
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53500-hukum-mandi-jumat-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Hukum Mandi Jum’at (Bag. 1)</a></span></strong></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Sengaja Meninggalkan Mandi Jum’at Tanpa Udzur, Shalat Jum’atnya Tidak Sah?</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika status mandi Jum’at itu wajib, lalu bagaimana seandainya seseorang meninggalkan mandi Jum’at secara sengaja tanpa ‘udzur, kemudian shalat Jum’at, apakah shalat Jum’atnya batal?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya tidak batal, karena mandi Jum’at itu bukan karena sebab hadats, berbeda dengan mandi janabah, yang disebabkan karena hadats besar berupa junub. Oleh karena itu, jika seseorang mendatangi shalat Jum’at, padahal dia baru junub dan belum mandi, maka shalat Jum’atnya tidak sah. Dua hal ini harus bisa dibedakan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, harus dipahami bahwa mandi Jum’at ini adalah kewajiban di luar shalat. Berbeda halnya jika kewajiban itu ada di dalam shalat itu sendiri. Contoh, adzan adalah kewajiban, namun di luar shalat. Seandainya seseorang shalat tanpa adzan, maka tidak batal shalatnya. Meskipun dia sengaja meninggalkan adzan. Berbeda halnya jika kewajiban itu di dalam shalat, maka shalatnya batal, jika kewajiban itu ditinggalkan dengan senagaja, misalnya kewajiban tasyahhud awwal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu, jika seseorang berniat wudhu ketika mandi tersebut, apakah hal itu sudah mencukupi sehingga tidak perlu wudhu lagi?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawabannya tidak mencukupi, karena sekali lagi, mandi Jum’at itu bukan disebabkan karena hadats. Adapun wudhu disebabkan oleh hadats. Adapun jika seseorang itu mandi junub, maka hal itu sudah mencukupi, tidak perlu wudhu lagi. Adapun mandi Jum’at adalah mandi yang disebabkan karena memuliakan hari Jum’at, sehingga tidak bisa menggantikan wudhu. Sehingga setelah mandi Jum’at, seseorang harus berwudhu.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23375-adab-mendengar-khutbah-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Adab Ketika Mendengar Khutbah Jumat</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mandi Jum’at untuk Wanita</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seorang wanita hendak mendatangi shalat Jum’at di masjid, dia pun terkena kewajiban mandi Jum’at. Hal ini berdasarkan cakupan makna umum dari sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ الجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang menghadiri shalat Jum’at di antara kalian, maka mandilah.” </span><b>(HR. Bukhari no. 894 dan Muslim no. 844)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika wanita shalat di rumahnya, maka tidak wajib mandi Jum’at. Hal ini karena jika dikerjakan di rumah, berarti yang dikerjakan adalah shalat dzuhur. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28217-agar-khutbah-jumat-bermanfaat-dan-berkesan-bagi-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Agar Khutbah Jumat Bermanfaat Dan Berkesan Bagi Jamaah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Kapan Waktu Mandi Jum’at?</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">ditanya, “Berkaitan dengan sebagian orang yang tinggal di pelosok, mereka mendatangi shalat Jum’at dengan melakukan perjalanan sepanjang 50 kilometer, sehingga bisa mendatangi shalat Jum’at. Sebagian mereka, dengan menimbang jauhnya jarak, mereka tidak mandi. Sebagian lagi mandi di malam Jum’at. Apakah hal ini sah?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mandi itu harus dilakukan pada hari Jum’at (maksudnya, setelah terbit matahari di hari Jum’at). Akan tetapi, jika seseorang mandi setelah terbit fajar di hari Jum’at, maka ada dua kemungkinan yang bisa kita katakan. Pertama, mandinya sah, karena “hari” itu mencakup sejak terbit fajar. Akan tetapi, yang lebih hati-hati adalah tidak mandi Jum’at kecuali setelah terbit matahari. Hal ini karena waktu di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari adalah waktu untuk shalat subuh. Sehingga yang lebih utama adalah mandi setelah terbit matahari.” </span><b>(</b><b><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></b><b>1: 337) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Yang ebih afdhal adalah mandi untuk shalat Jum’at ketika hendak berangkat shalat Jum’at, karena ini lebih memungkinkan untuk tercapainya maksud dari mandi Jum’at. Lebih-lebih jika dikhawatirkan akan tertimpa sesuatu yang bisa menghilangkan kebersihan badan (setelah mandi).” </span><b>(</b><b><i>Ahkaam Khudhuuril Masaajid, </i></b><b>hal. 237)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian penjelasan berkaitan dengan hukum mandi Jum’at, semoga bisa diamalkan oleh kaum muslimin. </span><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong></p>
<div class="post-title">
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/28665-hukum-shalat-jumat-dua-gelombang.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Shalat Jumat Dua Gelombang</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29913-agar-tidak-tertidur-ketika-khutbah-jumat.html" data-darkreader-inline-color="">Agar Tidak Tertidur Ketika Khutbah Jumat</a></strong></li>
</ul>
</div>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 7 Shafar 1441/6 Oktober 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini sebagiannya kami sarikan dari kitab </span><b><i>Syarh ‘Umdatul Ahkam, </i></b><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">jilid 1 halaman 330-337 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437 H).</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
 