
<p>Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan di waktu dhuha, yaitu awal dari waktu siang. Shalat dhuha memiliki banyak keutamaan dan ganjaran yang besar dari Allah <em>Ta’ala</em>. Berikut ini fikih ringkas seputar shalat dhuha.</p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Hukum Shalat Dhuha</span></h3>
<p>Ulama empat madzhab sepakat bahwa shalat dhuha hukumnya sunnah. Diantara dalilnya hadits Abu Dzar <em>radhiallahu’anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى</span></p>
<p><em>“Di pagi hari ada kewajiban bagi seluruh persendian kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Demikian juga amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah. Semua ini bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua raka’at”</em> (HR. Muslim no. 720).</p>
<p>Dari Buraidah Al Aslami <em>radhiallahu’anhu</em>, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">في الإنسانِ ثلاثُ مِئةٍ وسِتُّونَ مَفصِلًا؛ فعليه أن يتصدَّقَ عن كلِّ مَفصِلٍ منه بصدَقةٍ، قالوا: ومَن يُطِيقُ ذلك يا نبيَّ اللهِ ؟ قال: النُّخَاعةُ في المسجِدِ تدفِنُها، والشَّيءُ تُنحِّيهِ عن الطَّريقِ، فإنْ لم تجِدْ فركعَتا الضُّحَى تُجزِئُكَ<br>
</span></p>
<p><em>“Manusia memiliki 360 sendi, diwajibkan untuk bersedekah sedekah untuk setiap sendinya”. Para sahabat bertanya, ”Siapa yang mampu melakukan demikian, wahai Nabi Allah?”. Nabi bersabda, ”Cukup dengan menutup dahak yang ada di lantai masjid dengan tanah dan menghilangkan gangguan dari jalanan. Apabila engkau tidak mendapatinya, maka lakukanlah dua raka’at shalat Dhuha yang itu bisa mencukupimu”</em> (HR. Abu Daud no.5242, dishahihkan Al Albani dalam <em>Irwaul Ghalil</em> [2/213]).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/6033-soal-177-shalat-dhuha-secara-terus-menerus.html">Bolehkah Shalat Dhuha Secara Terus-menerus?</a></span></p>
<p>Juga hadits dari Abud Darda’ radhiallahu’anhu, ia berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَوْصاني حبيبي بثلاثٍ لنْ أَدَعهنَّ ما عشتُ: بصيامِ ثلاثةِ أيَّامٍ من كلِّ شهرٍ، وصلاةِ الضُّحى، وأنْ لا أنامَ حتى أُوتِرَ</span></p>
<p>“Kekasihku (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) mewasiatkan aku untuk tidak meninggalkan tiga perkara selama aku masih hidup: puasa tiga hari di setiap bulan, shalat dhuha dan tidak tidur sampai aku shalat witir” (HR. Muslim no. 722).</p>
<p>Hadits yang mirip juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَوْصاني خليلي صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بثلاثٍ: صيامِ ثلاثةِ أيَّامٍ من كلِّ شهرٍ، وركعتي الضُّحى، وأنْ أُوتِرَ قبل أن أرقُدَ</span></p>
<p>“Kekasihku (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) mewasiatkan aku utiga perkara: puasa tiga hari di setiap bulan, dua raka’at shalat dhuha dan shalat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari no. 1178, Muslim no. 721).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/2927-soal-27-batas-akhir-sholat-dhuha.html">Kapan Batas Akhir Sholat Dhuha?</a></span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Keutamaan Shalat Dhuha</span></h3>
<p>Shalat dhuha menggantikan kewajiban sedekah untuk semua persendian sebagaimana dalam hadits Abu Dzar dan Buraidah di atas.</p>
<p>Dari Nu’aim bin Hammar Al Ghathafani, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ</span></p>
<p>“<i>Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang</i>” (HR. Tirmidzi no. 475, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no. <span class="color-ae8422">4342</span>).</p>
<p>Shalat dhuha juga disebut sebagai shalat <i>awwabin</i>, yaitu shalatnya orang-orang yang banyak kembali kepada Allah. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صلاةُ الأوَّابينَ حين تَرمَضُ الفِصَالُ</span></p>
