
<iframe id="s_pdf_frame" src="//docs.google.com/gview?embedded=true&amp;url=https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2017/12/Buletin-Rumaysho-Muslimah-Tafsir-Surah-An-Nuur-Edisi-7.pdf" style="width: 100%; height:600px;" frameborder="0"></iframe><a class="s_pdf_download_link" href="https://rumaysho.com/wp-content/uploads/2017/12/Buletin-Rumaysho-Muslimah-Tafsir-Surah-An-Nuur-Edisi-7.pdf" download><button style="" class="s_pdf_download_bttn">Download</button></a>
<p> </p>
<p>Inilah akhir kisah Aisyah dituduh selingkuh dan gali faedahnya.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Tafsir Surah An-Nuur</h3>
<h3 style="text-align: center;">Ayat 11</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p>
<p style="text-align: center;">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar</em>.” (QS. An-Nuur: 11)</p>
<p> </p>
<h3>Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh</h3>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Kemudian Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi. Lalu ia berkata kepada Sa’ad bin Mu’adz <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya. Jika ia berasal dari kabilahmu pasti kamu tidak ingin membunuhnya.”</p>
<p>“Lalu Usaid bin Hudhair <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berdiri. Ia adalah sepupu Sa’ad bin Mu’adz <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Ia berkata kepada Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ‘Kamu bohong! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik. Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling membunuh padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri juga terdiam.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Pada hari itu aku menangis. Air mataku terus menetes tiada henti dan aku tidak tidur sama sekali. Kedua orang tuaku beranggapan bahwa tangisan dapat membelah hatiku.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Ketika keduanya sedang duduk di sampingku sedangkan aku sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepadaku, lalu aku pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di sampingku. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> masuk kemudian duduk. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah duduk di sampingku sejak beredarnya isu tersebut. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkaraku ini. Lantas Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta kesaksian pada saat beliau duduk seraya berkata, ‘<em>Amma ba’du</em>, wahai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepadaku isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat, maka Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan menerima taubat-Nya.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Tatkala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mataku mulai menyusut, sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun. Lalu aku berkata kepada ayahku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.’ Selanjutnya aku berkata kepada ibuku, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas namaku!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, aku juga tidak tahu apa yang harus aku sampaikan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.’ Lalu aku berkata, ‘Aku adalah seorang perempuan yang masih belia. Demi Allah, aku tahu bahwa kalian telah mendengar berita ini sehingga kalian simpan di dalam hati dan kalian membenarkannya. Makanya, jika kukatakan kepada kalian bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut Allah Maha Mengetahui bahwa aku bersih dari tuduhan tersebut, maka kalian tidak mempercayaiku. Dan jika aku mengakui sesuatu yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengetahui bahwa aku terbebas darinya, malah kalian sungguh-sungguh mempercayaiku. Demi Allah, aku tidak menjumpai pada diriku dan diri kalian suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘<em>alaihis salam</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ</p>
<p>“<em>Maka hanya sabar yang baik itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan</em>.” (QS. Yusuf: 18)</p>
<p>“Kemudian aku berpaling, aku berbaring di atas tempat tidurku.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan kisahnya,</p>
<p>“Aku–<em>wallahu a’lam</em>–ketika itu terbebas dan Allah-lah yang melepaskanku dari isu tersebut. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah menyangka akan diturunkan suatu wahyu yang akan selalu dibaca perihal persoalanku ini. Sungguh persoalanku ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menjadi sesuatu yang akan selalu dibaca. Sebenarnya yang aku harapkan ialah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> membebaskanku dari tuduhan tersebut.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Demi Allah, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluargaku yang keluar sehingga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> merasa berat ketika menerima wahyu. Sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal ketika itu sedang musim penghujan. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”</p>
<p>Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan,</p>
<p>“Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Bergembiralah Aisyah! Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah membebaskanmu.’ Lalu ibuku berkata kepadaku, ‘Berdirilah kepada Nabi.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan berdiri kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan aku tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Dialah yang menurunkan wahyu yang membebaskan diriku. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan ayat berikut,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar (pula)</em>.” (QS. An-Nur: 11)</p>
<p>Sampai sepuluh ayat secara keseluruhan.”</p>
