
<p class="p1">Doa dan dzikir yang diajarkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> ketika berwudhu hanya ada di dua tempat, yaitu:</p>
<h4 class="p4"><span style="color: #ff0000;"><b>Pertama, Membaca Bismillah di Awal Wudhu</b></span></h4>
<p class="p3">Hukum membaca <em>bismillah</em> di awal wudhu adalah wajib. Bagi yang lupa membacanya di awal wudhu, hendaknya mengucapkan <em>bismillah</em> ketika teringat meskipun di tengah-tengah berwudhu. <b>[1]</b></p>
<p class="p3">Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah <b> </b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>,</p>
<p class="arab" dir="rtl">لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ</p>
<p class="p3"><i>“Tidak ada (tidak sah) wudhu bagi yang tidak menyebut nama Allah ketika berwudhu.” </i><b>[2]</b></p>
<p class="p3">Dan juga berdasarkan perintah Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>kepada para sahabat. Dari Anas bin Malik <i>radhiyallahu ‘anhu </i>beliau menceritakan bahwa sebagian sahabat Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>mencari air untuk berwudhu. Kemudian Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>berkata,</p>
<p class="arab" dir="rtl">«هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ؟» فَوَضَعَ يَدَهُ فِي الْمَاءِ وَيَقُولُ: «تَوَضَّئُوا بِسْمِ اللَّهِ»</p>
<p class="p3"><i>“Apakah kalian memiliki air?” </i>Maka Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>memasukkan tangannya ke dalam air dan bersabda,<i>”Berwudhulah kalian dengan (mengucapkan) bismillah … “ </i><b>[3]</b></p>
<p class="p3">Sebagian ulama menilai bahwa membaca bismillah hukumnya sunnah, tidak sampai derajat wajib karena menilai hadits-hadits tentang masalah ini adalah hadits yang dha’if. <b>[4] </b>Namun yang lebih tepat, hadits di atas adalah shahih, sehingga hukum membaca bismillah ketika berwudhu adalah wajib. <b>[5]</b></p>
<h4 class="p4"><span style="color: #ff0000;"><b>Ke dua, Membaca Doa Selesai Berwudhu</b></span></h4>
<p class="p3">Dari Umar bin Khaththab <i>radhiyallahu ‘anhu, </i>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p dir="rtl">مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ</p>
<p class="p3"><i>“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan, </i><b><i>‘Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu’</i></b><i> [Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.] kecuali Allah akan bukakan untuknya delapan pintu langit yang bisa dia masuki dari pintu mana saja.” </i><b>[6]</b></p>
<p class="p3">Di dalam riwayat At-Tirmidzi ada tambahan doa,</p>
<p class="arab" dir="rtl">اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ</p>
<p class="p3"><b><i>“Allahummaj ‘alni minat tawwabiina waj’alnii minal mutathohhiriin</i></b><i> [Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang rajin bertaubat dan menyucikan diri].” </i><b>[7]</b></p>
<p class="p3">Adapun tambahan doa,</p>
<p class="arab" dir="rtl">واجعلني من عبادك الصالحين من الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون</p>
<p class="p3"><i>“Waj’alni min ‘ibaadika ash-shalihin minalladziina laa khoufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun [Jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang shalih, (yaitu) hamba-hamba-Mu yang tidak ada rasa takut dalam diri mereka dan tidak pula bersedih hati.]”</i></p>
<p class="p3">maka tambahan doa dengan lafadz seperti ini <b>tidak ada asalnya dari Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></b><i> </i>sehingga tidak boleh diamalkan. Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali <i>hafizhahullah </i>mengatakan,<i>”</i>Sebagian orang menambahkan, ‘Waj’alni min ‘ibaadika ash-shalihin‘. <b>Tambahan ini tidak ada asalnya</b> sebagaimana yang aku jelaskan dalam kitabku, ‘Silsilah Al-Ahaadits Allati Laa Ashla Laha’<i>.” </i><b>[8]</b></p>
<p class="p3">Doa lain yang diajarkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i>s setelah berwudhu<i> </i>diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudhri <i>radhiyallahu ‘anhu, </i>Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p class="arab" dir="rtl">من تَوَضَّأ فَقَالَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا أَنْت استغفرك وَأَتُوب إِلَيْك كتب فِي رق ثمَّ طبع بِطَابع فَلم يكسر إِلَى يَوْم الْقِيَامَة</p>
<p class="p3"><i>“Barangsiapa yang berwudhu kemudian setelah berwudhu mengucapkan doa,</i><b><i>’Subhaanaka allahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika’</i></b><i> [Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu] maka akan ditulis di lembaran berwarna putih kemudian di-stempel dan tidak akan hancur sampai hari kiamat.” </i><b>[9]</b><i> </i></p>
<p class="p3">Hanya di dua tempat inilah disyariatkannya berdzikir dan berdoa ketika atau selesai berwudhu. Adapun doa dan dzikir selain di dua tempat ini, sebagaimana yang tersebar di tengah-tengah masyarakat, maka tidaklah diajarkan oleh Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> sebagaimana yang akan kami bahas di bagian selanjutnya dari tulisan ini.</p>
<p class="p3"><b>[Bersambung]</b></p>
<p class="p3">Selesai disusun di pagi hari menjelang shubuh, Masjid Nasuha ISR Rotterdam 19 Shafar 1436</p>
<p class="p3">Yang selalu mengharap ampunan Rabb-nya,</p>
<p class="p3">Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.</p>
<h5 class="p3"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p class="p7">[1] Lihat <i>Shifat Wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i>karya Fahad bin Abdirrahman Ad-Dausri, hal. 16-17.</p>
<p class="p7">[2] HR. Ibnu Majah no. 399; At-Tirmidzi no. 26; Abu Dawud no. 101. Dinilai shahih oleh Al-Albani di <i>Shahihul Jami’</i> hadits no. 7444.</p>
<p class="p7">[3] HR. Bukhari no. 69; Muslim no. 2279 dan An-Nasa’i 1/60.</p>
<p class="p7">[4] Lihat <i>Shahih Fiqh Sunnah, </i>1/122-123.</p>
<p class="p7">[5] Idem no. 1.</p>
<p class="p7">[6] HR. Muslim no. 234; Abu Dawud no. 169; At-Tirmidzi no. 55; An-Nasa’i 1/95 dan Ibnu Majah no. 470.</p>
<p class="p7">[7] Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam <i>Shahihul Jami’</i> hadits no. 6046.</p>
<p class="p7">[8] <i>Bahjatun Nadziriin Syarh Riyadhus Shalihin, </i>2/250.<i> </i></p>
<p class="p7">[9] HR. An-Nasa’i dalam <i>‘Amal Yaum wal Lailah </i>no. 30. Dinilai shahih oleh Al-Albani di <i>Shahihul Jami’ </i>hadits no. 6046.</p>
<p class="p7">—</p>
<p class="p7">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 