
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bagi hamba yang masih memiliki tabi’at baik pasti mengetahui bahwa Allah selalu menginginkan kemudahan dan bukan menginginkan kesulitan bagi hamba-Nya. Dalam perihal puasa, pembuat syari’at –yaitu Allah Ta’ala- juga menginginkan demikian dan ingin menghilangkan kesulitan dari hamba-Nya. Berikut ini adalah beberapa hal yang dibolehkan oleh syari’at ini dan tidak membatalkan puasa :</span></i></p>

<h2><b> Masuk Waktu Fajar dalam Keadaan Junub</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mandi setelah fajar dan tetap berpuasa. ‘Aisyah dan Ummu Salamah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena bersetubuh dengan istrinya, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 1926)</span></p>
<h2><b> Bersiwak Ketika Berpuasa</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bersiwak adalah sesuatu yang dianjurkan secara syar’i sebagaimana sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk menyikat gigi (bersiwak) setiap kali berwudhu.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 27)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari hadits di atas terlihat bahwa Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak mengkhususkan perintah bersiwak untuk orang yang berpuasa tanpa yang lainnya. Seandainya bersiwak adalah pembatal puasa, tentu saja hal ini akan dijelaskan oleh beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan beritanya sampai kepada kita.</span></p>
<p><b>Catatan</b><span style="font-weight: 400;">: Adapun menyikat gigi menggunakan pasta gigi yang -tentunya memiliki rasa (menyegarkan) dan beraroma-, maka sebaiknya tidak dilakukan ketika berpuasa karena siwak tentu saja berbeda dengan pasta gigi yang beraroma. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin, </span></i><span style="font-weight: 400;">17/261-262)</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/432-menggunakan-pasta-gigi-ketika-berpuasa.html" target="_blank" rel="noopener">Menggunakan Pasta Gigi Ketika Berpuasa</a></span></strong></p>
<h2><b> Berkumur-kumur dan Memasukkan Air dalam Hidung</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika berpuasa diperbolehkan berkumur-kumur dan memasukkan air dalam hidung, namun tidak sampai berlebih-lebihan. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Sempurnakanlah wudhu dan basuhlah celah-celah jari. Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (memasukkan air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Daud no. 142, Tirmidzi no. 788, An Nasa’i no. 87, Ibnu Majah no. 407. Dikatakan </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih</span></i><span style="font-weight: 400;"> oleh Syaikh Al Albani)</span></p>
<h2>
<b> Bercumbu (</b><b><i>Mubasyaroh</i></b><b>) dan Mencium Istri Ketika Puasa Bagi Orang Yang Mampu Menahan Syahwatnya</b>
</h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan mencumbu istrinya sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berpuasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian karena beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106). </span><i><span style="font-weight: 400;">Mubasyaroh</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah saling bersentuhnya kulit (bagian luar) antara suami istri selain jima’ (bersetubuh), seperti mencium. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Shohih Fiqih Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;">, 2/111)</span></p>
<p><b>Catatan</b><span style="font-weight: 400;">: Melakukan semacam ini tidak membatalkan puasa kecuali jika keluar air mani ketika bercumbu. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh An Nawawi</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/85)</span></p>
<h2><b> Bekam dan Donor Darah Jika Tidak Membuat Lemas</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Sa’id Al Khudri berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan (rukhsoh) bagi orang yang berpuasa untuk mencium istrinya dan berbekam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ad Daruquthni, An Nasa’i dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Kubro</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan Ibnu Khuzaimah)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hazm mengatakan, “Yang namanya </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhsoh</span></i><span style="font-weight: 400;"> (keringanan) pasti ada setelah adanya </span><i><span style="font-weight: 400;">‘azimah </span></i><span style="font-weight: 400;">(pelarangan) sebelumnya. Hadits ini menunjukkan bahwa hadits yang menyatakan batalnya puasa dengan berbekam (baik orang yang melakukan bekam atau orang yang dibekam) adalah hadits yang telah dinaskh (dihapus).” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Irwa’,</span></i><span style="font-weight: 400;"> 4/75)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, bekam dimakruhkan bagi orang yang bisa jadi lemas karena berbekam. Dan boleh jadi diharamkan jika hal itu menjadi sebab batalnya puasa orang yang dibekam. Hukum ini berlaku juga untuk donor darah. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<h2><b> Mencicipi Makanan Selama Tidak Masuk Dalam Kerongkongan</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abbas mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak mengapa seseorang yang sedang berpuasa mencicipi cuka atau sesuatu, selama tidak masuk sampai ke kerongkongan.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Mushonnaf</span></i><span style="font-weight: 400;"> no. 9277. Syaikh Al Albani dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Irwa’ </span></i><span style="font-weight: 400;">no. 937 mengatakan bahwa hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">hasan</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mencicipi makanan terlarang bagi orang yang tidak memiliki hajat, akan tetapi hal ini tidak membatalkan puasanya. Adapun untuk orang yang memiliki hajat, maka hukumnya seperti berkumur-kumur.” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa</span></i><span style="font-weight: 400;">, 25/266-267)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang termasuk dalam mencicipi adalah adalah mengunyah makanan untuk suatu kebutuhan. ‘Abdur Rozaq membawakan beberapa riwayat di antaranya dari Yunus dari Al Hasan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Aku melihat beliau mengunyah makanan untuk anak kecil –sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa-. Beliau mengunyah kemudian beliau mengeluarkan hasil kunyahannya tersebut dari mulutnya, lalu diberikan pada mulut anak kecil tersebut.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<h2><b> Bercelak dan Tetes Mata</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Bercelak dan tetes mata tidaklah membatalkan puasa. Bukhari juga berkata dalam kitab shohihnya tanpa menyebutkan sanad, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Anas, Al Hasan, dan Ibrahim tidaklah menilai bermasalah untuk bercelak ketika puasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<h2><b> Mandi dan Menyiramkan Air di Kepala untuk Membuat Segar</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Bakr berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Sungguh, aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al ‘Aroj mengguyur kepalanya -karena keadaan yang sangat haus atau sangat terik- dengan air sedangkan beliau dalam keadaan berpuasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Daud no. 2365)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Abu Ath Thoyib mengatakan, “Hadits ini merupakan dalil bolehnya orang yang berpuasa untuk menyegarkan badan dari cuaca yang cukup terik dengan mengguyur air pada sebagian atau seluruh badannya. Inilah pendapat mayoritas ulama dan mereka tidak membedakan antara mandi wajib, sunnah atau mubah.”  (</span><i><span style="font-weight: 400;">‘Aunul Ma’bud</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/352).</span></p>
<p><strong>Baca Juga: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/429-puasanya-wanita-haidh-dan-menyusui.html">Puasanya Wanita Hamil dan Menyusui</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
 