
<p>Meluruskan pemahaman keliru terhadap maksud dari hadits belajar Al-Qur’an: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”</p>

<p><i><span style="font-weight: 400;">Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah,amma ba’du :</span></i></p>
<h2><b>Pemahaman yang salah!</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">خيركم من تعلم القرآن وعلمه </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”. </span></i><strong>(HR. Bukhori).</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara pemahaman yang salah dalam memahami hadis di atas adalah membatasi golongan manusia yang layak disebut sebagai orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya hanyalah sebatas orang yang mempelajari dan mengajarkan huruf dan lafadz Al-Qur’an, </span><i><span style="font-weight: 400;">Tajwid </span></i><span style="font-weight: 400;">dan ilmu Qiro`ahnya semata! Ini adalah sebuah keyakinan yang salah!</span></p>
<h2><b>Akibat dari meyakini pemahaman yang salah tersebut</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika seseorang meyakini keyakinan yang salah ini, maka sangat memungkinkan ia akan merasa cukup bila sudah menguasai </span><i><span style="font-weight: 400;"><a href="https://muslim.or.id/25422-apakah-wajib-membaca-al-quran-dengan-tajwid.html" target="_blank" rel="noopener">ilmu Tajwid</a> dan Qiro`ah atau sudah hafal Al-Qur’an, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka bisa jadi ia akan berhenti ataupun malas dari melanjutkan mempelajari tafsir Al-Qur’an, memahami makna dan penjelasan kandungannya, baik berupa aqidah yang shohihah, ibadah, akhlak karimah serta hukum-hukum Syari’at.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena ia merasa sudah mengamalkan hadits ini, guna meraih derajat yang terbaik!</span></p>
<h2><b>Tujuan Al-Qur’an diturunkan</b></h2>
<p><a href="https://muslim.or.id/53-biografi-ringkas-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin </span></a><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">telah menjelaskan</span> <span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihatlah, di sini Syaikh Al-‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menunjukkan tiga perkara yang menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an, tentunya </span><b>ketiga perkara ini sama-sama pentingnya, sama-sama baiknya, sama-sama menjadi tujuan diturunkannya Al-Qur’an!</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pertama</strong> dari tujuan tersebut adalah beribadah kepada Allah dengan membacanya, tentunya membacanya dengan tajwid dan ilmu Qiro`ah,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Kedua</strong>,  memahami makna atau tafsirnya,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Ketiga</strong>,  mengamalkannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka -misalnya- ketika seseorang baru meraih salah satu dari tiga perkara itu dengan baik, berarti baru meraih sepertiga dari tujuan diturunkannya Al-Qur’an! Janganlah berhenti sampai di situ saja, teruskan meraih dua perkara yang lainnya.</span></p>
<h2><b>Makna yang benar dari hadits di atas</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Ibnul Qoyyim </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullahu </span></i><span style="font-weight: 400;">setelah membawakan hadits di atas,lalu menjelaskan maknanya </span><i><span style="font-weight: 400;"> </span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وتعلم القرآن وتعليمه يتناول تعلم حروفه وتعليمها , وتعلم معانيه وتعليمها </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup:</span></i></p>
<ol>
<li><i><span style="font-weight: 400;">Mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya</span></i></li>
<li style="font-weight: 400;"><i><span style="font-weight: 400;">Mempelajari dan mengajarkan makna-maknanya</span></i></li>
</ol>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وهو أشرف قسمي تعلمه وتعليمه , فإن المعنى هو المقصود , واللفظ وسيلة إليه ,</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Yang terakhir inilah </span></i><span style="font-weight: 400;">(yaitu no.2, pent.)</span><i><span style="font-weight: 400;"> merupakan jenis mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya </span></i><b><i>yang paling mulia</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, karena makna Al-Qur’an itulah yang menjadi tujuan yang dimaksud, sedangkan lafadz Al-Qur’an  adalah sarana untuk mencapai maknanya. </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"> فتعلم المعنى وتعليمه تعلم الغاية وتعليمها </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Maka</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span><i><span style="font-weight: 400;">mempelajari dan mengajarkan </span></i><b><i>makna-maknanya</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan </span></i><b><i>tujuan</i></b><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وتعلم اللفظ المجرد وتعليمه  تعلم الوسائل وتعليمها</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">sedangkan mempelajari dan mengajarkan lafadz semata (hakekatnya) adalah mempelajari dan mengajarkan sarana</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"> وبينهما كما بين الغايات والوسائل “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Dan (perbandingan) diantara keduanya </span></i><b><i>seperti perbandingan antara tujuan dan sarana.</i></b></p>
