
<p><strong>HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN BERSUSAH -PAYAH MENCARI REZEKI HALAL</strong></p>
<p>Oleh</p>
<p>Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA</p>
<p><strong> </strong><strong>رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَرْفُوْعًا: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ تَعِبًا فِي طَلَبِ الْحَلَالِ</strong></p>
<p>Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allâh suka melihat hamba-Nya yang sedang bersusah payah dalam mencari (rezki) yang halal”.</p>
<p>Hadits ini dinisbatkan oleh Imam al-‘Irâqi<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> dan as-Suyûthi<a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a> kepada Imam Abu Manshûr ad-Dailami dalam kitab susunannya, <em>Musnadul Firdaus</em>.</p>
<p>Hadits ini adalah hadits<em>maudhû’</em> (palsu), dalam <em>sanad</em>nya ada perawi yang bernama Muhammad bin Sahl al-‘Aththâr. Imam ad-Dâraquthni rahimahullah berkata tentangnya “Dia termasuk perawi yang memalsukan hadits”. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Para ulama Ahli Hadits menuduhnya sebagai pemalsu hadits”<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a>.</p>
<p>Imam al-‘Irâqi rahimahullah mengisyaratkan kepalsuan hadits ini dengan berkata, “Dalam <em>sanad</em> hadits ini ada (perawi yang bernama) Muhammad bin Sahl al-‘Aththâr,(Imam) ad-Dâraquthni berkata, ‘Dia memalsukan hadits’”<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a>.</p>
<p>Imam al-Munâwi rahimahullah membenarkan pernyataan Imam al-‘Iraqi di atas, bahkan beliau mengkritisi Imam Suyûthi rahimahullah yang mencantumkan hadits palsu ini dalam kitabnya <em>al-Jâmi’ush Shaghîr</em>dengan berkata, “Sudah sepantasnya penulis (Imam Suyûthi rahimahullah) menghapus (tidak mencantumkan) hadits ini (dalam kitab tersebut)”<a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a>.</p>
<p>Hadits ini juga dinyatakan sebagai hadits yang palsu oleh Imam asy-Syaukâni  rahimahullah dengan mencantumkannya dalam kitab beliau yang memuat hadits-hadits yang palsu<a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a>.  Syaikh al-Albâni rahimahullah pun mencantumkannya dalam <em>as-Silsilah adh-Dha’îfah</em>nya<a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a>.</p>
<p>Derajat hadits ini yang palsu menjadikannya sama sekali tidak bisa dijadikan sandaran untuk mengamalkan kandungannya.</p>
<p>Apalagi isi hadits ini terkesan berlebihan memotivasi untuk mengejar urusan dunia, yang  dalam hal ini adalah mencari nafkah dengan bersusah payah mencarinya, dan  terkesan menomorduakan urusan akhirat. Padahal dalil-dalil dari al-Qur`ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru memotivasi manusiauntuk tidak berlebihan dalam mengejar urusan dunia dan mengambil dari nikmat dunia dengan kadar secukupnya, serta lebih bersemangat dan berlomba-lomba mengejar keutamaan di sisi Allâh k di akhirat nanti.</p>
<p>Allâh Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p><strong>وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ</strong><strong> ۖ</strong><strong> وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allâh kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (urusan) dunia.</em> [al-Qashash/28:77].</p>
<p>Dan dalam sebuah hadits yang <em>shahîh</em>, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى</strong></p>
<p>Sesuatu (harta dan perhiasan dunia) yang sedikit dan mencukupi lebih baik daripada yang banyak dan melalaikan (dari berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla)”<a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a>.</p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Dalam <em>Takhrîju Ahâdîtsil Ihyâ</em>IV/72- <em>al-Maktabah asy-Syâmilah</em>, edisi I.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a><em>Al-Jâmi’ush Shaghîr wa Ziyâdatuhu</em> hlm. 364.</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Lihat Mîzânul I’tidâl III/576.</p>
<p><a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a><em>Takhrîju Ahâdîtsil Ihyâ</em> IV/72.</p>
<p><a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a><em>Faidhul Qadîr</em>” II/293.</p>
<p><a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a><em>A</em><em>l-Fawâidul M</em><em>ajmû’ah fil A</em><em>hâdîtsil M</em><em>adhû’ah</em> hlm. 145, no. 14.</p>
<p><a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a><em>Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfati wal Maudhû’ah</em> I/66, no. 10.</p>
<p><a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> HR. Ahmad V/197, Ibnu Hibbân VIII/121 dan al-Hâkim II/482. Hadits ini dinilai <em>sha<u>h</u>î<u>h</u></em> oleh Imam Ibnu Hibbân, al-Hâkim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi.Lihat <em>ash-Sha<u>h</u>î<u>h</u>ah</em> no.443</p>
<p> </p>
 