
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1232566444&amp;color=d5265f&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<h2><strong>Memelihara Ular</strong></h2>
<p><em>Apa hukum memelihara ular?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Ular termasuk binatang yang berbahaya, bahkan mematikan. Karena itulah, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan kita untuk membunuhnya ketika kita ketemu ular dan memungkinkan untuk dibunuh.</p>
<p>Dari A’isyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab">خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ : الْحَيَّةُ ، وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ ، وَالْفَأْرَةُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ ، وَالْحُدَيَّا</p>
<p><em>”Lima binatang pengganggu yang boleh dibunuh di tanah halal maupun tanah haram: Ular, gagak abqa’, tikus, anjing galak, dan elang.</em> (HR. Muslim 1198).</p>
<p>Makna Hadis:</p>
<p>Tanah halal: daerah di luar wilayah tanah haram</p>
<p>Tanah haram: daerah di Mekah atau Madinah yang memiliki hukum khusus, diantaranya tidak boleh memburu binatang liar di sana.</p>
<p>Gagak Abqa’: Sejenis burung gagak yang bulu punggung dan perutnya berwarna putih.</p>
<p>Kemudian dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkhutbah di atas mimbar,</p>
<p class="arab">اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ</p>
<p><em>”Bunuhlah ular-ular.”</em></p>
<p>Komentar Ibnu Umar,</p>
<p class="arab">فَلَبِثْتُ لَا أَتْرُكُ حَيَّةً أَرَاهَا إِلَّا قَتَلْتُهَا</p>
<p><em>“Setiap kali saya ketemu ular, tidak saya biarkan dan saya bunuh.”</em> (HR. Bukhari 3299 dan Muslim 3233).</p>
<p>Kemudian, dalam hadis dari Abu Hurairah<em> radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan,</p>
<p class="arab">أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَتْلِ الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ : الْحَيَّةُ ، وَالْعَقْرَبُ</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk membunuh dua binatang hitam ketika shalat: ular dan kala. (HR. Turmudzi 390 dengan derajat shahih).</p>
<p>Kita simak semua hadis di atas, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk membunuh ular. Dan tentu saja, perintah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah perintah Allah. Karena itu, mentaati beliau, sejatinya adalah mentaati Allah,</p>
<p class="arab">مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ</p>
<p><em>”Siapa yang mentaati Rasul, berarti dia mentaati Allah.”</em> (QS. An-Nisa: 80).</p>
<p>Jika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk membunuh ular, bagaimana mungkin seorang muslim justru malah merawatnya. Karena itulah, memahami hadis di atas, para ulama menegaskan haramnya memelihara binatang yang disyariatkan untuk dibunuh.</p>
<p>Az-Zamakhsari – ulama Syafiiyah – (w. 794) mengatakan,</p>
<p class="arab">يَحْرُمُ عَلَى الْمُكَلَّفِ اقْتِنَاءُ أُمُورٍ: مِنْهَا: الْكَلْبُ لِمَنْ لَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، وَكَذَلِكَ ” بَقِيَّةُ ” الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ، الْحَدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْغُرَابُ الْأَبْقَعُ وَالْحَيَّةُ</p>
<p>Haram bagi mukallaf (orang yang mendapat beban syariat) untuk memelihara beberapa binatang, diantaranya: anjing bagi yang tidak membutuhkannya, demikian pula lima binatang pengganggu lainnya, seperti elang, kala, tikus, gagak abqa’, dan ular. (al-Mantsur fi al-Qawaid, 3/80).</p>
<p>Demikian pula dinukil oleh Ibnu Hajar al-Haitami – ulama syafiiyah – (w. 974 H.) dalam Tuhfah al-Muhtaj,</p>
<p class="arab">وَيَحْرُمُ حَبْسُ شَيْءٍ مِنْ الْفَوَاسِقِ الْخَمْسِ عَلَى وَجْهِ الِاقْتِنَاءِ</p>
<p>“Diharamkan mengurung lima binatang pengganggu untuk dirawat.” (Tuhfatul Muhtaj fi Syarh Minhaj, 9/377)</p>
<p>Dalam Hasyiyah al-Qalyubi dan Umairah – ulama madzhab Syafii – dinyatakan,</p>
<p class="arab">ويحرم ما ندب قتله لأن الأمر بقتله أسقط احترامه، ومنع اقتناءه..</p>
<p>“Binatang yang dianjurkan dibunuh, haram untuk dipelihara. Karena adanya perintah untuk membunuhnya, menggugurkan kemuliaannya, dan dilarang memeliharanya…” (Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairah, 16/157).</p>
<p>Kemudian, Ibnu Qudamah – ulama hambali – (w. 620 H.) menetapkan sebuah kaidah,</p>
<p class="arab">وما وجب قتله حرم اقتناؤه</p>
<p>”Binatang yang wajib dibunuh, haram untuk dipelihara.” (al-Mughni, 9/373)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi keluarga dan rubrik kesehatan" href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow noopener noreferrer">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="dofollow noopener noreferrer">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<blockquote>
<p>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</p>
<ul>
<li>SPONSOR hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>DONASI hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial</li>
<li>Keterangan lebih lengkap: <a title="peluang menjadi sponsor dan muhsinin" href="https://konsultasisyariah.com/peluang-meraih-dua-keuntungan-berlipat-ganda" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur</a>
</li>
</ul>
</blockquote>
 