
<p><i><span style="font-weight: 400;">Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan hukum yang sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seringkali kita saksikan begitu mudahnya sebagian orang mengolok-ngolok saudaranya yang ingin menjalankan syaria’t. Ada yang berjenggot kadang diolok-olok dengan kambing dan sebagainya. Ada pula yang mengenakan jilbab atau pun cadar juga dikenakan hal yang sama. Seharusnya setiap muslim tahu bahwa perbuatan seperti ini bukanlah dosa biasa. Simak pembahasan berikut agar mendapat penjelasan. Hanya Allah yang memberi taufik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “</span></i><b><i>Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman</i></b><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;">” (QS. At-Taubah 9: 65-66)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah, hadits dengan rangkuman sebagai berikut. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan para sahabatnya), kecuali sebagai </span><b>orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh</b><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka ‘Auf bin Malik </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun pergi menghadap Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi </span><b>hanyalah bersenda gurau</b><span style="font-weight: 400;">, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah):</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;">” (QS. At-Taubah 9 : 65-66).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">T’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beliau mengatakan bahwa </span><span style="font-weight: 400;">orang tersebut kafir</span><span style="font-weight: 400;"> dan beliau berdalil dengan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;">” (QS. At-Taubah 9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul</span></i><span style="font-weight: 400;">–</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah </span><b>suatu bentuk kekafiran</b><span style="font-weight: 400;">. Dan barang siapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Kitab At Tauhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui bahwa mengolok-olok Allah dan agama-Nya ada dua bentuk :</span></p>
<p><b>Pertama</b><span style="font-weight: 400;">, yang bentuknya jelas dan terang-terangan sebagaimana terdapat dalam kisah turunnya surat At Taubah ayat 65-66.</span></p>
<p><b>Kedua</b><span style="font-weight: 400;">, yang bentuknya sindiran dan isyarat seperti isyarat mata atau menjulurkan lidah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan termasuk dalam mengolok-olok adalah mengolok-olok orang yang komitmen dengan ajaran Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i> <span style="font-weight: 400;">seperti mengatakan, ‘agama itu bukanlah pada tampilan rambut’</span><span style="font-weight: 400;">. Perkataan ini dimaksudkan untuk mengejek orang-orang yang berjenggot. Atau termasuk juga ucapan-ucapan yang lainnya yang hampir sama. (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Kitab At Tauhid</span></i><span style="font-weight: 400;">, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 62)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut ini kami akan menukilkan perkataan ulama lainnya untuk mendukung pernyataan di atas.</span></p>
<p><b>Perkataan Pertama</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, seorang ulama besar dan </span><i><span style="font-weight: 400;">faqih</span></i><span style="font-weight: 400;"> di Saudi Arabia pernah ditanyakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Apakah termasuk dalam dua ayat yang disebutkan sebelumnya (yaitu surat At Taubah ayat 65-66 -pen) bagi orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok orang yang memelihara jenggot dan yang komitmen dengan agama ini?</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab, “Mereka yang mengejek orang yang komitmen dengan agama Allah dan yang menunaikan perintah-Nya, jika mereka mengejek </span><b>ajaran agama</b><span style="font-weight: 400;"> yang mereka laksanakan, maka ini termasuk mengolok-olok mereka dan mengolok-olok syariat (ajaran) Islam. Dan mengolok-olok syariat ini termasuk </span><b>kekafiran</b><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jika mereka mengolok-olok orangnya secara langsung (tanpa melihat pada ajaran agama yang dilakukannya baik itu pakaian atau jenggot), maka semacam ini tidaklah kafir. Karena seseorang bisa saja mengolok-olok orang tersebut atau perbuatannya. Namun setiap orang seharusnya berhati-hati, jangan sampai dia mengolok-olok para ulama atau orang-orang yang komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah (petunjuk) Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam</span></i><span style="font-weight: 400;">, Darul ‘Aqidah, hal. 120)</span></p>
<p><b>Perkataan Kedua</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">, pernah menjabat ketua </span><i><span style="font-weight: 400;">Lajnah Da’imah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (semacam Komite Fatwa MUI) dan juga pakar hadits, pernah ditanyakan, “Saat ini banyak di tengah masyarakat muslim yang mengolok-olok syariat-syariat agama yang nampak seperti memelihara jenggot, menaikkan celana di atas mata kaki, dan selainnya. Apakah hal ini termasuk mengolok-olok agama yang membuat seseorang keluar dari Islam? Bagaimana nasihatmu terhadap orang yang terjatuh dalam perbuatan seperti ini? </span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi kepahaman padamu</span></i><span style="font-weight: 400;">.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya dan syariat-Nya termasuk dalam kekafiran sebagaimana Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: “</span></i><i><span style="font-weight: 400;">Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;">” (QS. At-Taubah 9: 65-66)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk dalam hal ini adalah mengolok-olok masalah tauhid, shalat, zakat, puasa, haji atau berbagai macam hukum dalam agama ini yang telah disepakati.