
<p>Kali ini kita bahas kandungan pokok dari <a href="https://rumaysho.com/tag/surat-al-fatihah">surat Al-Fatihah</a> yang tidak didapati dari surat-surat lainnya dalam Al-Qur’an. Yang disebutkan dalam tulisan Rumaysho.Com kali ini adalah ringkasan dari Tafsir As-Sa’di.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kandungan istimewa surah Al-Fatihah yang tidak ditemukan dalam surah lainnya dalam Al-Qur’an</strong></span></h2>
<p><strong>Pertama</strong>: Surah ini mengandung tiga macam tauhid:</p>
<ol>
<li>
<em>Tauhid rububiyyah</em> (pengesaan dalam perbuatan Allah) diambil dari ayat “<em>Rabbil ‘aalamiin</em>”, berarti Allah adalah Rabb satu-satunya yang mengatur jagat raya ini.</li>
<li>
<em>Tauhid uluhiyyah</em> (pengesaaan ibadah hanya untuk Allah) diambil dari ayat “<em>iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in</em>”, berarti kita hanya beribadah dan meminta tolong kepada Allah.</li>
<li>
<em>Tauhid asma’ wa shifat</em>, yakni pengesaan bahwa Allah satu-satunya yang memiliki nama dan sifat yang sempurna tanpa melakukan takthil (menolak sifat Allah), tamtsil (menyerupakan dengan makhluk), tasbih (menyerupakan dengan sifat makhluk). Kesemuanya telah ditunjukkan dengan lafaz “<em>alhamdu lillah</em>”.</li>
</ol>
<p><strong>Kedua</strong>: Surah ini menetapkan adanya kenabian pada ayat “<a href="https://rumaysho.com/24496-tafsir-surat-al-fatihah-ayat-6-dan-7-memahami-shirathal-mustaqim-jalan-lurus.html"><em>ihdinaash shiroothol mustaqiim</em></a>” (tunjukilah kami ke jalan yang lurus) karena hal tersebut tidak akan bisa tercapai tanpa adanya rasul yang diutus.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Adanya penetapan balasan terhadap amalan yang dikerjakan seperti yang tertera dalam ayat “<em>maaliki yaumiddiin</em>” (Yang menguasai hari pembalasan). Balasan tersebut tentu berlaku adil. Makna <em>ad-diin</em> adalah memberikan balasan dengan adil.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Surah ini menetapkan adanya takdir dan seorang hamba itu pelaku sebenarnya, tidak seperti yang diyakini <em>Qadariyyah</em> (yang menolak takdir) dan <em>Jabariyyah</em> (menyatakan manusia dipaksa oleh takdir).</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Surah ini membantah seluruh ahli bid’ah yang sesat yakni pada ayat “<em>ihdinaash shiroothol mustaqiim</em>” (tunjukilah kami ke jalan yang lurus), yaitu jalannya orang yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Setiap ahli bid’ah menyelisihi ini.</p>
<p><strong>Keenam</strong>: Surah ini mengajarkan memurnikan (mengikhlaskan) ibadah dan meminta tolong hanya kepada Allah sebagaimana tertera dalam ayat “<em>iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in</em>”. (Lihat <em>Tafsir As-Sa’di</em>, hlm. 26).</p>
<p><em>Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.</em></p>
<p> </p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<p><em>Tafsir As-Sa’di</em>. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca Juga: <a href="https://rumaysho.com/23512-tafsir-surat-al-fatihah-ayat-1-memahami-bismillah.html"><span style="color: #ff0000;">Tafsir Surat Al-Fatihah (Ayat 1): Memahami Bismillah</span></a></span></strong></p>
<hr>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Disusun di <a href="https://darushsholihin.com"><strong>Darush Sholihin</strong></a>, 29 Ramadhan 1441 H (22 Mei 2020)</p>
<p style="text-align: center;">Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: center;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 