
<p><strong>HADITS LEMAH DAN PALSU YANG POPULER SEPUTAR RAMADHAN</strong></p>
<p>Tidak sedikit hadits-hadits palsu yang beredar di masyarakat dan dijadikan  pedoman dalam pelaksanaan syari’at. Berikut ini adalah beberapa hadits <em>dha’if </em>(lemah) dan <em>maudhu’ </em>(palsu) yang populer ditelinga masyarakat dan  menjelaskan kedudukan haditsnya.</p>
<p>Adapun hadits-hadits yang dicantumkan di bawah ini adalah hadits-hadits yang  lemah dan palsu secara <em>matan</em> (redaksi), <em>sanad</em> (urutan perawi),  ataupun keduanya, sebagaimana telah diuraikan penjelasannya di atas. Dan untuk  memperjelas kedudukan dari hadits-hadits yang disebutkan selanjutnya, penulis  menganjurkan kepada para pembaca sekalian untuk merujuk kepada kitab-kitab yang  penulis sebutkan sebagai referensinya.</p>
<p><strong>Pertama</strong></p>
<p><strong>Hadits  Tentang Keutamaan Ramadhan</strong></p>
<p class="arab">لَوْ يَعْلَمُ الْعِـبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ  لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ السَّنَةً كُلُّهَا رَمَضَانَ، إِنَّ  الْجَنَّةَ لَتَزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ .</p>
<p>Artinya: “<em>Seandainya ummatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan  Ramadhan, niscaya ummatku akan menginginkan satu tahun penuh semuanya adalah  bulan Ramadhan. Sesungguhnya Surga berhias menyambut Ramadhan setiap tahunnya.”</em></p>
<p><strong>Derajat: <em>Maudhu’/</em>Palsu</strong>. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la  Al-Mushili dalam <em>Musnad</em>-nya (no. 5251) sebagaimana disebutkan dalam <em>Mathalibul  ‘Aliyah</em> (VI/42-44, no. 1010), Ibnu Khuzaimah dalam <em>Shahih</em>-nya  (III/190, no. 1886), Ibnu Abi Dunya dalam <em>Fadha’il Ramadhan</em> (hal. 49,  no. 22), Al-Baihaqi dalam <em>Syu’abul Iman</em> (III/313, no. 3634), dan Ibnul  Jauzi dalam <em>Al-Maudhu’at</em> (II/547, no. 1119). Lihat juga <em>Dha’if  Targhib wa Tarhib</em> (II/303, no. 596).</p>
<p>Dari jalur Jarir bin Ayyub Al-Bajaliy, dari Asy-Sya’biy, dari Nafi’ bin  Burdah, dari ‘Abdullah bin Mas’ud (atau Abu Mas’ud Al-Ghifariy), dia berkata:  Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>‘<strong><em>Illat</em>(cacat) Hadits:</strong></p>
<p>– Hadits ini terkadang diriwayatkan atas nama Abdullah bin Mas’ud dan  terkadang Abu Mas’ud, namun yang benar adalah Abu Mas’ud Al-Ghifariy.  Sebagaimana penjelasan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam <em>Mathalibul ‘Aliyah</em> (VI/42-44, no. 1010).</p>
<p>– Jarir bin Ayyub bin Abi Zur’ah bin ‘Amru bin Jarir Al-Bajiliy Al-Kufiy,  menyendiri dalam periwayatannya dan dia seorang yang <em>dha’if</em>, sebagaimana  telah dijelaskan oleh para ulama ahlul hadits, diantaranya:</p>
<p>– Yahya bin Ma’in berkata: <strong>ليس بشئ</strong></p>
<p>– Abu Hatim berkata: <strong>منكر الحديث٬ ضعيف  الحديث</strong></p>
<p>– Abu Zur’ah berkata: <strong>منكر الحديث</strong></p>
<p>– Ibnu Hibban berkata: <strong>كان ممن فحش خطؤه</strong></p>
<p>– Abu Nu’aim berkata: <strong>يضع الحديث</strong></p>
<p>– Al-Bukhari berkata: <strong>منكر الحديث</strong></p>
<p>– An-Nasa’i berkata: <strong>متروك الحديث٬ ليس بثقة٬ ولا يكتب حديثه</strong></p>
<p>– Al-Baihaqiy berkata: <strong>ضعيف عند اهل النقل</strong></p>
<p>– Dan lain-lain. [Lihat <em>Al-Jarh  wa Ta’dil</em> (II/503), <em>Al-Majruhin</em> (I/220), <em>Al-Kamil</em> (II/322-323), <em>Al-Mizan</em> (II/116), <em>Lisanul Mizan </em>(II/302), <em>Adh-Dhu’afa</em> (I/198), <em>Ta’jil Al-Manfa’ah </em>(I/384).</p>
<p>Ibnul Jauzi berkata, “<em>Hadits ini palsu dan telah dipalsukan atas nama  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</em> [Lihat <em>Al-Maudhu’at</em> (II/549)]</p>
<p>Imam Asy-Syaukani berkata, “<em>Telah diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari jalan  Ibnu Mas’ud secara marfu’ dan haditsnya palsu. Kecacatannya terdapat pada Jarir  bin Ayyub (Al-Bajaliy). Dan susunan (lafazh)nya adalah susunan yang dapat  disaksikan oleh akal bahwa dia adalah hadits palsu.”</em> [Lihat <em>Al-Fawa’id  Al-Majmu’ah fil Ahaditsul Maudhu’ah</em> (hal. 88, no. 254)]</p>
