
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50988-hukum-fiqh-seputar-shalat-tahiyyatul-masjid-bag-1.html" data-darkreader-inline-color=""> Hukum Fiqh Seputar Shalat Tahiyyatul Masjid (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Melaksanakan shalat tahiyyatul masjid di waktu larangan</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama berbeda pendapat tentang bagaimanakah status hukum melaksanakan shalat tahiyyatul masjid di waktu terlarangnya shalat. Misalnya, seseorang masuk masjid setelah shalat subuh atau setelah shalat ashar. Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini.</span></p>
<p><b>Pertama, </b><span style="font-weight: 400;">tetap disyariatkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid di waktu terlarang. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’iyyah, salah satu riwayat dalam madzhab Hanbali, dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qayyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumallah.</span></i></p>
<p><b>Ke dua, </b><span style="font-weight: 400;">tidak disyariatkan melaksanakannya di waktu terlarangnya shalat. Inilah yang dipilih oleh madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan salah satu riwayat dalam madzhab Hanbali.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebab perbedaan pendapat tersebut adalah karena pertentangan antara dua makna umum yang terdapat dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Qatadah As-Sulami </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ المَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka shalatlah dua raka’at sebelum duduk.” </span><b>(HR. Bukhari no. 444 dan Muslim no. 714)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits di atas, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">memerintahkan kita untuk melaksanakan shalat tahiyyatul masjid setiap kali memasuki masjid, tanpa ada rincian. Sehingga dipahami secara umum, yaitu baik memasuki masjid di waktu terlarangnya shalat, ataukah tidak.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/12604-soal-249-shalat-malam-karena-ujian.html" data-darkreader-inline-color="">Soal-249: Shalat Malam Karena Ada Ujian Sekolah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Makna umum dalam hadits di atas, tampaknya bertentangan dengan hadits Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yangd diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَا صَلَاةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada shalat setelah subuh hingga matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah ‘ashar hingga matahari menghilang.” </span><b>(HR. Bukhari no. 586 dan Muslim no. 827)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ke dua di atas juga mengandung makna umum, yaitu larangan untuk melaksanakan shalat apa saja, termasuk di dalamnya yaitu shalat tahiyyatul masjid, di dua waktu terlarangnya shalat tersebut (setelah subuh dan setelah ‘ashar).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama yang berpendapat bahwa shalat tahiyyatul masjid tetap disyariatkan, mereka mengatakan bahwa shalat tahiyyatul masjid itu dikecualikan dari makna umum larangan hadits ke dua di atas. Oleh karena itu, jika seseorang masuk masjid setelah subuh atau ‘ashar, tetap disyariatkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/111-tata-cara-shalat-malam-dan-witir-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html" data-darkreader-inline-color="">Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat pertama di atas didukung oleh dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa hadits ke dua di atas juga banyak mendapatkan pengecualian. </span></p>
<p><b>Pengecualian pertama,</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu melaksanakan shalat qadha’ di waktu terlarang. Misalnya, seseorang lupa shalat dzuhur, dan baru ingat setelah ‘ashar. Maka tetap disyariatkan untuk meng-qadha’ shalat dzuhur yang terlewat tersebut setelah shalat ‘ashar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ {وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي}</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa lupa suatu shalat, maka hendaklah dia melaksanakannya ketika dia ingat. Karena tidak ada tebusannya kecuali itu. Allah berfirman, “(Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku).” (QS. Thaahaa: 14)” </span><b>(HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684)</b></p>
<p><b>Pengecualian ke dua,</b><span style="font-weight: 400;"> yaitu mengulangi shalat jama’ah di waktu terlarang. Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menceritakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Aku pernah berhaji bersama Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">lalu aku shalat subuh bersamanya di masjid Al-Khaif. Ketika beliau selesai melakasanakan shalat subuh dan berpaling, tiba-tiba ada dua orang laki-laki dari kaum lain yang tidak ikut shalat berjamaah bersama beliau. Maka beliau pun bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">عَلَيَّ بِهِمَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bawalah dua orang itu kemari!”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46296-manakah-yang-lebih-utama-wanita-shalat-di-rumah-atau-di-masjid-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Manakah yang Lebih Utama, Wanita Shalat di Rumah atau di Masjid?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka mereka pun dibawa ke hadapan Nabi sedang urat mereka bergetar. Beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami telah shalat (subuh) di tempat kami.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَلَا تَفْعَلَا، إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ، فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Janganlah kalian lakukan. Jika kalian telah melaksanakannya di tempat kalian, lalu kalian datang ke masjid yang melaksanakan shalat berjamaah, maka shalatlah bersama mereka, karena hal itu akan menjadi pahala sunnah bagi kalian berdua.” </span><b>(HR. Abu Dawud no. 575, Tirmidzi no. 219, dan lain-lain, hadits shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini tegas menunjukkan bolehnya mengulang jamaah bagi orang-orang yang datang ke masjid setelah mendirikan shalat subuh dan mendapati di masjid tersebut sedang dilaksanakan shalat jamaah subuh. Padahal, pada asalnya, waktu tersebut adalah waktu terlarangnya shalat untuk orang tersebut (karena sebelumnya sudah shalat subuh).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44643-jangan-sembarang-maju-menjadi-imam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Jangan Sembarang Maju Menjadi Imam Shalat</a></strong></p>
<p><b>Pengecualian ke tiga, </b><span style="font-weight: 400;">yaitu shalat dua raka’at setelah thawaf. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jubair bin Muth’im </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian mencegah seorang pun yang thawaf di ka’bah ini, dan siapa pun yang shalat kapan pun waktunya, baik waktu siang dan malam yang dia kehendaki.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 868, An-Nasa’i no. 585, hadits shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits-hadits di atas memberikan pengecualian bagi hadits larangan shalat di waktu-waktu tertentu, sebagaimana dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sedangkan perintah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk shalat tahiyyatul masjid bagi siapa pun yang masuk masjid di waktu kapan pun, tidak mendapatkan pengecualian. Dan kaidah dalam ilmu ushul fiqh pun mengatakan bahwa hadits (dalil) umum yang tidak mendapatkan pengecualian itu lebih didahulukan daripada hadits atau dalil umum yang telah mendapatkan pengecualian. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga larangan shalat di waktu-waktu tertentu tersebut dimaknai sebagai larangan untuk mendirikan shalat sunnah mutlak. Yang dimaksud dengan shalat sunnah mutlak adalah seseorang melaksanakan shalat sunnah tanpa sebab tertentu, semata-mata ingin shalat. Adapun shalat sunnah karena sebab tertentu (disebut shalat </span><i><span style="font-weight: 400;">dzawaatul asbaab</span></i><span style="font-weight: 400;">), seperti shalat tahiyyatul masjid (disebabkan karena masuk masjid), shalat sunnah thawaf (disebabkan karena selesai thawaf), maka tidak termasuk dalam larangan di atas.</span></p>
<p><b>Sebagai kesimpulan, </b><span style="font-weight: 400;">pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat pertama, yaitu tetap disyariatkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid di waktu terlarang. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam. </span></i><b>[1]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44588-tata-cara-sujud-dalam-shalat.html" data-darkreader-inline-color="">Tata Cara Sujud Dalam Shalat</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43231-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-5.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 23 Dzulqa’dah 1440/20 Juli 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahkaam Khudhuuril Masaajid </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 105-108 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA).</span></p>
 