
<p><strong>Soal:</strong> Bagaimana hukumnya mencela masa?</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br>
Mencela masa terbagi menjadi tiga macam.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> sekedar pernyataan tanpa maksud menjelekkan. Hal seperti ini <strong>boleh</strong>,  contohnya: “Hari ini kami merasa lelah karena udara sangat panas,” atau “…udara  sangat dingin,” atau kata-kata lain yang serupa. Demikianlah, karena setiap  perbuatan tergantung pada <a href="https://muslimah.or.id/tag/niat">niatnya</a> dan kata-kata seperti itu boleh atau patut  sebagai suatu pernyataan atau berita semata-mata.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> mencela masa sebagai sebab, misalnya mencela  masa dengan maksud bahwa masa itulah yang menjadikan sebab berubahnya sesuatu  menjadi baik atau buruk. Pernyataan seperti itu adalah <strong>kesyirikan berat</strong> karena orang yang melakukannya berkeyakinan bahwa disamping Allah <em>Ta’ala</em> ada pencipta lain sehingga kejadian-kejadian yang terjadi dikaitkan kepada  selain Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> mencela masa dengan berkeyakinan bahwa  penyebabnya adalah Allah <em>Ta’ala.</em> Masa dicela karena menjadi penggerak  terjadinya perkara-perkara yang tidak disukai. Hal seperti ini <strong>diharamkan</strong> karena orang yang melakukannya telah mengesampingkan kesabaran yang wajib  dimiliki dalam menghadapi cobaan. Akan tetapi ia tidak mencela Allah <em>Ta’ala </em>secara langsung.  Sekiranya ia mencela Allah <em>Ta’ala</em> secara langsung (menyalahkan Allah <em>Ta’ala</em> atas kejadian buruk itu) maka ia <a href="https://muslimah.or.id/tag/aqidah">kafir</a>.</p>
<p>***<br>
<strong>Syaikh Ibnu Utsaimin</strong><br>
<em>Majmu’ Fataawa wa Rasaail</em>, juz 1<br>
Diketik ulang dari buku <em>Fatwa Kontemporer Ulama Besar  Tanah Suci</em> Penerbit Media Hidayah.</p>
<p><strong>Catatan Tambahan:</strong> (oleh Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tausikal)<br>
Perlu kita  ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik.  Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu.  Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَقَالُوا  مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا  إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ</p>
<p>”<em>Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain  hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan <span style="text-decoration: underline;">tidak ada  yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)</span>“, dan mereka  sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah  menduga-duga saja.</em>” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24).</p>
<p>Jadi, mencela waktu adalah  sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal  ini berarti kebiasaan yang jelek.</p>
<p>Begitu juga  dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu.</p>
<p>Dalam <em>shohih  Muslim</em>, dibawakan Bab dengan judul ’<em>larangan mencela waktu (ad-dahr)</em>’.  Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah <em>shallallahu  ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">قَالَ  اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا  الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ</p>
<p>”<em>Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh  anak Adam. <strong>Dia mencela waktu</strong>, padahal Aku adalah (pengatur) waktu,  Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang</em>.” (HR. Muslim no. 6000)</p>
<p>Dalam lafadz yang lain,  beliau <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">قَالَ  اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ.  فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ  أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا</p>
<p>”<em>Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh  anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen].  Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka  mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang  membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya</em>.”  (HR. Muslim no. 6001)</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah </em>dalam <em>Syarh Shohih Muslim</em> (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu  biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti  kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga  mereka mengucapkan ’<em>Ya khoybah dahr</em>’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan  ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.</p>
<p>Setelah  dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah <strong>sesuatu  yang telarang</strong>. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa  Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan  menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat  celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah <em>’Azza wa  Jalla</em>.</p>
<p>Perlu diketahui  bahwa mencela waktu bisa membuat kita terjerumus dalam dosa bahkan bisa membuat  kita terjerumus dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan pelakunya dari  Islam).</p>
<p>Maka  perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu  adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama  saja dengan mencela waktu dan ini adalah <strong>sesuatu yang terlarang</strong>. Mencela  waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah  dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan  ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang  ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa  malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada malaikat yang akan mengawasi  tindak-tanduk kita.</p>
<p class="arab">وَلَقَدْ  خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ  أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ  عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)</p>
<p>”<em>Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan  mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para malaikat Kami lebih dekat  kepadanya daripada urat lehernya,(yaitu) ketika  dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan  dan yang lain duduk di sebelah kiri.” </em>(QS. Qaaf [50] : 16-17)</p>
<p>***<br>
Artikel muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 