
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang atau sekumpulan orang masuk masjid, dan mereka mendapati imam sudah selesai shalat jamaah, atau sudah tasyahhud akhir, maka boleh bagi orang tersebut untuk membuat jamaah ke dua. Yaitu, shalat jamaah bersama-sama dengan orang yang juga datang terlambat. Hal ini tidak masalah sama sekali, </span><i><span style="font-weight: 400;">insyaa Allah. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, tidak sepatutnya mereka yang datang terlambat tersebut membuat jamaah baru jika imam masih dalam posisi duduk tasyahhud akhir, sampai imam benar-benar selesai shalat (telah salam). Hal ini agar tidak ada dua jamah sekaligus di satu masjid yang sama. Baik jamaah ke dua tersebut berada di satu sudut yang sama dengan imam pertama, ataukah di sudut masjid yang lain (selama masih di satu masjid). </span></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalil-dalil yang menunjukkan bolehnya membuat jamaah ke dua di masjid</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulan di atas diambil dari perenungan terhadap dalil-dalil syariat yang menunjukkan motivasi agar umat itu bersatu dan tidak bercerai berai. Dari sini, kita ambil faidah bahwa mendirikan jamaah ke dua itu lebih utama dibandingkan mereka shalat sendiri-sendiri dan berpencar-pencar ketika shalat di dalam masjid. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat ‘Ubay bin Ka’ab </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya shalat seseorang yang berjamaah dengan satu orang itu lebih baik daripada shalat sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang jamaah itu lebih baik daripada shalat bersama seorang jamaah. Semakin banyak jamaah, maka semakin dicintai oleh Allah Ta’ala.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 554, An-Nasa’i no. 843, hadits hasan)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini adalah dalil umum yang menunjukkan bahwa orang yang shalat bersama satu orang lain itu lebih baik daripada shalat sendirian. Maka termasuk dalam cakupan makna umum dari hadits tersebut adalah mendirikan jamaah ke dua bagi mereka yang terlambat bersama imam tetap di masjid (imam rawatib).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seseorang yang shalat sendirian (karena datang terlambat). Lalu beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adakah seseorang yang mau bersedekah kepada orang ini dengan mengerjakan shalat bersamanya?” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 574, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Khuzaimah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">membawakan hadits ini di bawah judul bab,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>بَابُ الرُّخْصَةِ فِي الصَّلَاةِ جَمَاعَةً فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي قَدْ جُمِعَ فِيهِ ضِدَّ قَوْلِ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُمْ يُصَلُّونَ فُرَادَى إِذَا صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ جَمَاعَةٌ مَرَّةً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bab keringanan membuat shalat jama’ah (ke dua) di masjid yang sudah dilaksanakan shalat berjama’ah, berlawanan dengan pendapat sebagian orang yang menyangka bahwasannya mereka shalat sendirian ketika shalat di masjid yang sudah mendirikan shalat jama’ah.” </span><b>(</b><b><i>Shahih Ibnu Khuzaimah, </i></b><b>3: 57)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-Baghawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa boleh bagi orang yang telah shalat (wajib) berjamaah untuk shalat lagi ke dua kalinya bersama jamaah yang lain. Dan (hadits ini juga menunjukkan) bolehnya mendirikan shalat jamaah di satu masjid sebanyak dua kali. Ini adalah pendapat sejumlah shahabat dan tabi’in.” </span><b>(</b><b><i>Syarhus Sunnah, </i></b><b>3: 438)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari sahabat Ibnu ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalat jamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” </span><b>(HR. Bukhari no. 619 dan Muslim no. 650)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits tersebut tegas menunjukkan keutamaan shalat berjamaah dibandingkan shalat sendirian. Dan keutamaan tersebut tidak memiliki syarat tambahan, misalnya bahwa selama shalat jamaah tersebut bukan shalat jamaah ke dua di satu masjid. Akan tetapi, keutamaan tersebut bersifat mutlak. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43223-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""><strong>Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah</strong></a></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Bagaimanakah praktek ulama salaf terdahulu</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula, inilah yang dipraktikkan oleh para salaf terdahulu. Mereka tentu saja adalah orang-orang yang paling paham terhadap dalil. Kita dapati mereka mendirikan shalat jamaah ke dua di masjid ketika shalat jamaah di masjid tersebut telah selesai dan mereka datang terlambat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau masuk masjid dan shalat jamaah telah usai. Lalu beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">pun mendirikan shalat jamaah bersama ‘Alqamah, Masruq, dan Al-Aswad. </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian pula sahabat Anas bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika beliau masuk masjid dan shalat jamaah telah usai, beliau pun mengumandangkan adzan dan iqamat, lalu shalat berjamaah. </span><b>[2]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu Juraij, aku bertanya kepada Atha’, “Sekelompok orang masuk masjid di Mekah setelah shalat jamaah usai, baik ketika siang ataupun malam hari. Apakah salah seorang dari mereka menjadi imam (yaitu, boelhkah shalat jamaah?)”