<p>“Ketika Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasanku, maka Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anha</em>–beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah <em>radhiyallahu ‘anha</em> karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir–berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’ Kemudian Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menurunkan ayat berikut (yang artinya), “<em>Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang</em>.” (QS. An-Nur: 22)</p>
<p>“Lantas Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anha</em> berkata, ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh aku suka bila Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengampuniku.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah. Bahkan ia berkata, ‘Aku tidak akan berhenti memberi nafkah kepadanya untuk selamanya.’ Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> melanjutkan, ‘Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya kepada Zainab binti Jahsy <em>radhiyallahu ‘anha</em>, istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengenai persoalanku. Beliau berkata, ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’ Ia menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengatakan, ‘Dialah di antara istri-istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menyaingiku dalam hal kecantikan, tetapi Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melindunginya dengan sifat wara’. Sedangkan saudara perempuannya, Hamnah binti Jahsy <em>radhiyallahu ‘anha</em> bertentangan dengannya. Maka, binasalah orang-orang yang binasa.” (HR. Bukhari, no. 2661 dan Muslim, no. 2770)</p>
<p> </p>
<h3>Pelajaran dari Akhir Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh</h3>
<ol>
<li>Diperintahkan untuk segera menghentikan pertikaian dan menenangkan yang sedang marah.</li>
<li>Orang muslim tentu marah kalau ada yang menjatuhkan kehormatan pemimpinnya sendiri.</li>
<li>Kita didorong untuk bertaubat dan keutamaan taubat itu luar biasa.</li>
<li>Menghormati yang tua (<em>kibar</em>) dengan mempersilakan mereka yang berbicara terlebih dahulu daripada yang muda (<em>shighar</em>) karena mereka lebih punya pemahaman yang sempurna.</li>
<li>Disunnahkan untuk memberikan kabar gembira dengan segera ketika mendapat nikmat besar atau terangkat dari musibah besar.</li>
<li>Kisah ini menunjukkan keistimewaan Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Siapa yang ragu dan masih menuduh Aisyah berselingkuh, maka ia kafir dan murtad dengan sepakat para ulama.</li>
<li>Hendaklah kita terus memperbarui syukur ketika mendapatkan nikmat baru.</li>
<li>Keutamaan memberi makan kepada orang fakir (miskin) apalagi masih punya hubungan kerabat.</li>
<li>Siapa yang bersumpah, lalu melihat ada yang lebih baik di balik itu, maka hendaklah ia membatalkan sumpahnya dengan menunaikan kafarah (tebusan). Lihat surah Al-Maidah ayat 89.</li>
<li>Di balik kesulitan ketika mencapai puncaknya akan datang kemudahan. “<em>Sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan</em>.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)</li>
<li>Solusi ketika menghadapi fitnahan dari orang lain adalah sabar. <em>Sabar itu awalnya pahit, namun akhirnya lebih manis daripada madu.</em>
</li>
<li>Allah yang nanti akan membalas setiap orang yang memfitnah (menuduh orang lain tanpa bukti) dan Allah-lah yang nanti akan menampakkan manakah yang benar.</li>
<li>Kejelekan tak perlu dibalas dengan kejelekan, balaslah kejelekan dengan kebaikan. Berikanlah maaf pada orang yang berbuat jelek kepada kita. “<em>Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.</em>” (QS. Fushilat: 34-35)</li>
</ol>
<p>Berakhir kisah Aisyah dituduh selingkuh, moga jadi pelajaran berharga bagi semua.</p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj.</em> Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. 17:107-108.</p>
<p> </p>
<h4>Kisah Awal Aisyah Dituduh Selingkuh</h4>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="3XAunZR3rx"><p><a href="https://rumaysho.com/16643-faedah-surat-an-nuur-05-awal-kisah-aisyah-dituduh-selingkuh.html">Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Faedah Surat An-Nuur #05: Awal Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh” — Rumaysho.Com" src="https://rumaysho.com/16643-faedah-surat-an-nuur-05-awal-kisah-aisyah-dituduh-selingkuh.html/embed#?secret=3XAunZR3rx" data-secret="3XAunZR3rx" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p> </p>
<h4>Kisah Lanjutan Aisyah Dituduh Selingkuh</h4>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="yAAZBRpPav"><p><a href="https://rumaysho.com/16735-faedah-surat-an-nuur-06-lanjutan-kisah-aisyah-dituduh-selingkuh.html">Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Faedah Surat An-Nuur #06: Lanjutan Kisah Aisyah Dituduh Selingkuh” — Rumaysho.Com" src="https://rumaysho.com/16735-faedah-surat-an-nuur-06-lanjutan-kisah-aisyah-dituduh-selingkuh.html/embed#?secret=yAAZBRpPav" data-secret="yAAZBRpPav" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p> </p>
<h4>Keutamaan Aisyah</h4>
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="C4gV7K8yEq"><p><a href="https://rumaysho.com/16726-faedah-sirah-nabi-keutamaan-aisyah.html">Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah</a></p></blockquote>
<p><iframe class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted" style="position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);" title="“Faedah Sirah Nabi: Keutamaan Aisyah” — Rumaysho.Com" src="https://rumaysho.com/16726-faedah-sirah-nabi-keutamaan-aisyah.html/embed#?secret=C4gV7K8yEq" data-secret="C4gV7K8yEq" width="500" height="282" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe></p>
<p>—</p>
<p>Disusun di <a href="https://darushsholihin.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Pesantren Darush Sholihin</a>, Sabtu pagi, 14 Rabi’ul Awwal 1439 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a></p>
 