
<p><em>Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.</em></p>
<h2><strong>Hakikat tauhid yang menjadi tujuan penciptaan manusia</strong></h2>
<p>Tauhid <em>rububiyyah</em> adalah mengesakan Allah <em>Ta’ala</em> dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya. Misalnya, meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pemberi rezeki, penguasa, dan pemilik seluruh alam, yang memuliakan dan merendahkan, yang mahakuasa atas segala sesuatu, yang mengatur siang dan malam, dan yang menghidupkan dan mematikan. Allah <em>Ta’ala</em> telah menetapkan fitrah pada seluruh manusia untuk mengakui keesaan Allah <em>Ta’ala</em> dalam hal <em>rububiyyah</em> ini. Bahkan kaum musyrikin sekalipun yang melakukan ibadah kepada selain-Nya juga mengakui keesaan-Nya dalam hal <em>rububiyyah</em> <strong>[1]</strong>.</p>
<p>Barangsiapa yang mengakui tauhid <em>rububiyyah,</em> maka wajib baginya untuk beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> – semata – sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Barangsiapa yang mengakui bahwa Allah <em>Ta’ala</em> adalah pencipta dirinya, pemberi rezeki baginya, dan yang mencurahkan kepadanya segala bentuk kenikmatan, maka wajib atasnya untuk bersyukur kepada Allah <em>Ta’ala</em> atas hal itu dengan cara beribadah kepada-Nya semata dan tidak kepada selain-Nya <strong>[2]</strong>.</p>
<p>Syaikh Shalih Al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> berkata, “Bukanlah makna tauhid sebagaimana apa yang dikatakan oleh orang-orang <em>jahil </em>(bodoh) dan orang-orang sesat yang mengatakan bahwa tauhid adalah dengan Anda mengakui bahwa Allah lah sang pencipta dan pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, dan yang mengatur segala urusan. Ini tidak cukup. Orang-orang musyrik dahulu telah mengakui perkara-perkara ini namun hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam …” <strong>[3]</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57981-letak-pentingnya-tauhid-dan-keimanan.html" data-darkreader-inline-color="">Letak Pentingnya Tauhid dan Keimanan</a></strong></p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥</strong></span></p>
<p><em>“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” </em><strong>(QS. Al-Anbiyaa: 25)</strong></p>
<p>Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۖ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُفۡتَرُونَ ٥٠</strong></span></p>
<p><em>“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</em> <strong>(QS. Hud: 50)</strong></p>
<p>Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul <em>‘alaihimush shalatu was salam</em> <strong>[4]</strong>.</p>
<p>Tauhid yang menjadi tujuan penciptaan dan hikmah diutusnya para rasul itu adalah tauhid <em>uluhiyyah</em> atau disebut juga tauhid <em>al-qashd wa ath-thalab</em>, yaitu mengesakan Allah dalam hal keinginan dan tuntutan, mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya, beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Adapun tauhid <em>rububiyyah</em> dan tauhid <em>asma’ wa shifat</em>, disebut juga tauhid <em>al-‘ilmi wal i’tiqad</em>, maka kebanyakan umat manusia telah mengakuinya. Dalam hal tauhid <em>uluhiyyah</em>, atau tauhid ibadah, kebanyakan mereka menentangnya. Ketika rasul berkata kepada mereka,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ</strong></span></p>
<p><em>“(Hud berkata), “Sembahlah Allah saja, tidak ada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”</em> <strong>(QS. Al-A’raf: 65)</strong></p>
<p>mereka (kaum Nabi Hud) berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا</strong></span></p>
<p><em>“Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?’”</em> <strong>(QS. Al-A’raf: 70)</strong></p>
<p>Orang-orang musyrik Quraisy pun mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ٥</strong></span></p>
<p><em>“Apakah dia (Muhammad) hendak menjadikan sesembahan yang banyak ini menjadi satu sesembahan saja. Sesungguhnya hal ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.”</em> <strong>(QS. Shad: 5)</strong> <strong>[5]</strong></p>