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Atha’ menjawab, “Iya (boleh). Apa masalahnya?” </span><b>[3]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/30240-perhatikan-aroma-tubuh-sebelum-pergi-shalat-berjamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Perhatikan Aroma Tubuh Sebelum Pergi Shalat Berjamaah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Benarkah sejumlah ulama salaf membenci adanya shalat jamaah ke dua di satu masjid?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Terkait dengan pendapat sebagian ulama salaf yang membenci adanya jama’ah ke dua dan jama’ah yang datang tersebut harus shalat sendirian, maka pendapat ini dimaknai jika hal itu dijadikan sebagai kebiasaan yang bersifat terus-menerus. Padahal, masjid tersebut sudah memiliki imam tetap. Model semacam inilah yang tidak diperbolehkan, karena hal ini akan menyebabkan rusaknya persatuan kaum muslimin di masjid tersebut. Sebagaimana hal itu juga akan menyebabkan perselisihan di hati kaum muslimin dan juga sikap meremehkan shalat berjama’ah bersama imam tetap. Bisa jadi sebagian jama’ah membenci seseorang sebagai imam shalat tetap, kemudian sengaja menunda dan meminta orang lain sebagai imam jama’ah shalat. Maka hal ini pun akan menyebabkan sedikitnya jumlah jama’ah yang mendirikan shalat bersama imam tetap. Inilah bentuk mendirikan jama’ah ke dua yang terlarang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tidak diragukan lagi bahwa mendirikan shalat jama’ah ke dua dalam bentuk yang terus-menerus tersebut tidaklah terjadi di zaman sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">dan juga di masa para tabi’in </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah. </span></i><span style="font-weight: 400;">Perbuatan semacam itu baru terjadi di masa-masa setelahnya. Sehingga hal itu dinilai sebagai perbuatan bid’ah, sebagaimana ditegaskan oleh sebagian ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah. </span></i><b>[4]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan tentu saja, didirikannya jama’ah ke dua dewasa ini bukan karena ada niat dan maksud untuk memecah belah persatuan kaum muslimin atau karena sengaja ingin terlambat dari shalat jama’ah bersama imam tetap. Yang kita saksikan, kasus-kasus adanya jama’ah ke dua itu adalah di masjid-masjid pinggir jalan besar yang dilalui banyak musafir atau di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Di masjid-masjid tersebut, mungkin saja tidak ada muadzin atau imam tetap. Sehingga jama’ah yang datang secara bergelombang, mereka akan mendirikan shalat jama’ah sesuai dengan kedatangannya ke masjid. Oleh karena itu, kalau kita berpegang pada pendapat yang menyatakan bolehnya jama’ah ke dua dengan bentuk-bentuk yang tadi disebutkan, tentu diperbolehkan. Apalagi, setiap kita dimotivasi untuk shalat secara berjama’ah. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أما إذا لم يكن له امام راتب فلا كراهة في الجماعة الثانية والثالثة وأكثر بالاجماع</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika di suatu masjid itu tidak memiliki imam tetap, maka tidaklah makruh mendirikan jama’ah ke dua, ke tiga, dan seterusnya. Hal ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama.” </span><b>(</b><b><i>Al-Majmu’, </i></b><b>4: 222)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/19710-berusaha-tidak-tertinggal-takbiratul-ihram-shalat-berjamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat Berjamaah</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/6978-adab-shalat-berjamaah-di-masjid.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Adab Shalat Berjamaah di Masjid</strong></span></a></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 10 Jumadil akhir 1441/ 4 Februari 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2: 323). Di kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Bulughul Amaani </span></i><span style="font-weight: 400;">(5: 344) disebutkan, “Sanadnya shahih.”</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Sanadnya shahih mauquf.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Taghlii At-Ta’liiq, </span></i><span style="font-weight: 400;">2: 277) Juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2: 321) dan ‘Abdur Razaq (2: 291).</span></p>
<p><b>[3] </b><i><span style="font-weight: 400;">Al-Muhalla, </span></i><span style="font-weight: 400;">4: 237-238; karya Ibnu Hazm </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah. </span></i></p>
<p><b>[4] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Al-Fataawa, </span></i><span style="font-weight: 400;">23: 258.</span></p>
<p><b>[5] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahkaam Khudhuuril Masaajid </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 186-191 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). Kutipan-kutipan dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.</span></p>
 