
<p><span style="font-size: x-small;">Dewasa ini berkembang dalam skala besar lembaga keuangan berlebel syari’at dengan menawarkan produk-produknya yang beraneka ragam dengan istilah-istilah berbahasa Arab. Banyak masyarakat yang masih bingung dengan istilah-istilah tersebut dan masih ragu apakah benar semua produk tersebut adalah benar-benar jauh dari pelanggaran syari’at ataukah hanya rekayasa semata.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Melihat banyaknya pertanyaan seputar ini maka dalam rubrik fikih kali ini kami angkat salah satu produk tersebut untuk melihat kehalalannya dalam tinjauan fikih islami.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Jual beli Murabahah (</span><span style="font-size: x-small;"><em>Bai’ al-Murabahah</em></span><span style="font-size: x-small;">) demikianlah istilah yang banyak diusung lembaga keuangan tersebut sebagai bentuk dari </span><span style="font-size: x-small;"><em>Financing</em></span><span style="font-size: x-small;"> (pembiayaan) yang memiliki prospek keuntungan yang cukup menjanjikan. Sehingga semua atau hampir semua lembaga keuangan syari’at menjadikannya sebagai produk financing dalam pengembangan modal mereka</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote1anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;">. </span></p>
<p style="color: #660000;" align="left"> </p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong>Nama Lain Jual Beli Murabahah ini</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Jual beli Murabahah yang dilakukan lembaga keuangan syari’at ini dikenal dengan nama-nama sebagai berikut:</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><em>1. al-Murabahah lil Aamir bi Asy-Syira`</em></span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><em>2. al-Murabahah lil Wa’id bi Asy-Syira`</em></span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><em>3. Bai’ al-Muwa’adah</em></span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><em>4. al-Murabahah al-Mashrafiyah</em></span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><em>5. al-Muwaa’adah ‘Ala al-Murabahah</em></span><span style="font-size: x-small;">.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote2anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Sedangkan dinegara indonesia dikenal dengan jual beli </span><span style="font-size: x-small;"><em>Murabahah </em></span><span style="font-size: x-small;">atau </span><span style="font-size: x-small;"><em>Murabahah</em></span><span style="font-size: x-small;"> kepada pemesanan pembelian (KPP)</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote3anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></span></sup></p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Definisi Jual-Beli Murabahah (</strong></small></span><span style="font-size: medium;"><small><em><strong>Deferred Payment Sale</strong></em></small></span><span style="font-size: medium;"><small><strong>)</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Kata al-Murabahah diambil dari bahasa Arab dari kata ar-ribhu  </span><span style="font-size: x-small;">yang berarti kelebihan dan tambahan (keuntungan)</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote4anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;">. Sedangkan dalam definisi para ulama terdahulu adalah jual beli dengan modal ditambah keuntungan yang diketahui. </span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote5anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;"> Hakekatnya adalah menjual barang dengan harga (modal) nya yang diketahui kedua belah transaktor (penjual dan pembeli) dengan keuntungan yang diketahui keduanya. Sehingga penjual menyatakan modalnya adalah seratus ribu rupiah dan saya jual kepada kamu dengan keuntungan sepuluh ribu rupiah.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Syeikh Bakr Abu Zaid menyatakan: (Inilah pengertian yang ada dalam pernyataan mereka: Saya menjual barang ini dengan sistem murabahah…rukun akad ini adalah pengetahuan kedua belah pihak tentang nilai modal pembelian dan nilai keuntungannya, dimana hal itu diketahui kedua belah pihak maka jual belinya shohih dan bila tidak diketahui maka batil. Bentuk jual beli Murabahah seperti ini adalah boleh tanpa ada khilaf diantara ulama, sebagaimana disampaikan ibnu Qudaamah</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote6anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;">, bahkan Ibnu Hubairoh</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote7anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;"> menyampaikan ijma’ dalam hal itu demikian juga al-Kaasaani</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote8anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;">.).