<p>Tauhid inilah jenis tauhid yang paling agung. Tauhid yang paling penting. Tauhid ini pun telah mencakup jenis-jenis tauhid yang lainnya (yaitu tauhid <em>rububiyyah</em> dan <em>asma’ wa shifat</em>, pent). Tauhid inilah yang menjadi tujuan penciptaan jin dan manusia serta misi dakwah para rasul. Tauhid inilah yang menjadi muatan pokok kitab-kitab yang diturunkan Allah. Di atas perkara tauhid inilah ditegakkan hisab kelak di akhirat. Disebabkan persoalan tauhid inilah orang akan masuk surga atau neraka. Dan dalam hal tauhid inilah, akan terjadi persengketaan antara para rasul dengan umat-umatnya kelak di hari kiamat <strong>[6]</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57535-menengok-agungnya-muatan-kitab-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Menengok Agungnya Muatan Kitab Tauhid</a></strong></p>
<h2><strong>Pembagian tauhid menjadi tiga </strong></h2>
<p>Mentauhidkan Allah <em>Ta’ala </em>dalam hal <em>rububiyyah</em> maksudnya adalah meyakini bahwa Allah itu esa dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya seperti mencipta, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam perkara-perkara ini <strong>[7]</strong>.</p>
<p>Mentauhidkan Allah dalam hal <em>uluhiyyah</em> maksudnya adalah mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti dalam berdoa, merasa takut, berharap, tawakal, <em>isti’anah</em>, <em>isti’adzah</em>, <em>istighotsah</em>, menyembelih, bernazar, dan sebagainya. Oleh sebab itu, ibadah-ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya siapa pun ia; apakah dia malaikat ataupun nabi, terlebih lagi selain mereka <strong>[7]</strong>.</p>
<p>Mentauhidkan Allah <em>Ta’ala</em> dalam hal <em>asma’ wa shifat</em> maksudnya adalah menetapkan segala nama dan sifat Allah <em>Ta’ala</em> yang telah ditetapkan oleh Allah <em>Ta’ala</em> sendiri atau oleh rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya tanpa melakukan <em>takyif</em> (membagaimanakan) dan tanpa <em>tamtsil</em> (menyerupakan), tanpa <em>tahrif</em> (menyelewengkan), tanpa <em>ta’wil</em> (menyimpangkan), dan tanpa <em>ta’thil</em> (menolak), serta menyucikan Allah <em>Ta’ala</em> dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya <strong>[7]</strong>.</p>
<p>Pembagian tauhid ini bisa diketahui dari hasil penelitian dan pengkajian secara komprehensif terhadap dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah <strong>[7]</strong>. Pembagian tauhid menjadi tiga semacam ini adalah perkara yang menjadi ketetapan dalam madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka barangsiapa menambahkan menjadi empat atau lima macam itu merupakan tambahan dari dirinya sendiri. Karena para ulama membagi tauhid menjadi tiga berdasarkan kesimpulan dari Al-Kitab dan As-Sunnah <strong>[8]</strong>.</p>
<p>Semua ayat yang membicarakan tentang perbuatan-perbuatan Allah <em>Ta’ala,</em> maka itu tercakup dalam tauhid <em>rububiyyah</em>. Dan semua ayat yang membicarakan tentang ibadah, perintah untuk beribadah dan ajakan kepadanya, maka itu mengandung tauhid <em>uluhiyyah</em>. Dan semua ayat yang membicarakan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka itu mengandung tauhid <em>asma’ wa shifat</em> <strong>[9]</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/57533-tidak-berhasil-dakwah-secara-umum-tanpa-diiringi-dakwah-tauhid.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Berhasil Dakwah Secara Umum, Tanpa Diiringi Dakwah Tauhid</a></strong></p>
<h2><strong>Hubungan (kaitan) antara ketiga macam tauhid tersebut di atas</strong></h2>
<p>Kaitan antara ketiga macam tauhid ini adalah; bahwa tauhid <em>rububiyyah</em> dan tauhid <em>asma’ wa shifat</em> mengonsekuensikan tauhid <em>uluhiyyah</em>. Adapun tauhid <em>uluhiyyah</em> mengandung keduanya. Artinya, barangsiapa yang mengakui keesaan Allah dalam hal <em>uluhiyyah,</em> maka secara otomatis dia pun mengakui keesaan Allah <em>Ta’ala</em> dalam hal <em>rububiyyah</em> dan <em>asma’ wa shifat</em>.</p>
