
<p><i><span style="font-weight: 400;">Inilah hikmah ibadah puasa yang jarang kita rasakan dan kita pahami. Semoga kita dimudahkan untuk meraihnya. Amin Yaa Mujibas Saa-ilin.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita sudah mengetahui bersama bahwa <a href="https://rumaysho.com/7657-hukum-puasa-ramadhan.html">puasa Ramadhan itu diwajibkan bagi setiap muslim</a>, yang baligh, berakal, dalam kondisi sehat, bermukim, serta suci dari haidh dan nifas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu apa hikmah di balik melakukan ibadah puasa ini? Hikmahnya begitu banyak. Sebagian dari kalam ulama mengenai hikmah tersebut, kami sarikan berikut ini.</span></p>

<h2><b>Menggapai Derajat Takwa</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, </span></i><i><span style="font-weight: 400;">diwajibkan atas kamu berpuasa</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Pertama,</span></i><span style="font-weight: 400;"> orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka </span><i><span style="font-weight: 400;">taqorrub</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Kedua, </span></i><span style="font-weight: 400;">orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ketiga,</span></i><span style="font-weight: 400;"> ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.</span></p>
<h2><b>Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits </span><i><span style="font-weight: 400;">qudsi, </span></i><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku</span></i><span style="font-weight: 400;">”.[2]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Pertama</span></i><span style="font-weight: 400;">, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika  berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Kedua</span></i><span style="font-weight: 400;">, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk </span><i><span style="font-weight: 400;">tafakkur</span></i><span style="font-weight: 400;"> (merenung) serta berdzikir pada Allah.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ketiga,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya  pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Keempat,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.</span></i><span style="font-weight: 400;">”[3] Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian. [4]</span></p>
<h2><b>Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi</span><i><span style="font-weight: 400;"> shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja</span></i><span style="font-weight: 400;">.” [5]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari </span><i><span style="font-weight: 400;">rasani</span></i><span style="font-weight: 400;"> orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang tidak meninggalkan </span></i><b><i>perkataan dusta</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” [6]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.</span></i><span style="font-weight: 400;">”[7] </span><i><span style="font-weight: 400;">Lagwu</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[8] Sedangkan </span><i><span style="font-weight: 400;">rofats</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[9] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[10]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikanlah pula petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rajab Al Hambali berikut, “Ketahuilah bahwa amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya boleh dilakukan ketika tidak berpuasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, -pen) </span><span style="font-weight: 400;">tidak akan sempurna</span><span style="font-weight: 400;"> hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jabir bin ‘Abdillah juga menyampaikan wejangan, “Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus jalan. Hendaknya ketika berpuasa, setiap orang berusaha pula menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat dan hal-hal yang sia-sia. Ibnu Rajab mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tingkatan puasa yang paling rendah adalah hanya meninggalkan minum dan makan saja.</span></i><span style="font-weight: 400;">”[11]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan <a href="https://rumaysho.com/554-shalat-jamaah-5-waktu-wajib-ataukah-sunnah.html">shalat 5 waktu</a>, seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.</span></i><span style="font-weight: 400;">” [12]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja</span></i><span style="font-weight: 400;">.” </span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memudahkan kita agar istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada-Nya dan menjadikan kita lebih baik setelah keluar dari bulan Ramadhan ini. Amin Yaa Mujibas Saa-ilin.</span></i></p>
<h2><b>Penutup</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[13]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[14]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[15] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan </span></i><i><span style="font-weight: 400;">barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Asy Syuraa: 20)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi</span></i><span style="font-weight: 400;">”.”[16]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan <a href="https://rumaysho.com/17533-belajar-ikhlas-dari-amalan-ramadhan.html">niat ikhlas</a> untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. </span></i><i><span style="font-weight: 400;">Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya</span></i><i><span style="font-weight: 400;">.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> [17]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun hadits yang mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">صُوْمُوْا تَصِحُّوْا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.</span></i><span style="font-weight: 400;">” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (</span><i><span style="font-weight: 400;">hadits dho’if</span></i><span style="font-weight: 400;">) menurut ulama pakar hadits.[18]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah menerima setiap amalan kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita insan yang lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya. Semoga Allah memberikan kita petunjuk, ketakwaan, sikap menjauhkan diri dari hal-hal haram dan memberikan kita kecukupan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selesai disusun di pagi hari yang penuh berkah, 11 Ramadhan 1430 H, Pangukan, Sleman</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Cuplikan dari </span><b>Buku Panduan Ramadhan</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/3521-hikmah-dan-waktu-penunaian-zakat-fitrah.html">Hikmah dan Waktu Penunaian Zakat Fitrah</a></span></strong></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/7789-hikmah-di-balik-puasa-syaban.html"><strong>Hikmah di Balik Puasa Syaban</strong></a></span></li>
</ul>
<p> </p>
<p><span style="font-weight: 400;">[1]  Periksa </span><i><span style="font-weight: 400;">Taisir Karimir Rahman, </span></i><span style="font-weight: 400;">‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 86</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1420 H</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[2]  HR. Muslim no. 1151</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[3]  HR. Bukhari no. 7171 dan Muslim no. 2174</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[4]  Disarikan dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Latho’if Al Ma’arif</span></i><span style="font-weight: 400;">, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 276-277, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, 1428 H.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[5] HR. Ath Thobroniy dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Kabir</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih At Targib wa At Tarhib</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih ligoirihi</span></i><span style="font-weight: 400;"> –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[6]  HR. Bukhari no. 1903</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[7]  HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih At Targib wa At Tarhib</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[8]  Perkataan Al Akhfasy</span><i><span style="font-weight: 400;">, Fathul Bari</span></i><span style="font-weight: 400;">, 3/346, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[9]  Perkataan Al Azhari, </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 5/13, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[10]  </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/151</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[11]  </span><i><span style="font-weight: 400;">Latho’if Al Ma’arif</span></i><span style="font-weight: 400;">, 277</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[12] HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shohihul Jami’</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 1228 mengatakan hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[13]  </span><i><span style="font-weight: 400;">Latho-if Al Ma’arif</span></i><span style="font-weight: 400;">, 369</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[14]  Lihat http://swaramuslim.net</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[15]  Periksa </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al Karim Surat Al Baqoroh, </span></i><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, 1/317, Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, Shafar 1423 H.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[16] Periksa </span><i><span style="font-weight: 400;">Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/311, Dar Thoyibah, cetakan kedua 1420 H.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[17] HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih. </span></i><span style="font-weight: 400;">Lihat penjelasan hadits ini di </span><i><span style="font-weight: 400;">Tuhfatul Ahwadzi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 7/139</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[18] Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Takhrij Al Ihya’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (3/75) mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Awsath, Abu Nu’aim dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah (</span><i><span style="font-weight: 400;">dho’if</span></i><span style="font-weight: 400;">). Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Silsilah Al Hadits Adh Dho’ifah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (1/420) mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">dho’if </span></i><span style="font-weight: 400;">(lemah).</span></p>
 