</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote9anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Inilah jual beli Murabahah yang ada dalam kitab-kitab ulama fikih terdahulu. Namun jual beli Murabahah yang sedang marak dimasa ini tidak lah demikian bentuknya. Jual beli Murabahah sekarang berlaku di lembaga-lembaga keuangan syari’at lebih komplek dari pada yang berlaku dimasa lalu</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote10anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;">. Oleh karena itu para ulama kontemporer dan para peneliti ekonomi islam memberikan definisi berbeda sehingga apakah hukumnya sama atakah berbeda?</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Diantara definisi yang disampaikan mereka adalah:</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. Bank melaksanakan realisai permintaan orang yang bertransaksi dengannya dengan dasar pihak pertama (Bank) membeli yang diminta pihak kedua (nasabah) dengan dana yang dibayarkan bank –secara penuh atau sebagian- dan itu dibarengi dengan keterikatan pemohon untuk membeli yang ia pesan tersebut dengan keuntungan yang disepakati didepan (diawal transaksi).</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote11anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">2. Lembaga keuangan bersepakat dengan nasabah agar lembaga keuangan melakukan pembelian barang baik yang bergerak (dapat dipindah) atau tidak. Kemudian nasabah terikat untuk membelinya dari lembaga keuangan tersebut setelah itu dan lembaga keuangan itupun terikat untuk menjualnya kepadanya. Hal itu dengan harga didepan atau dibelakang dan ditentukan nisbat tambahan (profit) padanya atas harga pembeliaun dimuka.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote12anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">3. Orang yang ingin membeli barang mengajukan permohonan kepada lembaga keuangan, karena ia tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar kontan nilai barang tersebut dan karena penjual (pemilik barang) tidak menjualnya secara tempo. Kemudian lembaga keuangan membelinya dengan kontan dan menjualnya kepada nasabah (pemohon) dengan tempo yang lebih tinggi.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote13anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></span></sup></p>
<p><span style="font-size: x-small;">4. Ia adalah yang terdiri dari tiga pihak; penjual, pembeli dan bank dengan tinjauan sebagai pedagang perantara antara penjual pertama (pemilik barang) dan pembeli. Bank tidak membeli barang tersebut disini kecuali setelah pembeli menentukan keinginannya dan adanya janji memberi dimuka.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote14anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Definis-definisi diatas cukup jelas memberikan gambaran jual beli murabahah KPP ini.</span></p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Bentuk Gambarannya</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Dari definisi diatas dan praktek yang ada di lingkungan lembaga keuangan syariat didunia dapat disimpulkan ada tiga bentuk: </span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. Pelaksanaan janji yang mengikat dengan kesepakatan antara dua pihak sebelum lembaga keuangan menerima barang dan menjadi miliknya dengan menyebutkan nilai keuntungannya dimuka</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote15anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;">. Hal itu dengan datangnya nasabah kepada lembaga keuangan memohon darinya untuk membeli barang tertentu dengan sifat tertentu. Keduanya bersepakat dengan ketentuan lembaga keuangan terikat untuk membelikan barang dan nasabah terikat untuk membelinya dari lembaga keuangan tersebut. Lembaga keuangan terikat harus menjualnya kepada nasabah dengan nilai harga yang telah disepakati keduanya baik nilai ukuran, tempo dan keuntungannya.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote16anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></span></sup><span style="font-size: x-small;"> </span></p>
<p><span style="font-size: x-small;"><br> 2. Pelaksanaan janji (al-Muwaa’adah) tidak mengikat pada kedua belah pihak. Hal itu dengan ketentuan nasabah yang ingin membeli barang tertentu, lalu pergi ke lembaga keuangan dan terjadi antara keduanya perjanjian dari nasabah untuk membeli dan dari lembaga keuangan untuk membelinya. Janji ini tidak dianggap kesepakatan sebagaimana juga janji tersebut tidak mengikat pada kedua belah pihak. Bentuk gambaran ini bisa dibagi dalam dua keadaan:</span></p>
<div style="margin-left: 40px;">
<span style="font-size: x-small;"><br> – Pelaksanaan janji tidak mengikat tanpa ada penentuan nilai keuntungan dimuka.</span><br> <span style="font-size: x-small;">– Pelaksanaan janji tidak mengikat dengan adanya penentuan nilai keuntungan yang akan diberikannya.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote17anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote17sym"><sup>17</sup></a></span></sup>
</div>
