
<p><strong>HADITS PALSU TENTANG AQIQAH DENGAN ONTA, SAPI ATAU KAMBING.</strong></p>
<p>Oleh<br>
Ustadz Kholid Syamhudi Lc</p>
<p><strong>عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوْعًا: ” يُعَقُّ عَنْهُ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ “. رواه الطبرانى</strong></p>
<p>Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu secara <em>marfu’</em> : <em>“Diaqiqahi dari seorang dengan onta, sapi atau kambing”.</em> [HR. Ath-Thabrani]</p>
<p><strong>TAKHRIJ</strong><br>
Hadits ini dikeluarkan ath-Thabrâni rahimahullah dalam <em>al-Mu’jam ash-Shaghîr</em> hlm 45 no 229, beliau rahimahullah berkata:  Ibrâhîm bin Ahmad bin Marwân al-Wâsithiy telah menceritakan kepada kami. Dia berkata: Abdul Mâlik bin Ma’rûf al-Khayyâth al-Wâsithiy telah menceritakan hadits ini kepada kami dari Mas’adah bin al-Yasa’ dari Huraits bin as-Sâ`ib dari al-Hasan dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p><strong>«مَنْ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَلْيَعِقَّ عَنْهُ مِنَ الْإِبِلِ أَوِ الْبَقَرِ أَوِ الْغَنَمِ» </strong></p>
<p><em>Siapa yang dianugerahi anak, maka hendaknya beraqiqah dengan onta atau sapi atau kambing.</em></p>
<p>Lalu ath-Thabrâni rahimahullah berkata:</p>
<p><strong>لَمْ يَرْوِهِ عَنْ حُرَيْثٍ إِلَّا مَسْعَدَةُ تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَعْرُوفٍ</strong></p>
<p>Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Huraits kecuali Mas’adah dan Abdulmâlik bin ma’rûf bersendiri dalam meriwayatkan hadits ini dari Mas’adah.</p>
<p>Dalam hadits ini terdapat :</p>
<p>1. Ibrâhim bin Ahmad bin Marwân al-Wâsithiy<br>
Perawi ini dilemahkan ad-Dâraquthni rahimahullah dengan menyatakan Ia tidak kuat. [Lihat <em>I’lâ’ as-Sunan</em>, at-Tahâwani 17/116]</p>
<p>2. Abdul Mâlik bin Ma’rûf al-Khayyâth al-Wâsithiy<br>
Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam kitab <em>Irwâ`ul Ghalîl</em> no. 1168 berkata: Abdul Mâlik bin Ma’rûf tidak dikenal dan tidak memiliki keterangan biografinya sedikitpun dalam kitab-kitab ilmu Rijal (perawi hadits).</p>
<p>3. Mas’adah bin al-Yasa’<br>
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: Binasa, dihukumi Abu Dawud rahimahullah sebagai pendusta.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Ahmad rahimahullah berkata: Kami buang haditsnya sejak dahulu. <a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Abu Hâtim berkata: Rusak dan mungkar hadits tidak dipakai dan berdusta atas Ja’far bin Muhammad. <a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Ibnu Adi rahimahullah berkata: Mas’adah ini perawi yang lemah. seluruh hadits yang diriwayatkannya berupa <em>Mursal</em> dan musnad dan yang lainnya lemah. <a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p>Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam <em>Lisân al-Mizân</em> 6/23 berkata: Diantara aibnya adalah ia meriwayatkan dari Amru bin Dinâr dari Jâbir Radhiyallahu anhu bahwa Sebaik-baiknya ahli Mayit adalah yang paling banyak dzikirnya dan orang yang bermajlis hingga rendah hati dan yang paling sempurna takarannya adalah yang mengambil tanah tiga kali dengan telapak tangannya. Mahmûd bin Ghailân berkata: Ahmad rahimahullah dan Yahya bin Ma’in rahimahullah serta Abu Khaitsamah rahimahullah menghukuminya sebagai perawi yang sangat lemah. Ibnu Abi Khaitsamah berkata pada biografi Ibnu Juraij dalam kitab tarikh nya: Ditanya Yahya bin Ayûb, mengapa beliau meninggalkan hadits Mas’adah bin al-yasa’, maka beliau menjawab: Karena dia meriwayatkan sebuah hadits yang diingkari para ulama hadits dengan mengatakan: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad.</p>
