
<p><strong>Perrtanyaan:</strong></p>
<p>Pak Ustadz, apa hukum dan dalilnya membaca qur’an tanpa suara, sebab takut membangunkan istri yang sedang tidur di malam hari?</p>
<p style="text-align: left;"><em>Tri Gangga<br>
Alamat: Jakarta<br>
Email: trigaxxxx@gmail.com</em></p>
<p style="text-align: left;"><span id="more-1206"> </span></p>
<p><strong>Al Akh Yulian Purnama menjawab:</strong></p>
<p>Jika yang dimaksud yaitu membaca Al Qur’an tanpa suara dan tanpa gerak bibir, yang demikian ini tidak dinamakan membaca Al Qur’an. Pertanyaan sejenis pernah ditanyakan kepada Syaikh Ibnu Baz <em>rahimahullah</em>, beliau menjawab:</p>
<p>“Berdzikir itu harus menggerakan lisan dan harus bersuara, minimal didengar oleh diri sendiri. Orang yang membaca di dalam hati (dalam bahasa arab) tidak dikatakan <em>Qaari</em>. Orang yang membaca tidak dapat dikatakan sedang berdzikir atau sedang membaca Al Quran kecuali dengan lisan. Minimal didengar dirinya sendiri. Kecuali jika ia bisu, maka ini ditoleransi” (Kaset <em>Nurun ‘alad Darb</em>, <a href="http://www.ibnbaz.org.sa/mat/10456">http://www.ibnbaz.org.sa/mat/10456</a>)</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> juga pernah ditanya hal serupa, beliau menjawab:</p>
<p>“<em>Qira’ah</em> itu harus dengan lisan. Jika seseorang membaca bacaan-bacaan shalat dengan hati saja, ini tidak dibolehkan. Demikian juga bacaan-bacaan yang lain, tidak boleh hanya dengan hati. Namun harus menggerakan lisan dan bibirnya, barulah disebut sebagai <em>aqwal </em>(perkataan). Dan tidak dapat dikatakan<em> aqwal,</em> jika tanpa lisan dan bergeraknya bibir” (<em>Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin</em>, 13/156)</p>
<p>Demikian penjelasan para ulama. Ringkasnya, orang yang membaca Al Qur’an dalam hati tidak dikatakan sedang membaca Al Qur’an dan tidak diganjar pahala membaca Al Qur’an. Namun praktek ini disebut sebagai<em> tadabbur</em> atau <em>tafakkur</em> Al Qur’an. Yaitu mendalami dan merenungkan isi Al Qur’an. <em>Tadabbur</em> atau<em> tafakkur</em> Al Qur’an ini termasuk dzikir hati. Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin: “Dzikir bisa dengan hati, dengan lisan dan dengan anggota badan…Contoh dizikir hati yaitu merenungkan ayat-ayat Al Qur’an, rasa cinta kepada Allah, mengagungkan Allah, berserah diri kepada Allah, rasa takut kepada Allah, tawakkal kepada Allah, dan amalan hati yang lainnya” (<em>Tafsir Al Baqarah</em>, 2/167-168)</p>
<p>Solusinya, hendaknya anda membaca Al Qur’an dengan <em>sirr</em> (lirih). Sebagaimana sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة، والمسر بالقرآن كالمسر بالصدقة</p>
<p>“<em>Membaca Al Qur’an dengan suara keras, seperti bersedekah tanpa disembunyikan. Membaca Al Qur’an dengan lirih, seperti bersedekah dengan sembunyi-sembunyi</em>” (HR. Tirmidzi no.2919, Abu Daud no.1333, Al Baihaqi, 3/13. Di-<em>shahih</em>-kan oleh Al Albani di <em>Shahih Sunan At Tirmidzi</em>)</p>
<p>Memang terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang mana yang lebih utama, membaca secara<em> sirr</em> ataukah secara <em>jahr</em>? Namun pada kondisi anda, jika khawatir membaca Al Qur’an dapat mengganggu orang lain, membaca secara <em>sirr</em> lebih utama. Berdasarkan hadits lain:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة</p>
<p>“<em>Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,</em>” (HR. Abu Daud no.1332, Ahmad, 430, di-<em>shahih</em>-kan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di<em> Nata-ijul Afkar</em>, 2/16).</p>
<p><em>Wallahu’alam</em>.</p>
<p>—</p>
<p>Penulis: Yulian Purnama<br>
Artikel <a href="http://ustadzkholid.com/">UstadzKholid.Com</a></p>
 