
<h4><span style="color: #ff0000;"><b><i>‘Ibadatullah </i></b><b>adalah tujuan hidup kita</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Beribadah kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam artikel bagian pertama, adalah tujuan hidup kita. Nah, tahukah Anda apakah ibadah itu?</span></p>
<h5>
<b>Pengertian ibadah ditinjau dari jenis ibadah yang disyari’atkan oleh Allah </b><b><i>Ta’ala.</i></b>
</h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mendefinisikan ibadah dalam kitab beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-‘Ubudiyyah</span></i><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dengan mengatakan, “Ibadah adalah suatu kata yang mencakup setiap perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan, (baik) yang batin (hati), maupun yang lahir (anggota tubuh yang nampak).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian beliau memberi contoh ibadah lahir, </span><i><span style="font-weight: 400;">Maka sholat, zakat, puasa, haji, ucapan yang jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali silaturrahmi, memenuhi perjanjian, memerintahkan perkara yang ma’ruf dan melarang perkara yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, budak dan kepada binatang, demikian pula berdo’a, berdzikir dan membaca Alquran, serta selainnya adalah bentuk-bentuk ibadah (lahir).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliaupun juga memberi contoh ibadah batin,</span> <span style="font-weight: 400;">Demikian pula mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut kepada-Nya, Inabah (kembali) kepada-Nya, ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya, sabar terhadap ketetapan-Nya,  mensyukuri nikmat-Nya, ridha terhadap keputusan taqdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, takut terhadap adzab-Nya, serta selainnya dari bentuk-bentuk ibadah (batin) yang dipersembahkan kepada Allah</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah definisi ibadah dan contoh-contohnya ditinjau dari jenis ibadah yang disyari’atkan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala.</span></i></p>
<p><b>Faedah:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari definisi di atas, terdapat beberapa faedah, diantaranya:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Inti dari ibadah yang merupakan tujuan hidup kita adalah mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah. </span><span style="font-weight: 400;">Yaitu dengan mengucapkan atau melakukan sesuatu yang dicintai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i><span style="font-weight: 400;"> baik dengan hati ataupun dengan anggota tubuh yang nampak. Dengan demikian, seorang muslim dan muslimah yang sadar akan tujuan hidupnya dan sadar untuk apa ia diciptakan di muka bumi ini akan berusaha agar setiap aktifitas kesehariannya dicintai oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, karena ia ingin setiap ucapan dan perbuatannya, baik yang batin maupun lahir itu bernilai ibadah. Seorang muslim dan muslimah yang sempurna keimanannya benar-benar ingin menghamba kepada Rabbnya, dengan menjadi sosok hamba yang dicintai-Nya dalam setiap keadaannya. Inilah prinsip hidup yang berkualitas tinggi dan mampu merombak pola pikir dan gaya hidup seorang manusia.</span>
</li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Jenis ibadah yang disyari’atkan oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">itu ada empat macam, yang dua macam termasuk ibadah batin dan dua macam lainnya termasuk ibadah lahir.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah batin terdiri dari dua macam, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Qaulul Qalbi </span></i><span style="font-weight: 400;">(ucapan hati): Keyakinan dan pembenarannya.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">‘Amalul Qalbi</span></i><span style="font-weight: 400;"> (amal hati): Gerakan hati yang membuahkan amal lahiriyah dan ucapan lisan, contohnnya adalah niat, ikhlas, tawakkal, takut, cinta, dan harap.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah lahiriyah terdiri dari dua macam juga, yaitu:</span></p>
<ol>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">Qoulul lisan </span></i><span style="font-weight: 400;">(ucapan hati): ucapan Syahadatain, dll.</span>
</li>
<li>
<i><span style="font-weight: 400;">‘Amalul Jawarih</span></i><span style="font-weight: 400;"> (amal anggota tubuh yang nampak): shalat, puasa, zakat dan haji.</span>
</li>
</ol>
<ol start="3">
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Semua bentuk peribadatan yang lahir maupun yang batin haruslah dipersembahkan kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">saja, karena Allah telah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya saja dan melarang kita dari menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam peribadatan, sebagaimana firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,<br>
</span></i>
<p style="text-align: right;">وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Beribadahlah kepada Allah (saja) dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” </span></i><span style="font-weight: 400;">(An-Nisaa`:36).<br>
</span>Maka barangsiapa yang menyembah Allah saja berarti ia seorang Ahli Tauhid dan sebaliknya barangsiapa yang menyembah selain Allah, maka ia musyrik (pelaku kesyirikan) dan kafir.</p>
</li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Tauhid bisa terwujud dengan ibadah hati atau lahir yang dipersembahkan kepada Allah semata, sebagaimana syirik juga bisa terwujud dengan ibadah hati atau lahir yang dipersembahkan kepada selain Allah.</span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;"> Cukuplah seseorang dikatakan musyrik kafir jika ia mempersembahkan satu saja ibadah batin kepada selain Allah, sebagaimana cukup seseorang dikatakan musyrik kafir jika ia mempersembahkan satu saja ibadah lahir kepada selain Allah, sebagaimana Allah sebut status orang-orang yang beribadah kepada selain Allah sebagai orang-orang yang kafir dalam firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berikut ini,<br>
</span>
<p style="text-align: right;">وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan barangsiapa menyembah (beribadah kepada) tuhan yang lain di samping (beribadah kepada) Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang (perbuatannya) itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Mukminuun: 117).</span></p>
</li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 