
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/52892-shalat-sendirian-di-belakang-shaf-1.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat Sendirian di Belakang Shaf yang Sudah Penuh (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Menarik Satu Jamaah di shaf depan</span></strong></h2>
<p><strong>Bolehkah menarik salah satu jamaah di shaf depan agar bisa membuat shaf baru berdua dengannya?</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang tidak boleh menarik satu orang yang ada di depannya agar bisa membuat shaf berdua dengannya. Hal ini berdasarkan beberapa alasan berikut ini:</span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Penjelasan 1</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits-hadits yang menyebutkan untuk “menarik” jamaah di depannya adalah tambahan yang lemah (dha’if), yaitu hadits yang diriwayatkan dari sahabat Wabishah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">karena ada perawi yang bermasalah. Terdapat tambahan yang dha’if, yaitu:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ألا دخلت في الصف ، أو جذبت رجلا يصلي معك</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Untuk masuk ke dalam shaf (di depannya), atau menarik seseorang agar shalat bersamamu.” </span><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46290-manakah-yang-lebih-utama-wanita-shalat-di-rumah-atau-di-masjid-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?</a></strong></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Penjelasan 2</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Menarik satu orang dari shaf akan menyebabkan celah di shaf orang tersebut. Sedangkan yang disyariatkan adalah menutup celah di shaf. </span></p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">Penjelasan 3</span></strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini akan mengganggu konsentrasi orang yang ditarik dari shaf, dan juga menyebabkan orang tersebut tidak mendapatkan keutamaan berada di shaf bagian depan. Apalagi sebagian besar orang yang ditarik itu berada di shaf yang tepat di belakang imam.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45496-hukum-membaca-doa-taawudz-ketika-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Membaca Doa Ta’awudz ketika Shalat</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Berdua di Belakang atau Salah Satu di  Belakang?</span></strong></h2>
<p>Jika ada dua orang yang terlambat, dan ada satu celah di shaf di depannya, manakah yang lebih afdhal: dia membuat shaf baru berdua di belakang atau salah satu mengisi celah, dan yang lain shalat jamaah sendirian di belakang shaf?</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama berpendapat bahwa yang lebih tepat adalah menyusun shaf berdua di belakang shaf yang sudah ada, meskipun shaf di depannya tersebut masih ada satu celah kosong. Hal ini karena menutup celah shaf itu hukumnya mustahab (dianjurkan), sedangkan membuat shaf berdua (dan tidak sendirian) hukumnya wajib.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat ini perlu ditinjau kembali, karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang menyambung shaf, Allah Ta’ala akan menyambungnya. Siapa saja yang memutus shaf, Allah Ta’ala akan memutusnya.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 666, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits di atas menunjukkan wajibnya menutup celah di shaf. Oleh karena itu, dalam masalah ini, yang lebih tepat adalah salah satu di antara keduanya masuk ke shaf untuk menutup celah, sedangkan satu orang yang lain, menyusun shaf sendiri di belakang shaf yang sudah ada. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semisal dengan permasalahan ini adalah jika ada dua orang saja di satu shaf, lalu ada satu orang di shaf depannya meninggalkan shaf karena ada </span><i><span style="font-weight: 400;">‘udzur</span></i><span style="font-weight: 400;"> (misalnya, karena buang angin sehingga batal shalatnya). Maka salah satu di antara keduanya maju ke depan untuk menutup celah shaf yang ada, sedangkan satu orang lainnya menjadi sendirian di belakang shaf. Dan satu orang yang menjadi sendirian di belakang shaf ini tetap menyempurnakan shalatnya di belakang jamaah, dan shalat jamaahnya tetap sah. Hal ini karena status dia mendapatkan </span><i><span style="font-weight: 400;">‘udzur</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan dia pun tidak melakukan kecerobohan sehingga hanya sendirian di belakang shaf. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam. </span></i><b>[2]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45151-kiat-kiat-meraih-shalat-khusyuk-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Kiat-Kiat Meraih Shalat Khusyuk</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44643-jangan-sembarang-maju-menjadi-imam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 4 Shafar 1441/3 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 16pt;"><strong>Catatan Kaki</strong></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan oleh Abu Ya’la, 2: 245; Ath-Thabrani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Kabiir, </span></i><span style="font-weight: 400;">22: 145; dan Al-Baihaqi, 3: 105. Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Irwa’, </span></i><span style="font-weight: 400;">2: 326.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahkaam Khudhuuril Masaajid </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 144-149 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA).</span></p>
 