<p>Orang yang meyakini bahwa Allah <em>Ta’ala</em> lah sesembahan yang benar (sehingga dia pun menujukan ibadah hanya kepada-Nya), maka dia tentu tidak akan mengingkari bahwa Allah lah Dzat yang menciptakan dan memberikan rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, dan bahwasanya Allah memiliki nama-nama yang terindah dan sifat-sifat yang mulia <strong>[10]</strong>.</p>
<p>Adapun orang yang mengakui tauhid <em>rububiyyah</em> dan tauhid <em>asma’ wa shifat,</em> maka wajib baginya untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah (tauhid <em>uluhiyyah</em>). Orang-orang kafir yang didakwahi oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengakui tauhid <em>rububiyyah.</em> Akan tetapi, pengakuan ini belum bisa memasukkan ke dalam Islam. Bahkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerangi mereka supaya mereka beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Oleh sebab itu, di dalam Al-Qur’an seringkali disebutkan penetapan tauhid <em>rububiyyah</em> sebagaimana yang telah diakui oleh orang-orang kafir dalam rangka mewajibkan mereka untuk mentauhidkan Allah <em>Ta’ala </em>dalam hal ibadah <strong>[10]</strong>.</p>
<p>Di antara ketiga macam tauhid di atas, maka yang paling dituntut adalah tauhid <em>uluhiyyah</em>. Sebab itulah perkara yang menjadi muatan pokok dakwah para rasul dan sebab utama diturunkannya kitab-kitab, dan karena itu pula ditegakkan jihad <em>fi sabilillah.</em> Hal ini supaya hanya Allah <em>Ta’ala</em> yang disembah dan segala sesembahan selain-Nya ditinggalkan <strong>[9]</strong>.</p>
<p>Seandainya tauhid <em>rububiyyah</em> itu sudah cukup, niscaya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak perlu memerangi orang-orang kafir di masa itu. Bahkan itu juga berarti tidak ada kebutuhan untuk diutusnya para rasul. Maka ini menunjukkan bahwa sesungguhnya yang paling dituntut dan paling pokok adalah tauhid <em>uluhiyyah</em>. Adapun tauhid <em>rububiyyah,</em> maka itu adalah dalil atau landasan untuknya <strong>[11].</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/57339-tidak-terlalu-tertarik-belajar-tauhid-karena-belum-paham-tauhid-sepenuhnya.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Terlalu Tertarik Belajar Tauhid, karena Belum Paham Tauhid Sepenuhnya</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/53132-ketika-para-dai-tauhid-dan-sunnah-dituduh-antek-kafir.html" data-darkreader-inline-color="">Ketika Para Da’i Tauhid dan Sunnah Dituduh Antek Kafir</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>Demikian sedikit catatan. Semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color=""> Ari Wahyudi</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong>Lihat keterangan Syaikh al-Fauzan dalam <em>‘Aqidatu at-Tauhid</em>, hal. 22-24.</p>
<p><strong>[2] </strong>Lihat keterangan Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin dalam <em>Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah al-Islamiyah</em>, hal. 27.</p>
<p><strong>[3] </strong>Lihat <em>At-Tauhid, Ya ‘Ibadallah</em>, hal. 22<strong>.</strong></p>
<p><strong>[4] </strong>Lihat <em>al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad</em>, hal. 19.</p>
<p><strong>[5] </strong>Lihat <em>Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin</em>, hal. 4.</p>
<p><strong>[6] </strong>Lihat <em>It-hafu Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah</em>, hal. 54.</p>
<p><strong>[7] </strong>Lihat <em>Kutub wa Rasa’il</em>, Abdil Muhsin, 3: 28.</p>
<p><strong>[8] </strong>Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> dalam <em>at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 28.</p>
<p><strong>[9] </strong>Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> dalam <em>at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 29.</p>
<p><strong>[10] </strong>Lihat <em>Kutub wa Rasa’il,</em> Abdil Muhsin, 3: 30-31.</p>
<p><strong>[11] </strong>Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan <em>hafizhahullah</em> dalam <em>at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah</em>, hal. 30.</p>
 