
<p dir="rtl" align="center">عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ يَمِينَ اللّهِ فِي الْأَرْضِ يُصَافِحُ بِهَا عِبَادَهُ »</p>
<p align="justify">Dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiallahu’anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda: “<em>Hajar aswad adalah tangan kanan Allah di Bumi yang dengannya Allah menjabat tangan hamba-hamba-Nya</em>”.</p>
<p align="justify">Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a>, al-Khathib al-Bagdadi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a>, dan Ibnul Jauzi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a> dari Jalur Ishaq bin Bisyr al-Kahili, dari Abu Ma’syar al-Madaini, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiallahu’anhu</em>, dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>.</p>
<p align="justify">Hadist ini derajatnya <b>sangat lemah</b>, bahkan sebagian dari para ulama Ahli hadist menghukuminya sebagai hadits yang <b>palsu</b>. Karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama <b>Ishaq bin Bisyr al-Kahili</b>, dia dinyatakan sebagai pendusta oleh Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah, Musa bin Harun dan Abu Zur’ah ar-Razi, sedangkan Imam ad-Daraquthni<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a> dan Ibnu ‘Adi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a> mengatakan bahwa dia termasuk pemalsu hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>.</p>
<p align="justify">Hadits ini diisyaratkan kelemahannya yang sangat oleh Imam Ibnu ‘Adi, al-Khathib al-Bagdadi dan Ibnul Jauzi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a>.</p>
<p align="justify">Imam Ibnul ‘Arabi berkata: “Hadits ini batil (palsu) maka tidak perlu diperhatikan<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a>.</p>
<p align="justify">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Hadits ini diriwayatkan dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dengan sanad yang tidak shahih”<sup> <a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a></sup>.</p>
<p align="justify">Hadits ini juga dihukumi sebagai hadits yang <em>mungkar</em> (sangat lemah) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote9sym" name="sdfootnote9anc"><sup>9</sup></a> dan dihukumi sebagai hadits yang batil (palsu) oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote10sym" name="sdfootnote10anc"><sup>10</sup></a>.</p>
<p align="justify">Hadits ini juga dikeluarkan dari jalur lain dari Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiallahu’anhu</em>, dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Asakir dalam “<em>Taariikhu Dimasyq</em>” (52/217). Hadits ini juga <b>batil (palsu)</b>, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abu ‘Ali al-Ahwazi, Imam Ibnu ‘Asakir mengatakan bahwa dia tertuduh berdusta<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote11sym" name="sdfootnote11anc"><sup>11</sup></a>.</p>
<p align="justify">Hadits ini juga diriwayatkan dari Shahabat lain, ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote12sym" name="sdfootnote12anc"><sup>12</sup></a>, ath-Thabrani<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote13sym" name="sdfootnote13anc"><sup>13</sup></a> dan Ibnul Jauzi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote14sym" name="sdfootnote14anc"><sup>14</sup></a>. Hadits ini juga <b>sangat lemah</b> karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdullah bin al-Muammal, Imam Ahmad berkata: “Hadits-hadits (yang diriwayatkannya) mungkar (sangat lemah)”. Imam ‘Ali bin al-Junaid berkata: “Dia seperti orang yang ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang sangat parah)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote15sym" name="sdfootnote15anc"><sup>15</sup></a>.</p>
<p align="justify">Hadits ini juga diriwayatkan dari Shahabat lain, Anas bin Malik <em>radhiallahu’anhu</em>, dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>. Imam al-Munawi<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote16sym" name="sdfootnote16anc"><sup>16</sup></a> menukil riwayat ini dan mengisyaratkan kelemahannya yang sangat parah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama al-‘Alaa’ bin Salamah ar-Rawwas, Imam adz-Dzahabi mengatakan bahwa dia tertuduh memalsukan hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>.</p>
<p align="justify">Lafazh hadits ini juga diriwayatkan dari ucapan Shahabat yang mulia, ‘Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiallahu’anhuma</em>, dikeluarkan oleh Imam Ibnu Qutaibah dalam kitab “<em>Ghariibul Hadiits</em>” (2/337). Tapi Riwayat ini juga <b>sangat lemah</b>, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Ibrahim bin Yazid al-Khuzi, Imam Ibnu Hajar berkata: “Dia yang ditinggalkan (riwayat haditsnya karena kelemahannya yang sangat parah)”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote17sym" name="sdfootnote17anc"><sup>17</sup></a>.</p>
<p align="justify"><b>Kesimpulannya,</b> hadits ini derajatnya sangat lemah dari semua jalurnya, baik yang dinisbatkan kepada Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> atau kepada Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiallahu’anhuma</em>, bahkan sebagian ulama menghukuminya sebagai hadits yang batil (palsu).</p>
