
<p>Apa itu bid’ah?</p>
<p> </p>
<h3>Pengertian Bid’ah</h3>
<p>Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat <em>Al-Mu’jam Al-Wasith</em>, 1:91)</p>
<p>Definisi secara bahasa ini dapat dilihat pada perkataan ‘Umar,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">الْبِدْعَةُ هَذِهِ</p>
<p>“<em>Sebaik-baik bid’ah adalah ini</em>.” (HR. Bukhari, no. 2010)</p>
<p>Bid’ah secara istilah syar’i yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya <em>Al-I’tishom</em>. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ</p>
<p>“Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em>.”</p>
<p>Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi).</p>
<p>Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ</p>
<p>“Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah).” (Lihat <em>Al-I’tisham</em>, 1:50-51)</p>
<p>Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ</p>
<p>“<em>Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf</em>.” (<em>Majmu’ah Al-Fatawa</em>, 18: 346)</p>
<p> </p>
<p> </p>
<h3>Tiga Syarat Disebut Bid’ah</h3>
<p>Untuk melengkapi definisi bid’ah sebelumnya, kita harus memahami tiga syarat kapankah suatu amalan disebut bid’ah. Tiga syarat ini asalnya disimpulkan dari dalil-dalil berikut ini.</p>
<p><strong>Pertama</strong>: Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dalam hadits tersebut disebutkan sabda Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“Hati-hatilah dengan perkara yang diada-adakan karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Daud, no. 4607 dan Tirmidzi, no. 2676. Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini <em>shahih</em>)</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Hadits Jabir bin ‘Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dalam hadits tersebut Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</p>
<p>“<em>Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat</em>.” (HR. Muslim, no. 867)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Hadits ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak</em>.” (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718)</p>
<p>Keempat: Dalam riwayat lain dari ‘Aisyah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak</em>.” (HR. Muslim, no. 1718)</p>
<p>Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan apa yang dimaksud bid’ah yang terlarang dalam agama, yaitu:</p>
<ol>
<li>Sesuatu yang baru (dibuat-buat).</li>
<li>Sesuatu yang baru dalam agama.</li>
<li>Tidak disandarkan pada dalil syar’i.</li>
</ol>
<p>Tiga syarat di atas telah kita temukan pula dalam perkataan para ulama berikut.</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَكُلُّ مَنْ أَحْدَثَ شَيْئاً ، وَنَسَبَهُ إِلَى الدِّيْنِ ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الدِّيْنِ يَرْجِعُ إِلَيْهِ ، فَهُوَ ضَلاَلَةٌ ، وَالدِّيْنُ بَرِيءٌ مِنْهُ ، وَسَوَاءٌ فِي ذَلِكَ مَسَائِلُ الِاعْتِقَادَاتِ ، أَوْ الأَعْمَالُ ، أَوِ الأَقْوَالُ الظَّاهِرَةُ وَالْبَاطِنَةُ .</p>
<p>“<em>Setiap yang dibuat-buat lalu disandarkan pada agama dan tidak memiliki dasar dalam Islam, itu termasuk kesesatan. Islam berlepas diri dari ajaran seperti itu termasuk dalam hal i’tiqod (keyakinan), amalan, perkataan yang lahir dan batin</em>.” (<em>Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 2:128)</p>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> juga berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَالمرَادُ بِالْبِدْعَةِ : مَا أُحْدِثَ مِمَّا لاَ أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرِيْعَةِ يَدُلُّ عَلَيْهِ ، فَأَمَّا مَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ مِنَ الشَّرْعِ يَدُلُّ عَلَيْهِ ، فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ شَرْعاً ، وَإِنْ كَانَ بِدْعَةً لُغَةً</p>
<p>“Yang dimaksud dengan bid’ah adalah sesuatu yang baru yang tidak memiliki landasan (dalil) dalam syari’at sebagai pendukung. Adapun jika didukung oleh dalil syar’i, maka itu bukanlah bid’ah menurut istilah syar’i, namun bid’ah secara bahasa.” (<em>Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 2:127)</p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَا كَانَ لَهُ أَصْل يَدُلّ عَلَيْهِ الشَّرْع فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ ، فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة بِخِلَافِ اللُّغَة فَإِنَّ كُلّ شَيْء أُحْدِث عَلَى غَيْر مِثَال يُسَمَّى بِدْعَة سَوَاء كَانَ مَحْمُودًا أَوْ مَذْمُومًا</p>
<p>“Sesuatu yang memiliki landasan dalil dalam syari’at, maka itu bukanlah bid’ah. Maka bid’ah menurut istilah syari’at adalah tercela berbeda dengan pengertian bahasa karena bid’ah secara bahasa adalah segala sesuatu yang dibuat-buat tanpa ada contoh sebelumnya baik terpuji maupun tercela.” (<em>Fath Al-Bari</em>, 13:253)</p>
<p>Setelah memahami yang dikemukakan di atas, pengertian bid’ah secara ringkas adalah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَا أَحْدَثَ فِي الدِّيْنِ مِنْ غَيْرِ دَلِيْلٍ</p>
<p>“Sesuatu yang baru (dibuat-buat) dalam masalah agama tanpa adanya dalil.” Inilah yang dimaksud dengan bid’ah yang tercela dan dicela oleh Islam. Lihat <em>Qowa’id Ma’rifah Al-Bida’</em>, hlm. 22. Pembahasan pada point ini juga diringkas dari <em>Qowa’id Ma’rifah Al-Bida’</em>, hlm. 17-22.</p>
<p>Semoga benar-benar dapat memahami bid’ah lebih dekat.</p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi</strong>: Mengenal Bid’ah Lebih Dekat. Muhammad Abduh Tuasikal. Penerbit Pustaka Muslim (Bisa menghubungi WA Toko Ruwaifi.Com: <strong>085200171222</strong>)</p>
<p> </p>
<p>Disusun <a href="http://darushsholihin.com" target="_blank" rel="noopener">@ Perpus Rumaysho</a>, 10 Maret 2018</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 