<p>“Shalat <i>awwabin</i> adalah ketika anak unta merasakan terik matahari” (HR. Muslim no. 748).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20553-fatwa-ulama-apakah-shalat-sunnah-diputus-ketika-sudah-iqamat.html">Apakah Shalat Sunnah Diputus Ketika Sudah Iqamat?</a></span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Waktu Shalat Dhuha</span></h3>
<p>Waktu pelaksanaannya adalah dimulai ketika matahari meninggi setinggi tombak sampai sebelum zawal, yaitu ketika matahari tegak lurus. Dari Amr bin Abasah <i>radhiallahu’anhu</i>, ia berkata:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قدِم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ، فقدِمْتُ المدينةَ، فدخلتُ عليه، فقلتُ: أخبِرْني عن الصلاةِ، فقال: صلِّ صلاةَ الصُّبحِ، ثم أَقصِرْ عن الصَّلاةِ حين تطلُعُ الشمسُ حتى ترتفعَ؛ فإنَّها تطلُع حين تطلُع بين قرنَي شيطانٍ، وحينئذٍ يَسجُد لها الكفَّارُ، ثم صلِّ؛ فإنَّ الصلاةَ مشهودةٌ محضورةٌ، حتى يستقلَّ الظلُّ بالرُّمح</span></p>
<p>“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, ketika itu aku pun datang ke Madinah. Maka aku pun menemui beliau, lalu aku berkata: wahai Rasulullah, ajarkan aku tentang shalat. Beliau bersabda: kerjakanlah shalat shubuh. Kemudian janganlah shalat ketika matahari sedang terbit sampai ia meninggi. Karena ia sedang terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah ia meninggi, baru shalatlah. Karena shalat ketika itu dihadiri dan disaksikan (Malaikat), sampai bayangan tombak mengecil” (HR. Muslim no. 832).</p>
<p>Sebagian ulama mengatakan bahwa waktu dhuha itu sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ووقتها يبتدئ من ارتفاع الشمس قيد رمح في عين الناظر، وذلك يقارب ربع ساعة بعد طلوعها</span></p>
<p>“Waktu shalat dhuha adalah dimulai ketika matahari meninggi setinggi tombak bagi orang yang melihatnya (matahari). Dan itu sekitar 15 menit setelah ia terbit” (Fatawa Ibnu Baz, https://ar.islamway.net/fatwa/14645).</p>
<p>Dan waktu yang paling utama adalah ketika matahari sudah tinggi dan sinar matahari sudah terik. Dari Zaid bin Arqam radhiallahu’anhu:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أنَّه رأى قومًا يُصلُّون من الضُّحى في مسجدِ قُباءٍ، فقال: أمَا لقَدْ علِموا أنَّ الصلاةَ في غيرِ هذه الساعةِ أفضلُ، قال: ((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى</span></p>
<p>Zaid bin Arqam melihat sekelompok orang yang sedang melaksanakan shalat Dhuha. Kemudian ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda, “Shalat awwabin hendaknya dikerjakan ketika anak unta merasakan terik matahari” (HR. Muslim no. 748).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/18958-fatwa-ulama-shalat-sunnah-sebelum-shalat-maghrib.html">Shalat Sunnah Sebelum Shalat Maghrib</a></span></p>
<p><b>Shalat Isyraq Adalah Shalat Dhuha Di Awal Waktu</b></p>
<p>Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صلَّى الغداةَ في جماعةٍ ثم قعد يذكرُ اللهَ حتى تطلعَ الشمسُ ثم صلَّى ركعتيْنِ كانت لهُ كأجرِ حجَّةٍ وعمرةٍ . قال : قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ ، تَامَّةٍ</span></p>
<p><em>“Seseorang yang shalat subuh secara berjamaah, lalu ia duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit. Kemudian ia shalat dua raka’at, maka pahala yang ia dapatkan seperti haji dan umrah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: sempurna, sempurna, sempurna”</em> (HR. Tirmidzi no. 586, dishahihkan Al Albani dalam <em>Silsilah Ash Shahihah</em> no. 3403).</p>
