
<p>Di rumah saja saat <a href="https://rumaysho.com/tag/corona">wabah</a> itu pun sudah dapat pahala syahid. Tak percaya? Coba baca hadits berikut ini.</p>
<p>Dari Yahya bin Ya’mar, Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengabarkan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang <em>ath-tha’un</em> (wabah yang menyebar dan mematikan), maka beliau menjawab,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;">كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، مَا مِنْ عَبْدٍ يَكُونُ فِى بَلَدٍ يَكُونُ فِيهِ ، وَيَمْكُثُ فِيهِ ، لاَ يَخْرُجُ مِنَ الْبَلَدِ ، صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ</span></p>
<p>“<em>Itu adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, Allah menjadikannya sebagai rahmat kepada orang beriman. Tidaklah seorang hamba ada di suatu negeri yang terjangkit wabah di dalamnya, lantas ia tetap di dalamnya, ia tidak keluar dari negeri tersebut lalu bersabar dan mengharapkan pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid</em>.”<a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> menerangkan bahwa yang dimaksud sebagai azab adalah untuk orang kafir dan ahli maksiat. Sedangkan wabah itu jadi rahmat untuk orang beriman.<a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> juga berkata,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;">كَمَا اِقْتَضَى مَنْطُوقه أَنَّ مَنْ اِتَّصَفَ بِالصِّفَاتِ الْمَذْكُورَة يَحْصُل لَهُ أَجْر الشَّهِيد وَإِنْ لَمْ يَمُتْ بِالطَّاعُونِ</span></p>
<p>“Makna <em>manthuq</em> (tersurat) dari hadits ini adalah orang yang memiliki sifat yang disebut pada hadits tersebut akan mendapatkan pahala syahid walaupun tidak meninggal dunia.<a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a></p>
<p>Ada riwayat lain yang menambahkan jika berdiam di rumah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad.</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tentang <em>ath-tha’un </em>(wabah), kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyampaikan,</p>
<p dir="rtl" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;">أَنَّهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَيْتِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ</span></p>
<p>“<em>Wabah adalah azab yang Allah turunkan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Namun, wabah itu dijadikan oleh Allah sebagai rahmat untuk orang beriman. Ketika terjadi wabah, <strong>siapa pun tinggal di dalam rumahnya</strong> dalam keadaan sabar, mengharap pahala dari Allah, ia tahu bahwa tidaklah wabah itu terkena melainkan dengan takdir Allah, maka ia akan mendapatkan pahala syahid</em>.”<a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a></p>
<p><strong>Pahala syahid ini didapati jika:</strong></p>
<ol>
<li>Tetap diam di rumah.</li>
<li>Bersabar (menahan hati, lisan, dan anggota badan).</li>
<li>Mengharap pahala dari Allah.</li>
<li>Wabah itu terkena dengan takdir Allah.</li>
</ol>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga kita terus bersabar #diRumahAja dan wabah ini terangkat dengan segera.</em></p>
<p>—</p>
<p> </p>
<p><a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> HR. Bukhari, no. 6619.</p>
<p><a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Fath Al-Bari, 10:192.</p>
<p><a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <em>Fath Al-Bari</em>, 10:194.</p>
<p><a href="applewebdata://12A0FB43-AB69-40EC-98A6-8AF5DC9CE90D#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> HR. Ahmad, 6:251. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih sesuai syarat Bukhari.</p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/23615-khurafat-saat-wabah-corona-buat-sayur-lodeh-tujuh-macam.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Khurafat Saat Wabah Corona: Buat Sayur Lodeh Tujuh Macam</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/23603-cara-shalat-di-rumah-karena-wabah-corona.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cara Shalat di Rumah Karena Wabah Corona</strong></span></a></li>
</ul>
<hr>
<p> </p>
<p><a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin</a>, Panggang, Gunungkidul, <strong>direvisi ulang</strong> 4 Maret 2020, 10 Syakban 1441 H</p>
<p>Disusun oleh <a href="https://rumaysho.com/about-me"><strong>Muhammad Abduh Tuasikal</strong></a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></p>
 