<p>Syaikh Al-Albani berkata, “<em>Maudhu’ (palsu).”</em> [Lihat <em>Dha’if Targhib  wa Tarhib</em> (II/303, no. 596)]</p>
<p>Al-A’zhamy berkata, “<em>Sanadnya dha’if, bahkan maudhu’.”</em> [Lihat <em>Tahqiq  Shahih Ibnu Khuzaimah</em> (III/190)]</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ath-Thabrani dalam <em>Mu’jamul Kabir</em> (XX/388, no. 967), dari jalur Al-Hayyaj bin Bustham, telah berkata kepada kami  ‘Abbad bin Nafi’ dari Abi Mas’ud al-Ghifariy dia berkata, “<em>Aku mendengar  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (marfu’).”</em></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan juga oleh As-Suyuthi dalam <em>Al-Laali’</em> (II/85)  dari jalur Al-Hayyaj bin Bustham telah berkata kepada kami Al-‘Abbas dari Nafi’  dari Abi Syuraik Al-Ghifari sesungguhnya dia telah mendengar Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Thahir Ibnu Abi Shaqr dalam <em>Musyikhat</em> (hal. 129, no. 56), dari jalur Al-Hayyaj bin Bustham telah berkata kepada kami  Al-‘Abbas dari Nafi’ dari Abi Sarihah al-Ghifariy secara <em>marfu’</em>.</p>
<p>– Al-Hayyaj bin Bustham At-Tamimiy  Al-Haruiy Abu Khalid Al-Hanzhaliy. Dia seorang yang <em>dha’if</em>, sebagaimana  telah dijelaskan oleh para ulama ahlul hadits, diantaranya:</p>
<p>– Yahya bin Ma’in berkata: <strong>ليس بشئ٬ هروى ضعيف</strong></p>
<p>– Ahmad bin Hanbal berkata: <strong>متروك الحديث</strong></p>
<p>– Abu Dawud berkata: <strong>تركوا حديثه</strong></p>
<p>– Abu Hatim berkata: <strong>يكتب حديثه ولا يحتج به</strong></p>
<p>– Ibnu Hajar berkata: <strong>ضعيف روى عنه ابنه خالد منكرات شديدة</strong></p>
<p>– Ibnu Hibban berkata: <strong>كان مرجئا داعية إلى الإرجاء</strong></p>
<p>– Dan lain-lain. [Lihat <em>Al-Kamil</em> (VIII/448), <em>Al-Mizan</em> (VII/103-104), <em>Al-Majruhin</em> (III/96), <em>Tahdzibul  Kamal</em> (XXX/357), <em>Tahdzibut Tahdzib</em> (IX/98-99), dan <em>Taqribut  Tahdzib</em> (hal. 1029)]</p>
<p>–  Tidak diragukan lagi bahwa Al-Hayyaj bin Bustham seorang yang <em>majruh</em> (cacat) dalam periwayatannya, dan yang men-<em>tsiqah</em>-kannya sedikit skali,  Maka dalam hal ini (<strong>الجرح   المفسر مقدم على التعديل المطلق</strong> ) <em>jarh</em> yang <em>mufassar</em> lebih  didahulukan dari <em>ta’dil</em> yang <em>muthlaq</em>, sebagaimana penjelasan Imam  Ahmad, Yahya bin Ma’in dan lain-lain bahwa dia seorang yang ditinggalkan  haditsnya. Sedangkan Imam Ahmad dalam <em>jarh</em>nya <em>daqiq</em> (terperinci) dan sangat <em>wara’</em> (hati-hati), demikian juga dengan Yahya  bin Ma’in, seorang yang paling ‘<em>alim</em> tentang <em>rijal </em>(rawi-rawi  hadits).</p>
<p>– Sebagian ahli ilmu seperti Al-Hakim  men-<em>tsiqah</em>-kannya bila yang meriwayatkan darinya anaknya yang bernama  Khalid, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dari Yahya bin Sa’id  Adz-Dzuhaliy. Sedangkan riwayat ini tidak diriwayatkan oleh anaknya sehingga  jelas akan ke<em>dha’if</em>annya.</p>
<p>Al-Haitsamiy berkata, “<em>Telah diriwayatkan oleh Ath-Thabraniy dalam  Mu’jamul Kabir dan didalam sanadnya ada Al-Hayyaj bin Bustham, dia seorang yang  dha’if.”</em> [Lihat <em>Al-Majma’</em> (III/145)]</p>
<p>Al-Mu’alimiy berkata: “<em>Kemudian As-Suyuthi menyebutkan riwayatnya dari  Ibnu Najar sampai kepada Al-Hayyaj bin Bustham telah berkata kepada kami  Al-‘Abbas dari Nafi’ dari Abi Syuraik Al-Ghifari secara marfu’. Sedangkan  Al-Hayyaj tidak diketahui siapa gurunya, dan tidak juga Abu Syuraik.”</em> [Lihat <em>Tahqiq Al-Fawa’id Al-Majmu’at</em> (hal. 88)]<br>
Bersambung -insyaallah-</p>
<p>***<br>
<a href="https://muslimah.or.id/">muslimah.or.id</a><br>
<strong>Penyusun:</strong> Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