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun mengolok-olok orang yang memelihara (memanjangkan) jenggot, yang menaikkan celana di atas mata kaki (tidak </span><i><span style="font-weight: 400;">isbal</span></i><span style="font-weight: 400;">) atau semacamnya yang hukumnya masih samar, maka ini perlu diperinci lagi. Tetapi setiap orang wajib berhati-hati melakukan perbuatan semacam ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kami menasihati kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya. Kami menasihati untuk berhati-hati melakukan perbuatan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan syariat ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hendaklah seseorang takut akan murka dan azab (siksaan) Allah serta takut akan murtad dari agama ini sedangkan dia tidak menyadarinya. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kaum muslimin sekalian mendapatkan maaf atas segala kejelakan dan Allah-lah sebaik-baik tempat meminta.</span><i><span style="font-weight: 400;"> Wallahu waliyyut taufiq. </span></i><span style="font-weight: 400;">(Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Madarul Wathon Linnashr, hal.61-62)</span></p>
<p><b>Perkataan ketiga</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Fatwa </span><i><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’</span></i><span style="font-weight: 400;"> (komisi fatwa di Saudi Arabia) no. 4127 tentang mengolok-olok hijab (jilbab) muslimah.</span></p>
<p><b>Pertanyaan</b><span style="font-weight: 400;"> :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apa hukum orang yang mengolok-olok wanita yang memakai hijab (jilbab) syar’i dengan menjuluki bahwa wanita semacam itu adalah </span><i><span style="font-weight: 400;">ifrit</span></i><span style="font-weight: 400;"> (setan) atau dijuluki ‘kemah yang bergerak’ atau ucapan olok-olok lainnya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawaban :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Barang siapa mengejek muslimah atau seorang muslim yang berpegang teguh dengan syariat Islam maka dia </span><b>kafir</b><span style="font-weight: 400;">. Baik mengejek tersebut terhadap hijab (jilbab) muslimah yang menutupi dirinya sesuai tuntunan syariat atau boleh jadi dalam masalah lainnya. Hal ini dikarenakan terdapat riwayat dari Abdullah bin ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma</span></i><span style="font-weight: 400;">. Beliau berkata, “Seorang laki-laki ketika perang Tabuk berkata di suatu majelis (kumpulan) : Aku tidak pernah melihat semisal ahli baca al-Qur’an (yang dimaksudkan adalah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan para shahabatnya, pen) yang paling perutnya buncit, sering berdusta dengan lisannya, dan paling takut (pengecut) ketika bertemu musuh.” Lalu ada seseorang yang berkata :’Engkau dusta. Engkau adalah munafik. Sungguh, aku akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Kemudian berita ini sampai kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan turunlah ayat mengenai mereka. Lalu Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">lalu kakinya tersandung batu sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Lalu Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan (dengan membawakan ayat yang turun tadi, pen), “</span><i><span style="font-weight: 400;">Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (QS. At Taubah 9: 65-66)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Dalam ayat di atas) Allah menjadikan ejekan kepada orang mukmin adalah ejekan kepada Allah, ayat-Nya dan Rasul-Nya. </span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya serta shahabatnya.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anggota: Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghodayan</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wakil Ketua: Abdur Rozaq Afifi</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketua: Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz</span></p>
<h2><b>Segera Bertaubat</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah diketahui bahwa bentuk mengolok-olok atau mengejek orang yang berkomitmen dengan ajaran Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> termasuk kekafiran, maka seseorang hendaknya menjauhinya. Dan jika telah terjatuh dalam perbuatan semacam ini hendaknya segera bertaubat. Semoga firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berikut bisa menjadi pelajaran.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (QS. Az Zumar 39: 53)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang bertaubat dari berbagai macam dosa termasuk berbagai hal yang dapat mengeluarkannya dari Islam dan dia melakukan hal ini dengan memenuhi syarat-syaratnya, maka taubatnya tersebut akan diterima.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun syarat taubat adalah:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Taubat dilakukan dengan ikhlas dan bukan </span><i><span style="font-weight: 400;">riya’</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">sum’ah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (ingin dipuji orang lain).</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Menyesal dengan dosa yang telah dilakukan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Tidak terus-menerus dalam dosa. Jika meninggalkan yang wajib, segeralah melaksanakannya dan jika melakukan sesuatu yang haram, segeralah meninggalkannya.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1"><span style="font-weight: 400;">Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di waktu akan datang.</span></li>
<li style="font-weight: 400;" aria-level="1">
<span style="font-weight: 400;">Taubat tersebut dilakukan pada saat waktu diterimanya taubat yaitu sebelum kematian datang dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. (Lihat pembahasan syarat Taubat di </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Riyadhus Sholihin</span></i><span style="font-weight: 400;">, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin)</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita menjadi hamba Allah yang bertaubat dan hamba Allah yang disucikan. </span><i><span style="font-weight: 400;">Amin Ya Mujibad Da’awat.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulisan satu tahun silam.</span></p>
 