
<p>HAYYA ‘ALAL JIHAD (ayo berjihad) itu lafazh bid’ah dalam azan. Karena lafazh azan sudah ada ketetapannya; nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah mencontohkan seperti ini.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Lafazh Azan yang Benar dan Ada Tuntunan</strong></span></h2>
<p>Ucapan azan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sahabat Abu Mahdzurah:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ</span></p>
<p>(HR. Muslim, no. 379)</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/21239-bulughul-maram-shalat-sudah-tahu-sejarah-lafaz-azan.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Sejarah Lafazh Azan</a></span></strong></span></p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Itu Bid’ah dalam Agama karena Tidak Pernah Diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Para Sahabat</strong></span></h2>
<p>Mengganti kalimat hayya ‘alash sholaah dengan hayya ‘alal jihad adalah BID’AH dalam agama. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkah seperti itu dan ketetapan lafaz azan itu sudah baku, tak bisa diubah.</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Apa itu Bid’ah?</strong></span></h2>
<p>Salah seorang ulama besar dalam madzhab Syafii, Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">وَمَا كَانَ لَهُ أَصْل يَدُلّ عَلَيْهِ الشَّرْع فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ ، فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة بِخِلَافِ اللُّغَة فَإِنَّ كُلّ شَيْء أُحْدِث عَلَى غَيْر مِثَال يُسَمَّى بِدْعَة سَوَاء كَانَ مَحْمُودًا أَوْ مَذْمُومًا</span></p>
<p>“Sesuatu yang memiliki landasan dalil dalam syari’at, maka itu bukanlah bid’ah. Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela berbeda dengan pengertian bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.” (<em>Fath Al-Bari</em>, 13:253).</p>
<p>Setiap amalan bid’ah adalah sesat dan salah jalan.</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</span></p>
<p>“<em>Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.</em>” (HR. Muslim, no. 867)</p>
<p>Imam Al-Khatthabi pernah mengingatkan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">  فيه أن الأذان شعار الإسلام.. وإذا كان الأذان بهذه المنزلة، فلا شك أن المحافظة على ألفاظه الشرعية وصيانتها عن التحريف والتبديل من المحافظة على شعائر الإسلام،</span></p>
<p>“Azan itu adalah syiar Islam. Jika azan demikian kedudukannya, tidak diragukan lagi bahwa menjaga lafazh azan sesuai syariat dan tidak mengubah atau menggantinya berarti telah menjaga syiar Islam.” (Dinukil dari <a href="https://www.islamweb.net/ar/fatwa/36609/" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Islamweb</strong></a>)</p>
<p> </p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Lafazh Azan yang Bisa Diganti</strong></span></h2>
<p>Setahu kami yang bisa digantikan adalah kalimat di tengah azan dengan kalimat SHOLLU FII RIHAALIKUM atau SHOLLU FII BUYUUTIKUM, artinya shalatlah di rumah kalian yang dikumandangkan saat hujan deras dan menyulitkan.</p>
<p>Imam Nawawi <i>rahimahullah </i>dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, ”Dalam hadits Ibnu Abbas <i>radhiyallahu ‘anhu</i>ma, diucapkan “<i>Alaa shollu fii rihalikum</i>” di tengah adzan. Dalam hadits Ibnu Umar, diucapkanlafadz ini di akhir adzan.<b> </b><strong>D</strong><b>ua cara seperti ini dibolehkan</b>, sebagaimana perkataan Imam Syafi’i –<i>rahimahullah</i>– dalam kitab<i> Al Umm</i> pada Bab Adzan, begitu juga pendapat ini diikuti oleh mayoritas ulama Syafi’iyyah.”</p>
<p>Hadits tentang masalah ini adalah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ لِمُؤَذِّنِهِ فِى يَوْمٍ مَطِيرٍ إِذَا قُلْتَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ فَلاَ تَقُلْ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ قُلْ صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ – قَالَ – فَكَأَنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا ذَاكَ فَقَالَ أَتَعْجَبُونَ مِنْ ذَا قَدْ فَعَلَ ذَا مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى إِنَّ الْجُمُعَةَ عَزْمَةٌ وَإِنِّى كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُوا فِى الطِّينِ وَالدَّحْضِ.</span></p>
<p>Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, beliau mengatakan kepada mu’adzin pada saat hujan, ”Apabila engkau mengucapkan ’<em>Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah</em>’, <strong>maka janganlah engkau ucapkan ’<em>Hayya ’alash sholaah</em>’. Akan tetapi, ucapkanlah ’<em>Sholluu fii buyutikum</em>’ [Sholatlah di rumah kalian].</strong> Lalu perawi mengatakan, ”Seakan-akan manusia mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut”. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, ”Apakah kalian merasa heran dengan hal itu. Sungguh orang yang lebih baik dariku telah melakukan seperti ini. Sesungguhnya (shalat) Jum’at adalah suatu kewajiban. Namun, aku tidak suka jika kalian merasa susah (berat) jika harus berjalan di tanah yang penuh lumpur.” Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas mengatakan, ”Orang yang lebih baik dariku telah melakukan hal ini yaitu Rasulullah <em>shallallahu ’alaihi wa sallam</em>.” (HR. Muslim, no. 699)</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: </span><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/686-tujun-hujan-meninggalkan-shalat-jamaah.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><span style="font-size: 14pt;">Lafazh Azan Ketika Hujan Deras</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p>Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.</p>
<p>—</p>
<p>Senin Siang di <a href="https://darushsholihin.com"><strong>Darush Sholihin</strong></a>, 14 Rabi’uts Tsani 1442 H, 30 November 2020</p>
<p><a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><strong>Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></strong></p>
 