<p><span style="font-size: x-small;"><br> 3. Pelaksanaan janji mengikat lembaga keuangan tanpa nasabah. Inilah yang diamalkan di bank Faishol al-Islami disudan. Hal itu dengan ketentuan akad transaksi mengikat bank dan tidak mengikat nasabah sehingga nasabah memiliki hak Khiyar (memilih) apabila melihat barangnya untuk menyempurnakan transaksi atau menggagalkannya. </span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote18anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote18sym"><sup>18</sup></a></span></sup></p>
<p style="color: #660000;" lang="fr-FR" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Pernyataan para Ulama terdahulu tentang Jenis jual beli ini</strong></small></span></small></p>
<p lang="fr-FR" align="left"><span style="font-size: x-small;">Permasalahan jual belia murabahah KPP ini sebenarnya bukanlah perkara kontemporer dan baru (Nawaazil) namun telah dijelaskan para ulama terdahulu. Berikut ini sebagian pernyataan mereka:</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><span lang="fr-FR">Imam As-Syafi’i menyatakan: Apabila seorang menunjukkan kepada orang lain satu barang seraya berkata: Belilah itu dan saya akan berikan keuntungan padamu sekian. Lalu ia membelinya maka jual belinya boleh dan yang menyatakan: Saya akan memberikan keuntungan kepadamu memiliki hak pilih (Khiyaar), apabila ia ingin maka ia akan melakukan jual-beli dan bila tidak maka ia akan tinggalkan. Demikian juga jika ia berkata: ‘Belilah untukku barang tersebut’. Lalu ia mensifatkan jenis barangnya atau ‘barang’ jenis apa saja yang kamu sukai dan saya akan memberika keuntungan kepadamu’, semua ini sama. Diperbolehkan pada yang pertama dan dalam semua yang diberikan ada hak pilih (Khiyaar). Sama juga dalam hal ini yang disifatkan apabila menyatakan: Belilah dan aku akan membelinya darimu dengan kontan atau tempo. </span></span><span style="font-size: x-small;">Jual beli pertamam diperbolehkan dan harus ada hak memilih pada jual beli yang kedua. Apabila keduanya memperbaharui (akadnya) maka boleh </span><span style="font-size: x-small;"><em><strong>dan bila berjual beli dengan itu dengan ketentuan adanya keduanya mengikat diri (dalam jual beli tersebut) maka ia termasuk dalam dua hal:</strong></em></span></p>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;"><em><strong>1. Berjual beli sebelum penjual memilikinya<br> 2. Berada dalam spekulasi (Mukhathorah).</strong></em></span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote19anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote19sym"><sup>19</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Imam ad-Dardier dalam kitab asy-Syarhu ash-Shaghir 3/129 menyatakan: al-‘Inah adalah jual beli orang yang diminta darinya satu barang untuk dibeli dan (barang tersebut) tidak ada padanya untuk (dijual) kepada orang yang memintanya setelah ia membelinya adalah boleh kecuali yang minta menyatakan: Belilah dengan sepuluh secara kontan dan saya akan ambil dari kamu dengan dua belas secara tempo. Maka ia dilarang padanya karena tuduhan (hutang yang menghasilkan manfaat), karena seakan-akan ia meminjam darinya senilai barang tersebut untuk mengambil darinya setelah jatuh tempo dua belas.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote20anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote20sym"><sup>20</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Jelaslah dari sebagian pernyataan ulama fikih terdahulu ini bahwa mereka menyatakan pemesan tidak boleh diikat untuk memenuhi kewajiban membeli barang yang telah dipesan. Demikian juga the islamic Fiqih Academy (Majma’ al-Fiqih al-Islami) menegaskan bahwa jual beli </span><span style="font-size: x-small;"><em>muwaada’ah</em></span><span style="font-size: x-small;"> yang ada dari dua pihak dibolehkan dalam jual beli murabahah dengan syarat </span><span style="font-size: x-small;"><em>al-Khiyaar</em></span><span style="font-size: x-small;"> untuk kedua transaktor seluruhnya atau salah satunya. Apa bila tidak ada hak </span><span style="font-size: x-small;"><em>al-Khiyaar</em></span><span style="font-size: x-small;"> disana maka tidak boleh, karena al-Muwaa’adah yang mengikat (al-Mulzamah) dalam jual beli al-Murabahah menyerupai jual beli itu sendiri, dimana disyaratkan pada waktu itu penjual telah memiliki barang tersebut hingga tidak ada pelanggaran terhadap larangan nabi n tentang seorang menjual yang tidak dimilikinya.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote21anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote21sym"><sup>21</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Syeikh Abdulaziz bin Baaz ketika ditanya tentang jual beli ini menjawab: Apabila barang tidak ada dipemilikan orang yang menghutangkannya atau dalam kepemilikannya namun tidak mampu menyerahkannya maka ia tidak boleh menyempurnakan akad transaksi jual belinya bersama pembeli. Keduanya hanya boleh bersepakat atas harga dan tidak sempurna jual beli diantara keduanya hingga barang tersebut dikepemilikan penjual.