<p>4. Huraits bin as-Sâ`ib dari al-Hasan<br>
Huraits atau dalam naskah lainnya Hudaits bin as-Sâ`ib dimasukkan adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitab <em>adh-Dhu’afa`</em> dan berkata: Zakariyâ as-Sâji melemahkannya. <a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>5. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah.<br>
Seorang Tabi’in tsiqat dan imam terkenal namun melakukan <em>tadlîs</em> dan di dalam hadits ini menyampaikan dengan ‘<em>an</em>–<em>anah</em>.</p>
<p>6. Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal sebagai pembantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak berusia 10 tahun dan terus membantu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga wafat.</p>
<p>Jelaslah sebab lemahnya hadits ini dengan melihat para perawi dalam sanadnya.</p>
<p>Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata: Ini sanad yang sangat lemah sekali bersambung dari awal hingga akhir dengan sebab kelemahan dan yang paling parah adalah dusta Mas’adah. Tampaknya karena itu, al-Hâfizh al-Haitsami t tidak memandang sebab-sebab kelemahan lainnya sehingga berkata dalam kitab <em>al-Majma’</em> 4/58 : Diriwayatkan ath-Thabrâni rahimahullah dalam <em>ash-Shaghîr</em> dan ada padanya Mas’adah bin al-Yasa’ seorang pendusta. <a href="#_ftn6" name="_ftnref6">[6]</a></p>
<p>At-Tahâwani rahimahullah menyatakan: Jelaslah dari keterangan ini, Seandainya tidak ada dalam sanad itu kecuali Mas’adah, maka cukup untuk menolak hadits ini. Bagaimana dalam hadits ini juga ada Abdul Mâlik bin Ma’rûf al-Khayyâth dan Ibrâhîm bin Ahmad bin Marwân. Abdul Mâlik tidak dikenal siapa dia dan bagaimana dia? sedangkan Ibrâhîm bin Ahmad bin Marwân disampaikan al-Hâkim dari ad-Dâraquthni bahwa beliau berkata: bukan perawi yang kredibel. <a href="#_ftn7" name="_ftnref7">[7]</a></p>
<p>Syaikh al-Albâni rahimahullah menambahkan : Seandainya hadits ini benar, tentulah Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak menjawab ketika disampaikan kepada beliau pernyataan: “Diaqiqahkan dengan onta” : Aku berlindung kepada Allah, namun yang disampaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dua kambing yang bagus. Sanad riwayat ini hasan seperti telah dijelaskan dalam hadits no. 1166. Juga ada isyarat bahwa hadits dari Anas ini tidak pernah disampaikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Agak heran al-Hâfizh dalam al-Fath (9/512) diam dan hanya menyandarkannya kepada ath-Thabrâni dan Abu as-Syeikh. <a href="#_ftn8" name="_ftnref8">[8]</a></p>
<p>Oleh karena itu Syeikh al-Albâni rahimahullah menilai hadits ini sebagai <strong>hadits palsu</strong>.<a href="#_ftn9" name="_ftnref9">[9]</a></p>
<p><em>Wallahu A’lam</em></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> lihat <em>Mizân al-I’tidâl</em> no. 8467<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <em>Al-Kâmil Fi Dhu’afa ar-rijal</em>, Ibnu Adi 8/127<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> lihat <em>Irwâ’ul-Ghalîl</em>, 4/394<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> <em>Al-Kâmil Fi Dhu’afa</em>, 8/128<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> lihat <em>Irwâ’ul-Ghalîl</em><em>,</em> 4/394<br>
<a href="#_ftnref6" name="_ftn6">[6]</a> <em>Irwâ’ul-Ghalîl,</em> 4/394<br>
<a href="#_ftnref7" name="_ftn7">[7]</a> <em>I’lâ’ as-Sunan</em><em>,</em> 17/115-116<br>
<a href="#_ftnref8" name="_ftn8">[8]</a> <em>Irwâ’ul-Ghalîl</em><em>,</em> 4/394<br>
<a href="#_ftnref9" name="_ftn9">[9]</a> <em>Irwâ’ul-Ghalîl</em><em>,</em> 4/394</p>
 