<h2><b>Kesimpulan</b></h2>
<ul>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya mencakup dua macam sekaligus,yaitu : Lafadz dan maknanya. </span><b>Berarti kedua-duanya sama-sama pentingnya.</b>
</li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Perbandingan keduanya, seperti perbandingan antara tujuan dan sarana. Berarti, jenis yang satu lebih mulia dari yang lainnya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;">Mempelajari makna-maknanya dan mengajarkan makna-maknanya (tafsirnya) <b>lebih mulia</b> dari mempelajari huruf-hurufnya dan mengajarkan huruf-hurufnya saja (tajwidnya semata).</li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, pantaslah jika dua orang yang masyhur disebut sebagai pakar Tafsir di kalangan Sahabat, yaitu: Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">dan selain keduanya, berpandangan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan tartil dan mentadabburi (merenungi) maknanya -walaupun sedikit jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya- lebih utama daripada orang yang cepat dalam membaca Al-Qur’an, sehingga banyak jumlah Ayat Al-Qur’an yang dibacanya, namun tanpa mentadabburi maknanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di zaman Al-Fudhail </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">pun sudah dijumpai adanya orang yang didalam mengamalkan Al-Qur’an lebih kepada</span><i><span style="font-weight: 400;"> “sebatas membacanya semata”</span></i><span style="font-weight: 400;">, padahal sesungguhnya mengamalkan Al-Qur’an lebih luas daripada sekedar membacanya saja, karena dalam Al-Qur’an terdapat aqidah, ibadah, mu’amalah dan hukum-hukum Islam yang tertuntut untuk kita amalkan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Berkata Al-Fudhail </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menuturkan fenomena yang beliau lihat di masanya</span> <span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إنما نزل القرآن ليعمل به ، فاتخذ الناس قراءته عملا </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, namun ternyata ada saja orang yang menjadikan (sebatas) membacanya sebagai sebuah bentuk pengamalannya”</span></i><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">setelah membawakan perkataan Al-Fudhail di atas, bertutur :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فأهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، لا بمجرد إقامة الحروف</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Ahlul Qur’an, mereka adalah orang-orang yang mengetahui maknanya dan mengamalkan isinya, bukan hanya sekedar melafadzkan huruf-hurufnya dengan benar.”</span></i></p>
<h2><b>Catatan Penting!</b></h2>
<div class="su-note" style="border-color:#d4d4d4;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;"><div class="su-note-inner su-u-clearfix su-u-trim" style="background-color:#eeeeee;border-color:#ffffff;color:#333333;border-radius:3px;-moz-border-radius:3px;-webkit-border-radius:3px;">
<ul>
<li>Tulisan ini bukanlah dimaksudkan untuk menyudutkan para penghafal Al-Qur’an atau para Qurra` (Ahli Qiro`ah), tanpa diragukan lagi keduanya adalah dua kelompok manusia yang menduduki derajat yang tinggi dalam Islam, namun yang kami maksudkan disini adalah mendudukkan sesuatu pada tempatnya, semua ajaran Islam adalah penting, namun tingkat kepentingannya bertingkat-tingkat! Maka di dalam Islam ada skala prioritas suatu amal peribadatan.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Mempelajari makna ayat-ayat Al-Qur’an yang terdapat dalam kitab-kitab Tafsir, Tauhid, Fikih, dan selainnya serta mengajarkannya, tanpa diragukan lagi, ini termasuk salah satu bagian yang termulia dari kelompok orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an yang dimaksud dalam hadits di atas, karena hakikatnya, kitab-kitab tentang Tauhid adalah kitab yang mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang Tauhid.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
Kitab-kitab tentang Fikih, hakikatnya adalah kitab-kitab yang  mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an tentang Fikih, dan demikian seterusnya.<br>
<div class="su-spacer" style="height:20px"></div>
</li>
<li>Dengan demikian, siapakah sebaik-baik orang diantara kalian? Jawabannya : Orang yang mengumpulkan kedua macam aktivitas mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.</li>
</ul>
</div></div>

<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah menjadikan kita termasuk kedalam barisan orang-orang yang terbaik di masyarakat kita, Aamiin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></p>
<p><strong>Untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an, coba baca artikel berikut.</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://muslim.or.id/30120-kemuliaan-al-quran-al-karim-1.html" target="_blank" rel="noopener">Kemuliaan Al Qur’an Al Karim</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/62126-dua-jenis-tilawah-al-quran.html" target="_blank" rel="noopener">Dua Jenis Tilawah Al-Qur’an</a></li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Penulis: <a href="https://twitter.com/mnichwanmuslim" target="_blank" rel="noopener">Muhammad Nur Ichwan Muslim</a></p>
<p>Artikel: Muslim.or.id</p>
 