
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. </span></i><span style="font-weight: 400;">Setelah kita mengetahui</span><a href="https://rumaysho.com/789-hukum-mencabut-uban.html"> <b>hukum mencabut uban</b></a><span style="font-weight: 400;">, berikut ini adalah pembahasan mengenai menyemir uban dan menyemir rambut secara umum. Semoga Allah memudahkan kami untuk menjelaskan hal ini dan semoga para pembaca dimudahkan untuk memahaminya.</span></p>

<h2><b>Ubahlah Uban Untuk Menyelisihi Ahli Kitab</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memerintahkan kita untuk menyelisihi ahli kitab di antaranya adalah dalam </span><b>masalah uban</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Muttafaqun ‘alaihi</span></i><span style="font-weight: 400;">, HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<h3><b>Manakah yang lebih utama antara membiarkan uban ataukah mewarnainya?</b></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Qodhi ‘Iyadh mengatakan, “Para ulama salaf yakni sahabat dan tabi’in berselisih pendapat mengenai masalah uban. Sebagian mereka mengatakan bahwa lebih utama membiarkan uban (daripada mewarnainya) karena terdapat hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai larangan mengubah uban [Namun hadits yang menyebutkan larangan ini adalah hadits yang mungkar atau dho’if, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Tamamul Minnah</span></i><span style="font-weight: 400;">].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">… Sebagian mereka berpendapat pula bahwa lebih utama merubah uban (daripada membiarkannya). Sehingga di antara mereka mengubah uban karena terdapat hadits mengenai hal ini. ” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Nailul Author</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/144, Asy Syamilah).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi dapat kita katakan bahwa mewarnai uban lebih utama daripada tidak mewarnainya berdasarkan pendapat sebagian ulama</span><span style="font-weight: 400;">. Adapun pendapat yang mengatakan lebih utama membiarkan uban daripada mewarnainya, maka ini adalah pendapat yang lemah karena dibangun di atas hadits yang lemah.</span></p>
<h2><b>Ubahlah Uban dengan Pacar dan Inai</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ أَحْسَنَ مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبَ الْحِنَّاءُ وَالْكَتَمُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai)</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">As Silsilah Ash Shahihah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini menunjukkan bahwa menyemir uban dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hinna’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pacar) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">katm</span></i><span style="font-weight: 400;"> (inai) adalah yang paling baik. Namun boleh juga menyemir uban dengan selain keduanya yaitu dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">al wars</span></i><span style="font-weight: 400;"> (biji yang dapat menghasilkan warna merah kekuning-kuningan) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">za’faron</span></i><span style="font-weight: 400;">. Sebagaimana sebagian sahabat ada yang menyemir uban mereka dengan kedua pewarna yang terakhir ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Malik Asy-ja’iy dari ayahnya, beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانَ خِضَابُنَا مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَرْسَ وَالزَّعْفَرَانَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dulu kami menyemir uban kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">wars </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">za’faron</span></i><span style="font-weight: 400;">”. (HR. Ahmad dan Al Bazzar. Periwayatnya adalah periwayat kitab shahih selain Bakr bin ‘Isa, namun dia adalah tsiqoh –terpercaya-. Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Majma’ Az Zawa’id</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al Hakam bin ‘Amr mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">دَخَلْتُ أَنَا وَأَخِي رَافِعٌ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ ، وَأَنَا مَخْضُوبٌ بِالْحِنَّاءِ ، وَأَخِي مَخْضُوبٌ بِالصُّفْرَةِ ، فَقَال عُمَرُ : هَذَا خِضَابُ الإِْسْلاَمِ . وَقَال لأَِخِي رَافِعٍ : هَذَا خِضَابُ الإِْيمَانِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku dan saudaraku Rofi’ pernah menemui Amirul Mu’minin ‘Umar (bin Khaththab). Aku sendiri menyemir ubanku dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hinaa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pacar). Saudaraku menyemirnya dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">shufroh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (yang menghasilkan warna kuning). ‘Umar lalu berkata: Inilah semiran Islam. ‘Umar pun berkata pada saudaraku Rofi’: Ini adalah semiran iman.” (HR. Ahmad. Di dalamnya ada ‘Abdurrahman bin Habib. Ibnu Ma’in mentsiqohkannya. Ahmad mendho’ifkannya. Namun periwayat lainnya adalah periwayat yang tsiqoh. Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Majma’ Az Zawa’id</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<h2><b>Diharamkan Menyemir Uban dengan Warna Hitam</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim). Ulama besar Syafi’iyah, An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Dianjurkannya menyemir uban dengan shofroh (warna kuning), hamroh (warna merah) dan diharamkan menggunakan warna hitam</span></i><span style="font-weight: 400;">”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika menjelaskan hadits di atas An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Menurut madzhab kami (Syafi’iyah), menyemir uban berlaku bagi laki-laki maupun perempuan yaitu dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">shofroh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (warna kuning) atau </span><i><span style="font-weight: 400;">hamroh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (warna merah) dan </span><b>diharamkan</b><span style="font-weight: 400;"> menyemir uban dengan warna hitam menurut pendapat yang terkuat. Ada pula yang mengatakan bahwa hukumnya hanyalah makruh (makruh tanzih). Namun pendapat yang menyatakan haram </span><b>lebih tepat</b><span style="font-weight: 400;"> berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “</span><b><i>hindarilah warna hitam”</i></b><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Inilah pendapat dalam madzhab kami.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ancaman bagi orang yang merubahnya dengan warna hitam disebutkan dalam hadits berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. </span></i><b><i>Mereka itu tidak akan mencium bau surga</i></b><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><span style="font-weight: 400;">. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><span style="font-weight: 400;">). Karena dikatakan tidak akan mencium bau surga, maka perbuatan ini termasuk </span><b>dosa besar</b><span style="font-weight: 400;">. (Lihat Al Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 60/23, 234/27)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebenarnya jika menggunakan </span><i><span style="font-weight: 400;">katm</span></i><span style="font-weight: 400;"> (inai) akan menghasilkan warna hitam, jadi sebaiknya </span><i><span style="font-weight: 400;">katm </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak dipakai sendirian namun dicampur dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hinaa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pacar), sehingga warna yang dihasilkan adalah hitam kekuning-kuningan. Lalu setelah itu digunakan untuk menyemir rambut. (Lihat Al Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 234/27)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bolehkah menggunakan jenis pewarna lainnya –selain inai dan pacar, inai saja, </span><i><span style="font-weight: 400;">za’faron</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">wars</span></i><span style="font-weight: 400;">– untuk mengubah uban semacam dengan pewarna sintetik? Jawabannya: </span><b>boleh</b><span style="font-weight: 400;"> karena yang penting adalah tujuannya tercapai yaitu merubah warna uban selain dengan warna hitam. Sebagaimana keumuman hadits:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tapi hindarilah warna hitam</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim). Di sini menggunakan kata syaa-i’, bentuk nakiroh, yang menunjukkan mutlak (baca: umum). </span><span style="font-weight: 400;">Namun kalau pewarna tersebut tidak menyerap ke rambut, malah membentuk lapisan tersendiri di kulit rambut, maka pewarna semacam ini harus dihindari karena dapat menyebabkan air tidak masuk ke kulit rambut ketika berwudhu sehingga dapat menyebabkan wudhu tidak sah. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<h2><b>Bagaimana Jika Menyemir Uban Dengan Warna Hitam Untuk Membuat Penampilan Lebih Menarik?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsamin pernah ditanyakan mengenai menyemir jenggot atau rambut kepala dengan warna hitam, apakah dibolehkan?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh rahimahullah menjawab:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menyemir jenggot atau rambut kepala dengan warna hitam, maka aku katakan semuanya adalah </span><b>haram</b><span style="font-weight: 400;">. Alasannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tapi hindarilah warna hitam</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Juga dalam masalah ini terdapat dalil dalam kitab sunan yang menunjukkan ancaman bagi orang yang menyemir ubannya dengan warna hitam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian yang bertanya kembali berkata: Apakah tidak boleh juga kalau maksudnya adalah untuk mempercantik diri?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh rahimahullah menjawab:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umumnya yang mewarnai ubannya dengan warna hitam, tujuannya adalah untuk mempercantik diri, agar terlihat lebih muda. Kalau tidak demikian, lalu apa tujuannya?! </span><b>Perbuatan semacam ini hanya akan membuang-buang waktu dan harta</b><span style="font-weight: 400;">. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Liqo’ Al Bab Al Maftuh</span></i><span style="font-weight: 400;">, 1/5, Mawqi’ Asy Syabkah Al Islamiyah)</span></p>