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote22anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote22sym"><sup>22</sup></a></span></sup></p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Hukum Bai’ Murabahah dengan pelaksanaan janji yang tidak mengikat (Ghairu al-Mulzaam)</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Telah lalu bentuk kedua dari murabahah dengan pelaksanaan janji yang tidak mengikat ada dua :</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. pelaksanaan janji tidak mengikat tanpa ada penentuan nilai keuntungan dimuka. Hal ini yang rojih adalah boleh dalam pendapat madzhab Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah. Hal itu karena tidak ada dalam bentuk ini ikatan kewajiban menyempurnakan janji untuk bertransaksi atau penggantian ganti kerugian. Seandainya barang tersebut hilang atau rusak maka nasabah tidak menanggungnya. Sehingga lembaga keuangan tersebut bersepekulasi dalam pembelian barang dan tidak yakin nasabah akan membelinya dengan memberikan keuntungan kepadanya. Seandainya salah satu dari keduanya berpaling dari keinginannya maka tidak ada ikatan kewajiban dan tidak ada satupun akibat yang ditanggungnya. </span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote23anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote23sym"><sup>23</sup></a></span></sup></p>
<p><span style="font-size: x-small;">2. Pelaksanaan janji tidak mengikat dengan adanya penentuan nilai keuntungan yang akan diberikannya, maka ini dilarang karena masuk dalam kategori al-‘Inah sebagaimana disampaikan Ibnu Rusyd dalam kitabnya al-Muqaddimah dan inilah yang dirojihkan Syeikh bakr Abu Zaid.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote24anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote24sym"><sup>24</sup></a></span></sup></p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Hukum Ba’I Murabahah dengan pelaksanaan janji yang mengikat</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Untuk mengetahui hukum ini maka kami sampaikan beberapa hal yang berhubungan langsung dengannya.</span></p>
<p style="color: #000099;" align="left"><span style="font-size: x-small;"><strong><br> Langkah proses Murabahah KPP bentuk ini.</strong></span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Mu’amalah jual beli murabahah KPP melalui beberapa langkah tahapan, diantara yang terpenting adalah:</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. Pengajuan permohonan nasabah untuk pembiayaan pembelian barang.</span></p>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan pihak yang berjanji untuk membeli barang yang diinginkan dengan sifat-sifat yang jelas</span></p>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan pihak yang berjanji untuk membeli tentang lembaga tertentu dalam pembelian barang tersebut</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">2. Lembaga keuangan mempelajari formulir atau proposal yang diajukan nasabah.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">3. Lembaga keuangan mempelajari barang yang diinginkan </span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">4. Mengadakan kesepakatan janji pembelian barang</span></p>
<div style="margin-left: 40px;">
<span style="font-size: x-small;">– Mengadakan perjanjian yang mengikat</span><br> <span style="font-size: x-small;">– Membayar sejumlah jaminan untuk menunjukkan kesungguhan pelaksanaan janji.</span><br> <span style="font-size: x-small;">– Penentuan nisbat keuntungan dalam masa janji.</span><br> <span style="font-size: x-small;">– Lembaga keuangan mengambil jaminan dari nasabah ada masa janji ini.</span>
</div>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">5. Lembaga keuangan mengadakan transaksi dengan penjual barang (pemilik pertama)</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">6. Penyerahan dan kepemilikan barang oleh lembaga keuangan</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">7. Transaksi lembaga keuangan dengan nasabah.</span></p>
<div style="margin-left: 40px;"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan harga barang</span></div>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan biaya pengeluaran yang memungkinkan untuk dimasukkan kedalam harga.</span></p>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan nisbat keuntungan (profit)</span></p>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan syarat-syarat pembayaran.</span></p>
<div style="margin-left: 40px;"><span style="font-size: x-small;">– Penentuan jaminan-jaminan yang dituntut.</span></div>
