
<p>Doa ini bagus sekali dihafalkan agar nikmat tidak hilang secara mendadak, dan musibah tidak datang tiba-tiba.</p>
<p> </p>
<h4 style="text-align: center;">Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa</h4>
<h3></h3>
<h3 style="text-align: center;">Hadits #1478</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَ مِن دُعَاءِ رسُولِ الله – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوالِ نِعْمَتِكَ، وتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وفُجَاءةِ نِقْمَتِكَ ، وَجَميْعِ سَخَطِكَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .</p>
<p style="text-align: center;">Dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, ia berkata, “Di antara doa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, yaitu ‘ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MIN ZAWAALI NI’MATIK, WA TAHAWWULI ‘AAFIYATIK, WA FUJAA’ATI NIQMATIK, WA JAMII’I SAKHOTHIK’ (Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu).’” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2739]
</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Faedah Hadits</h3>
<p> </p>
<p><strong>Pertama</strong>: Maksud doa adalah meminta kepada Allah agar nikmat keselamatan (<em>al-‘aafiyah</em>) tidak berubah menjadi bencana (<em>al-balaa’</em>).</p>
<p><strong>Kedua</strong>: Dalam doa di atas juga, kita meminta perlindungan dari musibah yang datang tiba-tiba tanpa ada sebab, itulah yang disebut <em>fuja-ah niqmatik</em>.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Wajib bagi kita mensyukuri nikmat karena dengan syukur, nikmat akan bertambah. Sedangkan kufur nikmat menyebabkan nikmat itu hilang.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Di antara bentuk musibah (<em>al-balaa’</em>) adalah hilangnya nikmat secara total atau nikmat berganti dengan musibah.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Hilangnya nikmat secara mendadak lebih berbahaya daripada hilangnya nikmat secara perlahan.</p>
<p><strong>Keenam</strong>: Hilangnya nikmat secara mendadak tanda tindakan melampaui batas seorang hamba dan semakin bertambah kedurhakaan kepada Allah.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Hilangnya nikmat secara bertahap adalah sebagai peringatan bagi hamba supaya terus bisa <em>muhasabah</em>diri, dan agar hubungan hamba dengan Allah bertambah menjadi lebih baik. Itulah bentuk kelemahlembutan Allah pada hamba-Nya, agar hamba tersebut bertaubat, dan kembali kepada Rabbnya.</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>: Wajib menjauhi segala hal yang Allah murkai baik yang nampak maupun tersembunyi, baik secara global (<em>ijmal</em>) maupun terperinci (<em>tafshil</em>).</p>
<p> </p>
<h4 style="text-align: center;">Referensi:</h4>
<p style="text-align: center;"><em>Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin</em>. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<hr>
<p> </p>
<p>Disusun di perjalanan Panggang – Jogja, 22 Dzulqa’dah 1440 H (25 Juli 2019, Kamis sore)</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
 