
<p>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya. </p>
<p>Berikut adalah penjelasan beberapa hari yang dilarang untuk melakukan puasa sunnah dan kami akan bagi dalam beberapa posting. Semoga manfaat.</p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Pertama</strong>: Hari Idul Fithri dan Idul Adha</span></p>
<p>Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ</span></p>
<p>“<em>Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.</em>”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ.</span></p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.</em>”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Kaum muslimin telah bersepakat (berijma’) tentang haramnya berpuasa pada dua hari raya, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Kedua</strong>: Hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijah)</span></p>
<p>Tidak boleh berpuasa pada hari tasyriq menurut kebanyakan pendapat ulama. Alasannya adalah sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</span></p>
<p>“<em>Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.</em>”<a href="#_ftn4">[4]</a> An Nawawi <em>rahimahullah </em>memasukkan hadits ini di Shahih Muslim dalam Bab “Haramnya berpuasa pada hari tasyriq”.</p>
<p>An Nawawi <em>rahimahullah </em>dalam <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim</em> mengatakan, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Idul Adha. Hari tasyriq tersebut dimasukkan dalam hari ‘ied. Hukum yang berlaku pada hari ‘ied juga berlaku mayoritasnya pada hari tasyriq, seperti hari tasyriq memiliki kesamaan dalam waktu pelaksanaan penyembelihan qurban, diharamkannya puasa (sebagaimana pada hari ‘ied, pen) dan dianjurkan untuk bertakbir ketika itu.”<a href="#_ftn5">[5]</a> Hari tasyriq disebutkan <em>tasyriq</em> (yang artinya: terbit) karena daging qurban dijemur dan disebar ketika itu.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Imam Malik, Al Auza’i, Ishaq, dan Imam Asy Syafi’i dalam salah satu pendapatnya menyatakan bahwa boleh berpuasa pada hari tasyriq pada orang yang tamattu’ jika ia tidak memperoleh al hadyu (sembelihan qurban). Namun untuk selain mereka tetap tidak diperbolehkan untuk berpuasa ketika itu.<a href="#_ftn7">[7]</a> Dalil dari pendapat ini adalah sebuah hadits dalam Shahih Al Bukhari dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah, mereka mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">لَمْ يُرَخَّصْ فِى أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ ، إِلاَّ لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْىَ</span></p>
<p>“<em>Pada hari tasyriq tidak diberi keringanan untuk berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapat al hadyu ketika itu.</em>”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><strong>Ketiga</strong>: Puasa Hari Jum’at Secara Bersendirian</span></p>
<p>Tidak boleh berpuasa pada Jum’at secara bersendirian. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">لاَ يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ أَنْ يَصُومَ قَبْلَهُ أَوْ يَصُومَ بَعْدَهُ</span></p>
<p>“<em>Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at  kecuali jika ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya.</em>”<a href="#_ftn9">[9]</a> An Nawawi <em>rahimahullah </em>membawakan hadits ini di Shahih Muslim dalam Bab “Terlarang berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian.”</p>
<p>Dari Juwairiyah binti Al Harits –radhiyallahu ‘anha-, ia mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهْىَ صَائِمَةٌ فَقَالَ « أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى »</span></p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memasuki rumahnya pada hari Jum’at dan ia sedang berpuasa. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak”, jawab Juwairiyah. Beliau bertanya kembali, “Apakah engkau ingin berpuasa besok?” “Tidak”, jawabnya seperti itu pula. Beliau kemudian mengatakan, “Hendaknya engkau membatalkan puasamu.”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Catatan penting: Puasa pada hari Jum’at dibolehkan jika:</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span>: Ingin menunaikan puasa wajib, mengqodho’ puasa wajib, membayar kafaroh (tebusan) dan sebagai ganti karena tidak mendapatkan hadyu tamattu’.<a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Kedua</span>: Jika berpuasa sehari sebelum atau sesudah hari Juma’t sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ketiga</span>: Jika bertepatan dengan hari puasa Daud (sehari puasa, sehari berbuka).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Keempat</span>:  Berpuasa pada hari Jum’at bertepatan dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Asyura, puasa Arofah, dan puasa Syawal.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bersambung insya Allah, harap sabar menanti …</em></p>
<p> </p>
<p>Diselesaikan di Pangukan-Sleman, 4 Rabi’ul Akhir 1431 H (bertepatan dengan 18/02/2010)</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a target="_blank" href="../../undefined/">www.rumaysho.com</a><em><br></em></p>
<p><em><br></em></p>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1"><em>[</em>1]</a> HR. Bukhari no. 1990 dan Muslim no. 1137.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim no. 1138.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Lihat <em>Ad Daroril Madhiyah Syarh Ad Durorul Bahiyah</em>, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 220, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR. Muslim no. 1141, dari Nubaisyah Al Hudzali.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj</em>, Yahya bin Syarf An Nawawi, 6/184, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1392</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, </em>8/17.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Idem</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> HR. Bukhari no. 1997 dan 1998.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR. Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144, dari Abu Hurairah.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> HR. Bukhari no. 1986 dan Muslim no. 1143, dari Juwairiyah binti Al Harits.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin ketika menerangkan puasa pada hari Sabtu. Lihat <em>Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin</em>, 20/57-58, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Lihat pembahasan di <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik, 2/142-143, Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
 