<p> <span style="font-size: x-small;">Demikianlah secara umum langkah proses jual beli Murabahah </span><span style="font-size: x-small;">KPP yang kami ambil secara bebas dari kitab al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal. 261-162. sedangkan dalam buku Bank syari’at dari teori ke praktek hal. 107 memberikan skema bai’ Murabahah sebagai berikut:</span><span style="font-size: x-small;"><strong><br> <br style="color: #000099;"> <span style="color: #000099;"><br> Aqad ganda (Murakkab) dalam Murabahah KPP bentuk ini.</span></strong></span><sup style="color: #000099;"><span style="font-size: x-small;"><strong><a name="sdfootnote25anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote25sym"><sup>25</sup></a></strong></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><span lang="fr-FR">Dar</span></span><span style="font-size: x-small;"><span lang="fr-FR">i keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa jual beli murabahah KPP ini terdiri dari:</span></span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. Ada tiga pihak yang terkait yaitu:</span></p>
<div style="margin-left: 40px;">
<span style="font-size: x-small;">a. Pemohon atau pemesan barang dan ia adalah pembeli barang dari lembaga keuangan </span><br> <span style="font-size: x-small;">b. Penjual barang kepada lembaga keuangan</span><br> <span style="font-size: x-small;">c. Lembaga keuangan yang memberi barang sekaligus penjual barang kepada pemohon atau pemesan barang.</span>
</div>
<p> <span style="font-size: x-small;">3. ada dua akad transaksi yaitu:</span></p>
<div style="margin-left: 40px;">
<span style="font-size: x-small;">a. Akad dari penjual barang kepada lembaga keuangan </span><br> <span style="font-size: x-small;">b. Akad dari lembaga keuangan kepada pihak yang minta dibelikan (pemohon)</span>
</div>
<p><span style="font-size: x-small;"><br> 3. Ada tiga janji yaitu :</span></p>
<p style="margin-left: 40px;" lang="fr-FR" align="left"><span style="font-size: x-small;">a. Janji dari lembaga keuangan untuk membeli barang</span></p>
<p style="margin-left: 40px;" align="left"><span style="font-size: x-small;">b. Janji mengikat dari lembaga keuangan untuk membali barang untuk pemohon</span></p>
<div style="margin-left: 40px;"><span style="font-size: x-small;">c. Janji mengikat dari pemohon (nasabah) untuk membeli barang tersebut dari lembaga keuangan.</span></div>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Dari sini jelaslah bahwa jual beli murabahah KPP ini adalah jenis akad berganda ( al-‘Uquud al-Murakkabah) yang tersusun dari dua akad, tiga janji dan ada tiga pihak. Setelah meneliti muamalah ini dan langkah prosesnya akan tampak jelas ada padanya dua akad transaksi dalam satu akad transaksi, namun kedua akad transaksi ini tidak sempurna prosesnya dalam satu waktu dari sisi kesempurnaan akadnya, karena keduanya adalah dua akad yang tidak diikat oleh satu akad. Bisa saja disimpulkan bahwa dua akad tersebut saling terkait dengan satu sebab yaitu janji yang mengikat dari kedua belah pihak yaitu lembaga keuangan dengan nasabahnya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Berdasarkan hal ini maka jual beli ini menyerupai pensyaratan akad dalam satu transaksi dari sisi yang mengikat sehingga dapat dinyatakan dengan ungkapan: Belikan untuk saya barang dan saya akan berikan untung kamu dengan sekian.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Hal ini karena barang pada akad pertama tidak dimiliki oleh lembaga keuangan, namun akan dibeli dengan dasar janji mengikat untuk membelinya. Dengan melihat kepada muamalah ini dari seluruh tahapannya dan kewajiban-kewajiban yang ada padanya jelaslah bahwa ini adalah mu’amalah murakkabah secara umum dan juga secara khusus dalam tinjauan kewajiban yang ada dalam muamalah ini. Berbeda dengan Murabahah yang tidak terdapat janji yang mengikat (Ghairu al-Mulzaam) yang merupakan akad yang tidak saling terikat, sehingga jelas hukumnya berbeda.</span></p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Hukumnya</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Yang rojih dalam masalah ini adalah tidak boleh dengan beberapa argumen diantaranya :</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. Kewajiban mengikat dalam janji pembelian sebelum kepemilikan penjual barang tersebut masuk dalam larangan Rasululloh shallallahu `alaihi wa sallam menjual barang yang belum dimiliki. Kesepakatan tersebut pada hakekatnya adalah akad dan bila kesepakatan tersebut diberlakukan maka ini adalah akad batil yang dilarang, karena lembaga keuangan ketika itu menjual kepada nasabah sesuatu yang belum dimilikinya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">2. Muamalah seperti ini termasuk al-Hielah (rekayasa) atas hutang dengan bunga, karena hakekat transaksi adalah jual uang dengan uang lebih besar darinya secara tempu dengan adanya barang penghalal diantara keduanya.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">3. Murabahah jenis ini masuk dalam larangan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam hadits yang artinya:</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-style: italic;">“Rasululloh shallallahu `alaihi wa sallam melarang dari dua transaksi jual beli dalam satu jual beli”</span> (HR at-Tirmidzi dan dishohihkan al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil 5/149).</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Al-Muwaa’adah apabila mengikat kedua belah pihak maka menjadi aqad (transaksi) setelah sebelumnya hanya janji, sehingga ada disana dua akad dalam satu jual beli.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote26anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote26sym"><sup>26</sup></a></span></sup></p>