<p>Dalam hadits ini disebutkan shalat dua rakaat ketika matahari terbit. Yang sering disebut sebagai shalat isyraq. Dan shalat isyraq ini adalah shalat dhuha di awal waktu. Dalam <i>Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah</i> (27/220-221) disebutkan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بتتبُّع ظاهر أقوال الفقهاء والمحدِّثين يتبيَّن: أنَّ صلاة الضحى وصلاة الإشراق واحدةٌ؛ إذ كلهم ذكروا وقتَها من بعد الطلوع إلى الزوال ولم يُفصِّلوا بينهما</span></p>
<p>“Dengan menelusuri perkataan-perkataan pada fuqaha dan ahli hadits jelaslah bahwa shalat dhuha dan shalat isyraq itu sama. Karena mereka semua menyebutkan waktu pelaksanaannya adalah awal terbitnya matahari hingga zawal. Dan mereka tidak membedakannya”.</p>
<p>Maka shalat dhuha yang dikerjakan di awal waktunya, itulah shalat isyraq.</p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Jumlah Raka’at</span></h3>
<p>Shalat dhuha dikerjakan minimal dua raka’at sebagaimana dalam hadits Abu Dzar dan Abu Hurairah di atas. Disebutkan dalam hadits dengan kata “dua rakaat shalat dhuha”.</p>
<p>Namun ulama khilaf mengenai kadar maksimal rakaat shalat dhuha. Jumhur ulama berpendapat maksimal delapan rakaat. Berdasarkan hadits dari Ummu Hani’:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عامَ الفتحِ صلَّى ثمانَ ركعاتٍ سُبحةَ الضُّحى</span></p>
<p>“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di tahun terjadinya Fathu Makkah beliau shalat delapan rakaat shalat dhuha” (HR. Bukhari no. 1103, Muslim no. 336).</p>
<p>Sebagian ulama berpendapat tidak ada batasannya. Dalilnya hadits dari Aisyah radhiallahu’anha,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضُّحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ اللهُ</span></p>
<p>“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dhuha empat raka’at dan beliau biasa menambahkan sesuka beliau” (HR. Muslim no. 719).</p>
<p>Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ath Thabari, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Al Utsaimin.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/13957-soal-288-shalat-sunnahnya-musafir.html">Seperti APa Shalat Sunnahnya Musafir?</a></span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Tata Cara Shalat Dhuha</span></h3>
<p>Tata cara melaksanakan shalat dhuha sama sebagaimana tata cara shalat lainnya. Dikerjakan dengan dua raka’at-dua raka’at, dengan salam setiap dua raka’at. Berdasarkan hadits dari Abdullah bin Umar <i>radhiallahu’anhuma</i>, Nabi <i>Shallallahu’alaihi Wasallam </i>bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صلاةُ اللَّيلِ والنَّهارِ مَثنَى مَثنَى</span></p>
<p>“<i>Shalat (sunnah) di malam dan siang hari, dua rakaat-dua rakaat</i>” (HR. Abu Daud no. 1295, An Nasa-i no. 1665, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).</p>
<p>Syaiikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ويقرأ فيها ما تيسر سوراً أو آيات ليس فيها شيء مخصوص، يقرأ فيها ما تيسر من الآيات أو من السور. وأقلها ركعتان تسليمة واحدة، وإن صلى أربع أو ست أو ثمان أو أكثر يسلم من كل ثنتين فكله حسن</span></p>
<p>“Dalam shalat dhuha (setelah Al Fatihah, pent.) silakan membaca surat atau ayat-ayat apa saja yang dimampui, tidak ada surat atau ayat khusus yang diutamakan. Silakan membaca ayat atau surat apa saja. Jumlah rakaatnya minimal dua rakaat dengan satu salam. Jika ingin shalat empat rakaat atau enam atau delapan rakaat, atau bahkan lebih, dengan salam di setiap dua rakaat, maka ini semua baik” (Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/10014).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/13179-soal-276-menggabungkan-niat-dua-shalat-sunnah.html">Bolehkah Menggabungkan Niat Dua Shalat Sunnah?</a></span></p>