<strong>Muraja’ah:</strong> Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<p>1.        <em>Al-Ba’itsul Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulumil Hadits</em>, AL-Hafizh Ibnu Katsir, cetakan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.</p>
<p>2.        <em>Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam</em>, Imam Abi Muhammad Ali bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm, cetakan Darul Afaq Al-Jadidah, Beirut.</p>
<p>3.        <em>Al-Maudhu’at min Al-Ahaditsil Marfu’at</em>, Ibnul Jauzi, cetakan Adhwa’us Salaf, Riyadh.</p>
<p>4.        <em>Al-Wadh’u fil Hadits</em>, Dr. ‘Umar Hasan Falatah, cetakan Maktabah Al-Ghazali, Damaskus.</p>
<p>5.        <em>As-Sunnah Qabla At-Tadwin</em>, Muhammad ‘Ajaj Al-Khathib, cetakan Maktabah Wahbah, Kairo.</p>
<p>6.        <em>As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami</em>, Mushthafa As-Siba’i, cetakan Al-Maktab Al-Islami, Damaskus.</p>
<p>7.        <em>Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyyah</em>, Abu ‘Ubaidah Yusuf As-Sidawi dan Abu ‘Abdillah Syahrul Fatwa, cetakan Pustaka Darul Ilmi, Bogor.</p>
<p>8.        <em>Fathul Bari bi Syarh Shahih Bukhari</em>, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, cetakan Darul Hadits, Kairo.</p>
<p>9.        <em>Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia,</em> Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf.</p>
<p>10.    <em>Irwa’ul Ghalih fi Takhriji Ahadits Manaris Sabil</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cetakan Al-Maktab Al-Islami, Beirut.</p>
<p>11.    <em>Manzilatus Sunnah fit Tasyri’ Al-Islami</em>, Muhammad Aman bin ‘Ali Al-Jami, cetakan Darul Minhaj, Kairo.</p>
<p>12.    <em>Musthalahul Hadits</em>, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Daar Ibnul Jauzi, Riyadh.</p>
<p>13.    <em>Penolakan M. Quraish Shihab Terhadap Hadits Keberadaan Allah (Sebuah Tinjauan Kritik Hadits)</em>, Sofyan Hadi bin Isma’il Al-Muhajirin, skripsi kelulusan sarjana Fakultas Tafsir Hadits UIN, Bandung.</p>
<p>14.    <em>Qawa’idut Tahdits,</em> Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut.</p>
<p>15.    <em>Shahih Muslim, </em>Imam Abi Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi, cetakan Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut.</p>
<p>16.    <em>Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah</em>, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cetakan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.</p>
<p>17.    <em>Sunan Ibnu Majah</em>, Abi ‘Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Qazwini (Ibnu Majah), cetakan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.</p>
<p>18.    <em>Syarh Manzhumah Al-Baiquniyyah</em>, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, cetakan Maktabah Al-‘Ilmu, Kairo.</p>
<p>19.    <em>Syarh Nukhbatul Fikr fi Musthalah Ahlil Atsar</em>, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy, cetakan Darul Mughniy, Riyadh.</p>
<p>20.    <em>Syarhus Sunnah</em>, Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin ‘Ali bin Khalaf Al-Barbahari, cetakan Maktabah Darul Minhaj, Riyadh.</p>
<p>21.    <em>Tadribur Rawi</em>, Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi, cetakan Daar Thaybah, Riyadh.</p>
<p>22.    <em>Taisir Musthalahul Hadits,</em> Mahmud Ath-Thahhan, cetakan Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.</p>
<p>23.    <em>Takhrijul Ihya’ ‘Ulumuddin</em>, Al-Hafizh Abi Fadhl Zainuddin ‘Abdurrahman bin Husain Al-‘Iroqi, cetakan Maktabah Daar Thabariyyah, Riyadh.</p>
<p>24.    <em>Tamamul Minnah fit Ta’liq ‘ala Fiqhus Sunnah,</em> Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cetakan Daar Ar-Rayah, Riyadh.</p>
<p>25.    <em>Taqribut Tahdzib</em>, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, cetakan Baitul Afkar Ad-Dauliyyah, Riyadh.</p>
<p>26.    Dan kitab-kitab lain.</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 