<p style="color: #660000;" align="left"><small><span style="font-size: medium;"><small><strong><br> Ketentuan diperbolehkannya</strong></small></span></small></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Syeikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid menjelaskan ketentuan diperbolehkannya jual beli murabahah KPP ini dengan menyatakan bahwa jual beli Muwaa’adah diperbolehkan dengan tiga hal:</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. Tidak terdapat kewajiban mengikat untuk menyempurnakan transaksi baik secara tulisan ataupun lisan sebelum mendapatkan barang dengan kepemilikan dan serah terima.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">2. Tidak ada kewajiban menanggung kehilangan dan kerusakan barang dari salah satu dari dua belah pihak baik nasabah atau lembaga keuangan, namun tetap kembali menjadi tanggung jawab lembaga keuangan.</span></p>
<p><span style="font-size: x-small;">3. Ttidak terjadi transaksi jual beli kecuali setelah terjadi serah terima barang kepada lembaga keuangan dan sudah menjadi miliknya.</span><sup><span style="font-size: x-small;"><a name="sdfootnote27anc" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote27sym"><sup>27</sup></a></span></sup></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Demikianlah hukum jual beli ini menurut pendapat ulama syari’at, mudah-mudahan dapat memperjelas permasalahan ini.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">Wabillahi Taufiq.</span></p>
<p style="color: #990000;" align="left"><strong><span style="font-size: x-small;"><br> Referensi:</span></strong></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">1. al-‘Uqud al-Maaliyah al-Murakkabah</span><span style="font-size: x-small;"> –dirasah Fiqhiyah Ta’shiliyah wa Tathbiqiyah-, DR. Abdullah </span><span style="font-size: x-small;">bin Muhammad bin Abdullah al-‘Imraani, cetakan pertama tahun 1427 H, Kunuz Isybiliya`</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">2. Fiqhu an-Nawaazil –Qadhaya Fiqhiyah al-Mu’asharah-, DR. Bakr bin ABdillah abu Zaid, c</span><span style="font-size: x-small;">etakan pertama tahun 1416 H, Muassasah ar-Risalah.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">3. al-Bunuuk al-Islamiyah Baina an-Nazhoriyah wa at -Tathbiiq, Prof. DR. Abdullah Ath-Thoyaar, cetakan kedua tahun 1414 H , Dar al-Wathon.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">4. Bank Syariah dari teori ke praktek, Muhammad Syafi’I Antonio, cetakan kesembilan tahun 2005 M, Gema Insani Press.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;">5. Himpunan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional MUI, edisi revisi tahun 2006 M, cetakan ketiga tahun 1427 H.</span></p>
<p align="left"><span style="font-size: x-small;"><span lang="fr-FR">6. al-Fiqhu al-Muyassar-Qismu al-Mu’amalaat- Prof. DR. </span></span><span style="font-size: x-small;">Abdullah Ath-Thoyaar, prof. DR. Abdulah bin Muhammad al-Muthliq dan DR. Muhammad bin Ibrohim Al Musa, cetakan pertama tahun 1425 H , Dar al-Wathon.</span></p>
<p><span style="font-size: x-small;">7. dll.</span></p>
<p align="left"><strong style="color: #990000;"><br> Footnote:</strong></p>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="OLE_LINK1"></a><a name="sdfootnote1sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote1anc">1</a> Lihat al-Bunuuk al-Islamiyah Baina an-Nazhoriyah wa at-Tathbiiq, Prof. DR. Abdullah Ath-Thoyaar hal. 307</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote2sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote2anc">2</a> Kelima nama ini disebutkan dalam al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal 260-261</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote3sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote3anc">3</a> Lihat Bank Syari’ah dari teori ke praktek, Muhammad Syafi’I Antonio, hal 103.</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote4sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote4anc">4</a> Lihat al-Qaamus al-Muhith hal. 279</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote5sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote5anc">5</a> Al-‘Uquud al-Murakkabah hal 257.