriteria suami  ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud  pada pasangan  hidup Anda?</p>
<p>Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.</p>
<p>Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.</p>
<p>Bila  selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta,  maka  tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan  tanggung  jawab.</p>
<p>Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.</p>
<p>Andai  selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang  perhatian  dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan  dalam urusan  luar rumah.</p>
<p>Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap  Anda kurang  simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan,  karena ia  masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta.  Ternyata,  selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi  penyebab  Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.</p>
<p>Saudariku,  Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal  yang ada pada  diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang  ada padanya.  Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga  bersamanya.</p>
<p>Berlarut-larut  dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda  dapat menghancurkan  segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan  hanya hancur di dunia,  bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.</p>
<p>Saudariku, simaklah peringatan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.</p>
<p class="arab">أُرِيتُ  النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ،  قِيلَ:  أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ،  وَيَكْفُرْنَ  الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ  ثُمَّ رَأَتْ  مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ</p>
<p><em>“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan   ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka   yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang   engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau   menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar   terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur   hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu   mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun   darimu.’”</em> (Muttafaqun ‘alaihi)</p>
<p>Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?</p>
<p>Temukanlah  bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada  genggaman  tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga  suami Anda  rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan  kebahagian  berumah tangga kepada Anda.</p>
<p>Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.</p>
<p class="arab">إِذَا  صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ  فَرْجَهَا  وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ  أَيِّ  أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ</p>
<p><em>“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa   bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya,   niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga   dari pintu mana pun yang engkau suka.’”</em> (Hr. Ahmad dan lainnya)</p>
<p>Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?</p>
<p><strong>Kunci Keberhasilan Rumah Tangga </strong></p>
<p>Saudaraku,  mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda,  terus berusaha  mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan  kebahagiaan untuk Anda  berdua.</p>
<p>Anda berhasil menemukannya?</p>
<p>Bila Anda berhasil,  maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun  bila belum, maka segera  temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda  pada firman Allah berikut,</p>
<p class="arab">وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ</p>
<p><em>“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya   menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan   satu tingkat daripada istrinya.”</em> (Qs. al-Baqarah: 228)</p>
<p>Hak  pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada  Anda.  Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula   kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.</p>
<p>Shahabat Abdullah  bin ‘Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi  ayat ini dalam rumah  tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata,  “Sesungguhnya, aku senang  untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku  pun senang bila istriku  berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah  berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ</p>
<p><em>‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.’ </em></p>
<p>Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,</p>
<p>وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ</p>
<p><em>‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’”</em> (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)</p>
<p>Bagaimana  dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda  berdandan?  Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar  rumah? Selama  ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda  berdandan  untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil  menawan untuk  orang lain?</p>
<p>Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi  kekurangan, dan saling  pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam  membangun rumah  tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai  penonton setia  ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya.  Usahakan sebisa  Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya.  Demikianlah, dahulu  Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mencontohkan dalam rumah tangga beliau.</p>
<p>Aisyah<em> radhiyallahu ‘anha </em>mengisahkan,</p>
<p class="arab">كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ</p>
<p><em>“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian   pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan,   maka beliau bergegas menuju ke mesjid.”</em> (Hr. Bukhari)</p>
<p>Constance  Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair  State  University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang   hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia   mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua   kelompok.</p>
<p>Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli  dan jarang  membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami  yang sering  turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.</p>
<p>Hasilnya  luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering  membantu  pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering  memadu  cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah,  begitu  kental dalam rumah tangga mereka.</p>
<p>Sejatinya, penemuan ini  bukanlah hal baru, karena secara logika,  suami yang dengan rendah hati  membantu pekerjaan istrinya pastilah  lebih dicintai oleh istrinya.  Tentunya, ini memiliki hubungan erat  dengan keromantisan suami-istri  dalam bercinta.</p>
<p>Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?</p>
<p>Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.</p>
<p>Semoga  tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila  ada  kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri</p>
<p><strong>Artikel <a title="www.pengusahamuslim.com" target="_blank">www.pengusahamuslim.com</a></strong></p>
<p>===<br> catatan kaki:<br> [1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.</p>
 