<h2><b>Bagaimana Jika yang Masih Muda Muncul Uban, Bolehkah Diubah (Disemir)?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin ditanyakan: “Seorang pemuda sudah nampak padanya uban. Dia ingin merubah uban tersebut dengan warna hitam. Bagaimana hukum mengenai hal ini?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh rahimahullah menjawab: Ini termasuk mengelabui (</span><i><span style="font-weight: 400;">tadlis</span></i><span style="font-weight: 400;">). Seseorang yang ingin menikah, lalu di kepalanya terdapat uban sedangkan dia masih muda, maka melakukan semacam ini termasuk mengelabui (</span><i><span style="font-weight: 400;">tadlis</span></i><span style="font-weight: 400;">). Akan tetapi kami katakan bahwa yang lebih utama jika dia ingin mengubah ubannya tadi, maka gunakanlah warna selain hitam. Dia boleh mencampur </span><i><span style="font-weight: 400;">hina’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pacar) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">katm </span></i><span style="font-weight: 400;">(inai), lalu dia gunakan untuk menyemir ubannya. Pada saat ini, tidak nampak lagi uban. Bahkan perbuatan ini adalah termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu merubah uban dengan warna selain hitam. Adapun merubah uban tadi dengan warna hitam, maka yang benar hal ini termasuk </span><b>perbuatan yang diharamkan.</b><span style="font-weight: 400;"> Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita menjauhi warna hitam ketika akan menyemir rambut, bahkan terdapat ancaman yang sangat keras mengenai hal ini dalam sabda beliau. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Liqo’ Al Bab Al Maftuh</span></i><span style="font-weight: 400;">, 188/23)</span></p>
<h2><b>Bagaimana Hukum Menyemir (Memirang) Rambut yang Semula Berwarna Hitam Menjadi Warna Lain?</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pernah ditanyakan, “Apakah boleh merubah rambut wanita yang semula berwarna hitam disemir menjadi warna selain hitam misalnya warna merah?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh rahimahullah menjawab:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban dari pertanyaan mengenai menyemir rambut wanita yang berwarna hitam menjadi warna selainnya, ini dibangun di atas kaedah penting. Kaedah tersebut yaitu </span><b>hukum asal segala adalah halal dan mubah</b><span style="font-weight: 400;">. Inilah kaedah asal yang mesti diperhatikan. Misalnya seseorang mengenakan pakaian yang dia suka atau dia berhias sesuai dengan kemauannya, maka syari’at tidak melarang hal ini. Menyemir misalnya, hal ini terlarang secara syar’i karena terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Ubahlah uban, namun jauhilah warna hitam</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Jika seseorang merubah uban tersebut dengan warna selain hitam, maka inilah yang diperintahkan sebagaimana merubah uban dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">hinaa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (pacar) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">katm </span></i><span style="font-weight: 400;">(inai). Bahkan perkara ini dapat termasuk dalam perkara yang didiamkan (tidak dilarang dan tidak diperintahkan dalam syari’at, artinya boleh -pen).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, kami dapat merinci warna menjadi 3 macam:</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;"> adalah warna yang diperintahkan untuk digunakan seperti </span><i><span style="font-weight: 400;">hinaa’</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk merubah uban.</span></p>
<p><b>Kedua </b><span style="font-weight: 400;">adalah warna yang dilarang untuk digunakan seperti warna hitam untuk merubah uban.</span></p>
<p><b>Ketiga</b><span style="font-weight: 400;"> adalah warna yang didiamkan (tidak dikomentari apa-apa). Dan setiap perkara yang syari’at ini diamkan, maka hukum asalnya adalah </span><b>halal</b><span style="font-weight: 400;"> .</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan hal ini, kami katakan bahwa hukum mewarnai rambut untuk wanita (dengan warna selain hitam) adalah halal. </span><span style="font-weight: 400;">Kecuali</span><span style="font-weight: 400;"> jika terdapat unsur merubah warna rambut tersebut untuk menyerupai orang-orang kafir, maka di sini hukumnya menjadi </span><b>tidak diperbolehkan</b><span style="font-weight: 400;">. Karena hal ini termasuk dalam masalah tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, sedangkan hukum tasyabuh dengan orang kafir adalah </span><b>haram</b><span style="font-weight: 400;">. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Iqtidho’</span></i><span style="font-weight: 400;"> [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">jayid</span></i><span style="font-weight: 400;">/bagus)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang namanya tasyabbuh (menyerupai orang kafir) termasuk bentuk loyal (wala’) pada mereka. Sedangkan kita diharamkan memberi loyalitas (wala’) pada orang kafir. Jika kaum muslimin tasyabbuh dengan orang kafir, maka boleh jadi mereka (orang kafir) akan mengatakan, “Orang muslim sudah pada nurut kami.” Sehingga dengan ini, orang-orang kafir tersebut menjadi senang dan bangga dengan kekafiran yang mereka miliki. Dan perlu diketahui pula bahwa orang yang sering meniru tingkah laku atau gaya orang kafir, mereka akan selalu menganggap dirinya lebih rendah daripada orang kafir. Oleh karena itu, mereka akan selalu mengikuti jejak orang kafir tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dapat kita katakan bahwa tasyabbuh seorang muslim dengan orang kafir saat ini adalah bagian dari loyal kepada mereka dan bentuk kehinaaan di hadapan mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Juga dapat kita katakan bahwa tasyabbuh dengan orang orang kafir termasuk bentuk kekufuran karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka</span></i><span style="font-weight: 400;">”. Oleh karena itu, jika seorang wanita menyemir rambut dengan warna yang menjadi ciri khas orang kafir, maka menwarnai (menyemir) rambut di sini menjadi haram karena adanya tasyabbuh.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al Liqo’ Al Bab Al Maftuh</span></i><span style="font-weight: 400;">, 15/20)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun ada penjelasan lain dari Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan. Beliau hafizhohullah mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adapun mengenai seorang wanita mewarnai rambut kepalanya yang masih berwarna hitam menjadi warna lainnya, maka menurutku hal ini </span><b>tidak diperbolehkan</b><span style="font-weight: 400;">. Karena tidak ada alasan bagi wanita tersebut untuk mengubahnya. Karena warna hitam pada rambut sudah menunjukkan keindahan dan bukanlah suatu yang jelek (aib). Mewarnai rambut semacam ini juga termasuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir).” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tanbihaat ‘ala Ahkamin Takhtashshu bil Mu’minaat</span></i><span style="font-weight: 400;">, hal. 14, Darul ‘Aqidah)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kita melihat dari dua penjelasan ulama di atas, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa hukum menyemir rambut,</span><span style="font-weight: 400;"> jika ada hajat semacam sudah beruban, maka pada saat ini dibolehkan bahkan diperintahkan</span><span style="font-weight: 400;">. Namun apabila rambut masih dalam keadaan hitam, lalu ingin disemir (dipirang) menjadi warna selain hitam, </span><span style="font-weight: 400;">maka hal ini seharusnya dijauhi</span><span style="font-weight: 400;">. Kenapa kita katakan dijauhi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya adalah karena mewarnai rambut yang semula hitam menjadi warna lain biasanya dilakukan dalam rangka </span><i><span style="font-weight: 400;">tasyabbuh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (meniru-niru) orang kafir atau pun meniru orang yang gemar berbuat maksiat (baca: orang fasik) semacam meniru para artis. Inilah yang biasa terjadi. Apalagi kita melihat bahwa orang yang bagus agamanya tidak pernah melakukan semacam ini (yakni memirang rambutnya). Jadi perbuatan semacam ini termasuk larangan karena rambut hitam sudahlah bagus dan tidak menunjukkan suatu yang jelek. Jadi tidak perlu diubah. Juga melakukan semacam ini termasuk dalam pemborosan harta. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam bish showab.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pembahasan yang kami sajikan mengenai uban dan menyemir rambut. Semoga pembahasan kali ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah selalu memberikan kita ketakwaan dan memberi kita taufik untuk menjauhkan diri dari yang haram.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">****</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel Rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulisan kami di masa silam, 29 Rabi’ul Awwal 1430 H dan telah dimuroja’ah oleh</span><a href="http://ustadzaris.com"> <span style="font-weight: 400;">guru kami (Ustadz Aris Munandar -semoga Allah selalu menjaga beliau-).</span></a></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/10094-hukum-rambut-mohawk-dan-qaza-gaya-rambut-balotelli.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Rambut Mohawk dan Qaza’ (Gaya Rambut Balotelli)</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/9478-hukum-menyemir-rambut-yang-belum-beruban.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hukum Menyemir Rambut yang Belum Beruban</strong></span></a></li>
</ul>
 