
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barrak</strong></span></p>
<p><strong>Soal:</strong></p>
<p>Apakah benar penafsiran <em>al istiwa’</em> dengan <em>al julus / </em>الجلوس (duduk)? Apakah Allah disifati dengan <em>al julus</em> (duduk)?</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Alhamdulillah</em>, <em>Allah Subhanahu wa Ta’ala</em> telah mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Ia ber-<em>istiwa</em> di atas Arsy dalam 7 tempat dalam Al Qur’an. Dan terdapat juga dalam As Sunnah yang menetapkan bahwa Allah berada di atas Arsy. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman :</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</p>
<p>“<em>Ar Rahman ber-istiwa di atas Arsy</em>” (QS. Thaha: 5)</p>
<p>Dan Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">والعرش فوق الماء والله فوق العرش، ويعلم ما أنتم عليه</p>
<p>“dan Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas Arsy, namun Ia mengetahui apa yang kalian lakukan”.</p>
<p>Dan terdapat riwayat dari para salaf bahwa mereka menafsirkan <em>al istiwa</em> dengan 4 makna:</p>
<ol>
<li>علا (paling tinggi)</li>
<li>ارتفع (tinggi)</li>
<li>استقر (menetap)</li>
<li>صعد (naik)</li>
</ol>
<p>Sebagaimana diisyaratkan Ibnul Qayyim dalam <em>Al Kafiyah Asy Syafiyah</em> (1/440, dengan Syarah Ibnu ‘Isa), yaitu dalam perkataan beliau:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فلهم عبارات عليها أربع … قد حصلت للفارس الطعان<br>
وهي “استقر”، وقد “علا”، وكذلك “ار … تفع” الذي ما فيه من نكران<br>
وكذاك قد “صعد” الذي هو رابع … وأبو عبيدة صاحب الشيباني<br>
يختار هذا القول في تفسيره … أدرى من الجهمي بالقرآن</p>
<p><em>Mereka (salaf) memiliki empat makna dalam menafsirkannya, yang disampaikan Al Faris Al Tha’an</em></p>
<p><em>Yaitu استقر (menetap), dan علا (paling tinggi) demikian juga ارتفع (tinggi) yang tidak ada penolakan di dalamnya</em></p>
<p><em>Demikian juga صعد (naik) yang merupakan yang ke empat. Dan ini juga disampaikan Abu Ubaidah murid Asy Syaibani</em></p>
<p><em>Dan ia memilih pendapat ini dalam tafsirnya, yang ia lebih mengetahui Al Qur’an daripada Jahmiyah</em></p>
<p><strong>Dalam syair ini Ibnul Qayyim tidak menyebutkan lafadz الجلوس (duduk)</strong>. Namun ahlussunnah tidak mengingkari sifat ini, adapun ahlul bid’ah yang mengingkarinya. Sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam <em>Al Aqidah At Tadmuriyyah</em> (238, dengan Syarah Syaikh Al Barrak):</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">فيظن هذا المتوهم أنه تعالى إذا كان مستويا على العرش كان استواؤه مثل استواء المخلوق، فيريد أن ينفي ذلك الذي فهمه فيقول: إن استواءه ليس بقعود، ولا استقرار</p>
<p>“Maka orang yang bingung mengira bahwa Allah <em>Ta’ala</em> jika ber-<em>istiwa</em> di atas Arsy, maka <em>istiwa</em> Allah tersebut sama seperti <em>istiwa</em> makhluk. Sehingga ia ingin untuk menafikannya. Inilah yang ia pahami. Ia berkata: ‘<em>istiwa</em> Allah itu bukan dengan duduk dan bukan dengan menetap'” (demikian nukilan dari Syaikhul Islam, dengan sedikit perubahan dan peringkasan oleh Syaikh Al Barrak).</p>
<p>Dan terdapat atsar (dari para sahabat) yang menyebutkan sifat القعود (duduk) dan الجلوس (duduk). Dan para imam ahlussunnah telah menyebutkan sifat tersebut dalam kitab-kitab as sunnah (baca: aqidah), ketika memaparkan tentang orang-orang yang menafikan sifat <em>al ‘uluw</em> (Maha Tinggi) dan <em>al istiwa</em>. Sebagaimana atsar yang diriwayatkan oleh Muhajid dalam menafsirkan istilah <em>al maqaam al mahmuud</em> :</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">بإقعاد النبي صلى الله عليه وسلم على العرش</p>
<p>“maksudnya adalah ditempatkannya Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dengan keadaan duduk di atas Arsy”</p>
<p>Walaupun (keshahihan) atsar ini tidak lepas dari kritikan, namun para imam ahlussunnah menyebutkannya untuk <em>istisyhad</em> (dalil pendukung), dan <em>i’tidhad</em> (dalil sekunder) bukan untuk <em>i’timad</em> (dalil utama). Dan lebih dari satu ulama ahlussunnah telah menukil ijma tentang shahihnya penafsirkan makna <em>al maqaam al mahmuud</em> bahwa maknanya adalah ditempatkannya Nabi <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dengan keadaan duduk di atas Arsy.</p>
<p>Hal ini tidak ada yang mengingkarinya kecuali kaum Jahmiyah. <strong>Maka jelas bahwa lafadz القعود (duduk) dan الجلوس (duduk) tidak dinafikan dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Adapun menetapkan sifat tersebut dan menyifati Allah dengan sifat tersebut, maka membutuhkan dalil yang shahih tentang hal ini</strong>. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <em>Liqa’at Multaqa Ahlil Hadits bil Ulama</em>, 2/44, Asy Syamilah</p>
<p>Kesimpulan penerjemah:</p>
<p>Ahlussunnah tidak menetapkan sifat <em>Julus</em> dan juga tidak menafikan.</p>
<p>—</p>
<p>Penerjemah: Yulian Purnama</p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 