
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Apakah larangan <em>isba</em>l bisa tidak berlaku apabila ada udzur misalnya ada cacat permanen pada kaki (bekas koreng)?<br>
<!--more--></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Sepertinya yang Anda maksudkan adalah larangan<em> isbal</em> apakah dapat dikecualikan pada orang yang memiliki cacat (bekas koreng) permanen?</p>
<p><em>Isbal </em>adalah menurunkan pakaian hingga menutup mata kaki. <em>Isbal</em> dilarang syariat bagi pria yang memakai sarung, baju dan celana.<em> Isbal</em> termasuk dosa besar, baik dilakukan dengan kesombongan maupun tanpa rasa sombong. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebutkan hukum kedua keadaan ini dalam sabda beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الإِوَارِ فَفِي النَارِ</p>
<p>“<em>Kain sarung yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka</em>.” (HR. an-Nasa’i, no. 5235).</p>
<p>dan sabda beliau,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهَُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada di hari kiamat.</em>” (HR. al-Bukhari, no. 3392) dan masih banyak lagi riwayat lain yang menunjukkan larangan <em>isbal</em> dalam kedua keadaan tersebut.</p>
<p>Keumuman larangan ini tidak dapat dikalahkan hanya dengan alasan cacat permanen seperti bekas luka. Karena menutupi bekas luka tersebut bukanlah perkara darurat yang dapat mengubah hukum haram menjadi boleh.</p>
<p>Kesimpulannya, alasan di atas tidak menggugurkan larangan <em>isbal</em>. <em>Wallahu A’lam</em>.</p>
<p>Sumber: Majalah As-Sunnah No. 12/Tahun XIII/Rabiul Awwal 1431 H/Maret 2010 M<br>
Dipublikasikan oleh www.KonsultasiSyariah.com</p>
 