
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/522168765&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2>Rujuk dengan Melakukan Hubungan Badan</h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br>
Assalamu’alaikum Pak Ustad</p>
<p>Saya mau bertanya apakah dalam <strong>rujuk</strong> itu <strong>hubungan intim</strong> itu dilakukan setelah talak 1, tetapi si istri menyangkal bahwa itu bukan rujuk menurut Pak Ustad apa yang harus dilakukan untuk seorang suami?</p>
<p>Dari: Bambang<br>
<!--more--><br>
<strong>Jawaban:</strong><br>
Wa’alaikumussalam</p>
<p>Sayyid Sabiq dalam karya manumentalnya, Fiqh Sunnah mengatakan:</p>
<p class="arab">وتصح المراجعة بالقول. مثل أن يقول: راجعتك، وبالفعل، مثل الجماع، ودواعيه، مثل القبلة، والمباشرة بشهوة.</p>
<p>“<strong>Rujuk</strong> bisa dilakukan dengan ucapan, seperti, seorang suami mengatakan kepada istrinya: ‘Saya rujuk kepadamu.’ Bisa juga dengan perbuatan, misalnya dengan hubungan badan, atau pengantar hubungan badan, seperti mencium atau mencumbu dengan syahwat.”</p>
<p>Selanjutnya Sayyid Sabiq menyebutkan pendapat ulama lain, diantaranya Imam As-Syafi’i,</p>
<p class="arab">يرى الشافعي أن المراجعة لا تكون إلا بالقول الصريح للقادر عليه، ولا تصح بالوطء ودواعيه من القبلة والمباشرة بشهوة. وحجة الشافعي، أن الطلاق يزيل النكاح.</p>
<p>Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa rujuk hanya bisa dilakukan dengan ucapan yang tegas, untuk orang yang mampu melakukannya (baca: tidak bisu). Dan rujuk tidak sah hanya dengan hubungan badan, atau pemicu hubungan badan, seperti mencium atau mencumbu. Alasan Imam Syafi’i, bahwa talak itu menghilangkan nikah. (<em>Fiqh Sunnah</em>, 2:275 – 276)</p>
<p>Sementara Madzhab Hambali membedakan antara hubungan badan dengan pengantar hubungan badan. Untuk hubungan badan, ulama Madzhab Hambali menegaskan bahwa rujuk statusnya sah.</p>
<p>Dalam <em>Mausu’ah Fiqhiyah</em> dinyatakan:</p>
<p class="arab">تَصِحُّ الرَّجْعَةُ عِنْدَهُمْ بِالْوَطْءِ مُطْلَقًا سَوَاءٌ نَوَى الزَّوْجُ الرَّجْعَةَ أَوْ لَمْ يَنْوِهَا وَإِنْ لَمْ يُشْهِدْ عَلَى ذَلِكَ</p>
<p><strong>Rujuk</strong> sah menurut mereka (hambali) dengan hubungan badan secara mutlak. Baik suami berniat untuk rujuk atau tidak niat, meskipun tidak ada saksi dalam hal ini. (<em>Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah</em>, 22:111)</p>
<p>Alasan madzhab hambali:</p>
<p>Sesungguhnya masa iddah merupakan penantian untuk berpisah dengan istri yang ditalak, dimana ketika masa iddah selesai, maka terhalang kebolehan untuk rujuk. Karena itu, jika iddah belum selesai dan suami menggauli istrinya di masa ini, maka istri berarti kembali kepadanya. Status hukum ini sama dengan hukum <em>ila’</em> (suami bersumpah untuk tidak menggauli istri). Jika seorang suami melakukan <em>ila’</em> terhadap istrinya, kemudian dia menyetubuhi istrinya maka hilang status hukum <em>ila’</em>. Demikian pula untuk talak yang masih ada kesempatan untuk rujuk, jika suami berhubungan dengan istrinya di masa iddah maka istrinya telah kembali kepadanya. (<em>Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah</em>, 22:112)</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="rujuk" href="https://konsultasisyariah.com/hubungan-badan-untuk-rujuk" target="_blank">Konsultasi Syariah</a>)</strong></p>
 