<p align="justify">Oleh karena itu, hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan sebagai argumentasi untuk mendukung <i>syubhat</i> (kerancuan dan kesalahpahaman) orang-orang yang menyerupakan sifat Allah <em>Ta’ala</em> dengan sifat makhluk, maha suci Allah <em>Ta’ala</em> dari segala sifat-sifat kekurangan. Hal ini dikarenakan dua sebab:</p>
<ol>
<li>Derajat hadits ini yang sangat lemah, bahkan palsu, sehingga tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam </em>atau kepada Abdullah bin ‘Abbas <em>radhiallahu’anhuma</em>, ataupun Shahabat lainnya.</li>
<li>Kalaupun dianggap shahih dan benar, maka makna hadits ini adalah bahwa orang yang mencium atau mengusap hajar aswad ketika thawaf, maka dia seperti menjabat tangan kanan Allah, sebagaimana ini diisyaratkan dalam sebagian lafazh riwayat-riwayat tersebut di atas. Maka ini berarti kedudukan dan keutamaan mencium atau mengusap hajar aswad adalah seperti menjabat tangan kanan Allah. Sehingga ini menunjukkan bahwa hajar aswad bukanlah tangan kanan Allah <em>Ta’ala</em> yang sesungguhnya<sup> <a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote18sym" name="sdfootnote18anc"><sup>18</sup></a></sup>.</li>
</ol>
<p align="justify">Kemudian hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> cukup untuk menjadi argumentasi tentang keutamaan mencium atau mengusap hajar aswad ketika thawaf, sehingga kita tidak butuh dengan hadits yang sangat lemah atau palsu ini.</p>
<p align="justify">Misalnya, sabda Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>: “<em>Demi Allah, sungguh Allah akan membangkitkan hajar aswad pada hari kiamat, dia mempunyai dua mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara, dia akan bersaksi (di hadapan-Nya) bagi orang yang mengusap/menciumnya dengan benar</em>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote19sym" name="sdfootnote19anc"><sup>19</sup></a>.</p>
<p align="center"><span lang="ar-SA">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family: Calibri, serif;">***</span></p>
<p align="justify">Penulis: Ust. <span style="font-family: Calibri, serif;">Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.</span></p>
<p align="justify">Artikel Muslim.or.id</p>
<p align="justify">___</p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a> Dalam kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (1/342).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a> Dalam kitab “Taariikh Bagdaad” (6/328).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a> Dalam kitab “al-‘Ilalul mutanaahiyah” (2/575).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a> Semua dinukil oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab “Lisaanul miizaan” (1/355).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a> Dalam kitab “al-Kaamil fi dhu’afaa-ir rijaal” (1/342).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a> Dalam kitab-kitab mereka yang tersebut di atas.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a> Dinukil oleh Imam al-Munawi dalam kitab “Faidhul Qadiir” (3/409).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a> Dalam “Majmuu’ul fata-wa” (7/397).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote9anc" name="sdfootnote9sym">9</a> Dalam kitab “Silsilatul ahaadiitsidh dha’iifah wal maudhuu’ah” (1/390, no. 223).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote10anc" name="sdfootnote10sym">10</a> Dalam kitab “al-Qawaa-‘idul mutslaa” (hal. 97).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote11anc" name="sdfootnote11sym">11</a> Lihat kitab “Lisaanul miizaan” (2/238).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote12anc" name="sdfootnote12sym">12</a> Dalam kitab “Shahih Ibni Khuzaimah” (4/221).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote13anc" name="sdfootnote13sym">13</a> Dalam kitab “al-Mu’jamul ausath” (1/177).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote14anc" name="sdfootnote14sym">14</a> Dalam kitab “al-‘Ilalul mutanaahiyah” (2/575-576).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote15anc" name="sdfootnote15sym">15</a> Semua dinukil oleh Imam Ibnul Jauzi dalam kitab “al-‘Ilalul mutanaahiyah” (2/576).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote16anc" name="sdfootnote16sym">16</a> Dalam kitab “Faidhul Qadiir” (3/409).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote17anc" name="sdfootnote17sym">17</a> Kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 95).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote18anc" name="sdfootnote18sym">18</a> Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (3/409) dan “al-Qawaa-‘idul mutslaa” (hal. 98).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p align="justify"><span style="font-size: small;"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote19anc" name="sdfootnote19sym">19</a> HR Ahmad (1/247), at-Tirmidzi (3/294), Ibnu Khuzaimah (4/220) dan Ibnu Hibban (9/25), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.</span></p>
</div>
 