
<p>Masalah ini dibahas agar tidak terjerumus dalam ancaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap orang-orang yang mendustakan beliau,</p>
<p style="text-align: right;">مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia bersiap-siap (mendapat) tempat duduknya di neraka</em>.” (HR. al-Bukhari no. 1209)<em>.</em></p>
<p>Kami akan menyebutkan tiga* contoh hadits yang popular dinisbatkan atas Nabi kita Muhammad ﷺ yang mulia, padahal ternyata bukan. Oleh karenanya, hendaknya hal ini menjadi perhatian dan kewaspadaan bagi kita semua.</p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Adzan Saat Bayi Lahir</strong></span></h4>
<p style="text-align: right;">مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى, لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang dikaruniai seorang bayi, lalu dia adzani di telinga bagian kanannya dan iqamat di telinga bagian kirinya, maka dia tidak akan ditimpa gangguan jin.</em>”</p>
<p><strong>MAUDHU’. </strong>Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam <em>Syu’aibul Iman (</em>VI/390), Abu Ya’la (no. 6780), Ibnu Sunni dalam <em>‘Amalul Yaum wa Lailah </em>(no. 623). Dari jalan <strong>Yahya bin al-Ala’ </strong>dari <strong>Marwan bin Salim </strong>dari Thalhah bin ‘Ubaidillah dari Husain bin ‘Ali.</p>
<p>Sanad hadits ini maudhu’ atau palsu disebabkan Yahya bil al-Ala’ dan Marwan bin Salim adalah dua rawi yang memalsukan hadits. <sup>[1]</sup></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Nama yang Paling Dicintai</strong></span></h4>
<p style="text-align: right;">أَحَبَّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ مَا عُبِّدَ و مِا حُمِّدَ</p>
<p>“<em>Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah nama yang dihambakan dan dipuji.</em>”</p>
<p><strong>TIDAK ADA ASALNYA. </strong>Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dan sebagainya. Lihat <em>Kasyful Khafa’ </em>(I/390, 50).</p>
<p>Lafazh yang benar adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;">أَحَبَّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَ عَبْدُ الرَّحْمنِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya sebaik-baik nama kalian di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.</em>” <sup>[2]</sup></p>
<p><strong>Faedah: </strong>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> menukil kesepakatan ulama tentang haramnya setiap nama yang dihambakan kepada selain Allah seperti ‘Abdul ‘Uzza dan ‘Abdul Ka’bah. Pendapat ini disetujui oleh al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam <em>Tuhfatul Maudud </em>(hal. 37).</p>
<p>Dengan demikian, maka tidak halal nama-nama seperti ‘Abdu ‘Ali dan ‘Abdul Husain sebagaimana popular dalam kelompok Syi’ah, juga ‘Abdu Nabi atau ‘Abdu Rasul sebagaimana dilakukan oleh sebagian Ahlus Sunnah yang awam. <sup>[3]</sup></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><strong>Pahala Anak untuk Orang Tuanya</strong></span></h4>
<p style="text-align: right;">إِنَّ حَسَنَاتِ الصَّبِيِّ لِوَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا</p>
<p>“<em>Pahala ibadah anak kecil itu untuk kedua orang tuanya atau salah satunya.</em>”</p>
<p><strong>MAUDHU.</strong> Ibnu Muflih dalam <em>al-Furu’ </em>(I/291) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya dengan sanad yang lemah dari Anas secara marfu’. Dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam <em>al-Maudhu’at. </em><sup>[4] </sup>Tetapi kami belum mendapatkannya dalam <em>Musnad Ahmad </em>maupun <em>al-Maudhu’at</em>. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Faedah: </strong>As-Sakhwi berkata, “Anak kecil diberi pahala atas amal shalih mereka sebagaimana pendapat mayoritas ulama. An-Nawawi menceritakan dalam <em>Syarh Muslim </em>dari Malik, Syafi’i, Ahmad dan mayoritas ulama.”</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan hadits bahwa ada seorang wanita yang mengangkat anak kecilnya kepada Nabi, seraya mengatakan: “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Nabi ﷺ bersabda: “Ya, dan untukmu juga pahala.” <sup>[5] </sup>Yakni, anak tersebut mendapat pahala haji tetapi itu hanya sunnah baginya, sehingga dia belum gugur kewajiban haji apabila telah dewasa.</p>
<p>Adapun dosa anak kecil, maka tidak dicatat, berdasarkan hadits:</p>
<p>“<em>Diangkat pena dari tiga golongan, orang gila sehingga sadar, orang tidur hingga bangun, dan anak kecil hingga baligh.</em>”</p>
<p>Kesimpulannya, anak kecil dicatat amal kebaikannya tetapi tidak dicatat amal jeleknya.<sup>[6]</sup></p>
<p>Allahu a’lam.</p>
<p>***</p>
<p>Diketik ulang dengan sedikit penyesuaian bahasa oleh Tim Muslimah.Or.Id dari buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.</p>
<p>*) Pada naskah aslinya terdapat empat hadits, untuk lebih lengkapnya silahkan langsung merujuk ke buku yang telah kami sebutkan di atas.</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<p><sup>[1]</sup> <em>Silsilah adh-Dha’ifah </em>(no. 321). Dan lihat kembali bahasan dalam buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi bahasan ‘<em>Mengadzani Bayi, Sunnahkah?</em>’</p>
<p><sup>[2]</sup> HR. Muslim (no. 2132)</p>
<p><sup>[3]</sup> Lihat <em>Silsilah al-Ahaadits adh-Dha’iifah </em>(no. 411)</p>
<p><sup>[4] </sup><em>Al-Muntaqa min Faraidh al-Fawaid </em>(hal. 91) Ibnu ‘Utsaimin dan <em>at-Tuhfah</em> <em>al-Karimah </em>(hal. 99) Ibnu Baaz</p>
<p><sup>[5] </sup>HR. Muslim (no. 1336)</p>
<p><sup>[6] </sup><em>Al-Ajwibah al-Mardhiyyah </em>(II/766-767)</p>
<p>——————————-</p>
<p>Artikel muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 