<p><b>Shalat Dhuha Secara Berjama’ah</b></p>
<p>ٍShalat dhuha boleh dilaksanakan secara berjama’ah sesekali. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لا بأس أن يصلي الجماعة بعض النوافل جماعة ولكن لا تكون هذه سنة راتبة كلما صلوا السنة صلوها جماعة</span></p>
<p>“Tidak mengapa melaksanakan sebagian shalat sunnah secara berjama’ah, namun hendaknya tidak dijadikan kebiasaan yang dirutinkan sehingga terus-menerus shalat sunnah berjama’ah” (<i>Majmu’ Fatawa war Rasa’il</i>, 14/335).</p>
<p>Jika shalat dhuha dilaksanakan secara berjama’ah maka dilakukan dengan bacaan yang <i>sirr </i>(lirih). Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أما الصلاة النهارية كصلاة الضحى والرواتب وصلاة الظهر والعصر , فإن السنة فيها الإسرار</span></p>
<p>“Adapun shalat-shalat yang dilakukan di siang hari, seperti shalat dhuha, shalat rawatib, shalat zhuhur, shalat ashar, disunnahkan dilakukan dengan sirr (lirih)” (<i>Fatawa Ibnu Baz</i>, 11/207).</p>
<h3><span style="font-size: 21pt;">Doa Setelah Shalat Dhuha</span></h3>
<p>Tidak terdapat hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang shahih dan <i>sharih </i>(tegas), mengenai doa setelah shalat dhuha. Adapun hadits dari Aisyah <i>radhiallahu’anha</i>:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الضحى، ثم قال: “اللهم اغفر لي، وتب علي، إنك أنت التواب الرحيم” حتى قالها مائة مرة</span></p>
<p>“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah shalat dhuha, kemudian membaca doa: /Allaahummagh firlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim/ (Ya Allah, ampunilah dosaku, dan terimalah taubatku, sungguh Engkau adalah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang). Beliau ucapkan ini 100x” (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 219, dishahihkan Al Albani dalam <i>Shahih Al Adabul Mufrad</i>).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/13160-soal-275-pindah-tempat-saat-shalat-sunnah.html">Haruskah Pindah Tempat saat Shalat Sunnah?</a></span></p>
<p>Yang rajih, ini adalah doa setelah shalat secara umum, bukan hanya shalat dhuha. Sebab disebutkan dalam riwayat lainnya secara mutlak:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قال: رَجُلٌ مِن الأنصارِ- إنَّه سَمِعَ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في صَلاةٍ وهو يقولُ: ربِّ اغفِرْ لي -قال شُعْبةُ: أو قال: اللَّهُمَّ اغفِرْ لي- وتُبْ علَيَّ؛ إنَّك أنتَ التوَّابُ الغَفورُ، مِئَةَ مَرَّةٍ</span></p>
<p>“Seorang lelaki dari kaum Anshar mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam setelah shalat beliau berdoa: /Allaahummagh firlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim/ 100x” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dalam Musnad Ibnu Fudhail, dishahihkan Syu’aib Al Arnauth dalam <i>Takhrij Musnad Ahmad </i>no. 23150).</p>
<p>Namun andaikan seseorang mengamalkan doa ini setelah shalat dhuha, pun tidak mengapa. Selama tidak berkeyakinan bahwa ini adalah doa khusus setelah shalat dhuha. Wallahu a’lam.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/8485-shalat-sunnah-fajar-jangan-sampai-ditinggalkan.html">Shalat Sunnah Fajar, Jangan Sampai Ditinggalkan</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/20587-kumpulan-artikel-fikih-shalat-sesuai-sunnah-nabi.html">Kumpulan Artikel Fikih Shalat Sesuai Sunnah Nabi</a></span></li>
</ul>
<p>Demikian yang bisa kami sampaikan seputar shalat dhuha, semoga bermanfaat. <i>Wabillahi at taufiq was sadaad</i>.</p>
<p>***</p>
<p> </p>
<p>Penulis: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom">Yulian Purnama</a></span></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></span></p>
 