</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote6sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote6anc">6</a> Al-Mughni 4/259</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote7sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote7anc">7</a> Al-Ifashoh 2/350 dinukil dari Fiqhu an-Nawaazil, Bakr bin Abdillah Abu Zaid 2/64</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote8sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote8anc">8</a> Bada’I ash-Shanaa’I 7/92.</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote9sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote9anc">9</a> Fiqhu an-Nawaazil, Bakr bin Abdillah Abu Zaid 2/64</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote10sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote10anc">10</a> Penulis pernah melakukan dialog tentang hal ini dengan dua orang pegawai salah satu lembaga keuangan syari’at dikediaman penulis pada hari Kamis tanggal 3 april 2008 M ba’da Ashar.</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote11sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote11anc">11</a> Bai’ al-Murabahah lil Aamir bi asy-Syira` karya Saami Hamud dalam kumpulan Majalah Majma’ al-Fiqh al-Islami edisi kelima (2/1092) dinukil dari al-‘Uquud al-Maaliyah al-Murakkabah hal. 257.</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote12sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote12anc">12</a> Lihat Bai’ al-Murabahah Kamaa Tajriha al-Bunuuk al-Islamiyah Muhammad al-Asyqar hal. 6-7 dinukil dari al-‘Uquud al-maaliyah al-Murakabah hal. 257</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote13sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote13anc">13</a> al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal 258</p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote14sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote14anc">14</a> Ibid</p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote15sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote15anc">15</a> Fikih Nawazil 2/90</p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote16sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote16anc">16</a> al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal 259</p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote17sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote17anc">17</a> Lihat Fikih Nawazil 2/90 dan al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal 259</p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote18sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote18anc">18</a> Lihat al-Bunuuk al-Islamiyah Baina an-Nazhoriyah wa at-Tathbiiq hal. 308</p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote19sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote19anc">19</a> Lihat al-Umm dan ini kami nukil dari Fikih Nawazil 2/88-89</p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote20sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote20anc">20</a> Dinukil dari Fikih Nawazil 2/88</p>
</div>
<div id="sdfootnote21">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote21sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote21anc">21</a> Lihat al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal. 267</p>
</div>
<div id="sdfootnote22">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote22sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote22anc">22</a> Majalah al-Jami’ah al-Islamiyah edisi satu tahun kelima Rajab 1392 hal 118 dinukil dari al-Bunuuk al-Islamiyah hal. 308.</p>
</div>
<div id="sdfootnote23">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote23sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote23anc">23</a> Lihat Fikih Nawazil 2/90</p>
</div>
<div id="sdfootnote24">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote24sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote24anc">24</a> ibid</p>
</div>
<div id="sdfootnote25">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote25sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote25anc">25</a> Lihat al-‘Uquud al-Maliyah al-Murakkabah hal. 265-266</p>
</div>
<div id="sdfootnote26">
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote26sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote26anc">26</a> Untuk lebih lengkapnya silahkan merujuk pada kitab al-‘Uqud al-Maaliyah al-Murakkabah hal 267-284 dan Fikih Nawazil 2/ 83-96</p>
</div>
<p class="sdfootnote" align="left"><a name="sdfootnote27sym" href="http://finance.groups.yahoo.com/group/pengusaha-muslim/message/7615#sdfootnote27anc">27</a> Fikih Nawazil 2/97 dengan sedikit perubahan.</p>
<p class="sdfootnote" align="left">—————————————</p>
<p><span style="font-size: x-small;">Sumber: Artikel ini dikirimkan langsung oleh </span><span style="font-size: x-small;">Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. kepada kami.</span><span style="font-size: x-small;"> Artikel ini pernah dimuat di majalah As-Sunnah.</span></p>
 