
<p><em>Segala puji bagi Allah, Yang Menetap Tinggi Di Atas ‘Arsy-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. </em></p>
<p>Dalam kesempatan kali ini, kami masih melanjutkan perkataan ulama masa silam mengenai di manakah Allah. Pembahasan ini memang cukup panjang. Namun ini semua kami torehkan dalam beberapa tulisan agar semakin memperjelas manakah aqidah yang mesti diyakini oleh seorang muslim dengan benar. Dari perkataan ulama masa silam yang akan kami sebutkan, para pembaca Rumaysho.com dapat menilai di manakah letak kekeliruan <span style="text-decoration: underline;">abu salafy cs</span> yang menyatakan dengan bahwa <span style="text-decoration: underline;">Allah tidak di langit</span>. Yang jelas aqidah yang beliau usung adalah aqidah orang-orang sesat di masa silam yaitu dari kalangan Jahmiyah, lalu beliau hidupkan kembali. Semoga tulisan kali ini pun dapat membongkar kedok Jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti pemahaman menyimpang tersebut. <em>Ya Allah, berilah kemudahan dan tolonglah kami</em>.</p>
<p>  <!--more-->  </p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>, Ulama Hanafiyah, murid dari Muhammad bin Al Hasan </strong></span></p>
<p>Kita dapat saksikan dari perkataan beliau ini, bahwa orang yang masih ragu Allah di atas langit, ia dimintai taubatnya. Coba perhatikan secara seksama riwayat berikut ini.</p>
<p dir="rtl" align="center">قال ابن أبي حاتم حدثنا علي بن الحسن بن يزيد السلمي سمعت أبي يقول سمعت هشام بن عبيد الله الرازي وحبس رجلا في التجهم فجيء به إليه ليمتحنه فقال له أتشهد أن الله على عرشه بائن من خلقه فقال لا أدري ما بائن من خلقه فقال ردوه فإنه لم يتب بعد</p>
<p>Ibnu Abi Hatim mengatakan, ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi –ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya-. Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran dari perkataan Hisyam ini:</span></p>
<ol start="1">
<li>Keyakinan      Allah di atas langit wajib diyakini oleh setiap muslim.</li>
<li>Orang      yang tidak meyakini hal ini setelah datang penjelasan yang begitu      gamblang, maka ia harus dimintai taubatnya.</li>
<li>Perlu      dipahami bahwa jika kita katakan Allah di atas langit, bukan berarti Allah      di dalam langit atau menempel dengan ‘Arsy sehingga dapat dipahami bahwa      Allah berada di dalam makhluk. Ini justru pemahaman yang keliru. Yang      mesti dipahami bahwa Allah itu terpisah dari makhluk-Nya sehingga Allah      berada di atas semua makhluk-Nya dan bukan berada di dalam langit. Inilah      yang diisyaratkan dalam perkataan Hisyam di atas.</li>
</ol>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Nu’aim bin Hammad Al Khuza’i<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>, Al Hafizh (pakar hadits)</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">قال محمد بن مخلد العطار حدثنا الرمادي قال سألت نعيم ابن حماد عن قول الله تعالى هو معكم قال معناه أنه لا يخفى عليه خافية بعلمه ألا ترى قوله ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم الآية</p>
<p>Muhammad bin Mukhlid Al ‘Aththor, ia mengatakan, Ar Romadi menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku berkata pada Nu’aim bin Hammad mengenai firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">هُوَ مَعَكُمْ</span></p>
<p>“Allah bersama kalian.” (QS. Al Hadiid: 4). Nu’aim bin Hammad mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, “Tidak ada sesuatu pun dari ilmu Allah yang samar dari-Nya. Tidakkah kalian memperhatikan firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ</span></p>
<p><em>“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” </em>(QS. Al Mujadilah: 7)<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran penting dari perkataan Nu’aim bin Hammad:</span></p>
<p>Makna Allah itu bersama kalian adalah dengan ilmu-Nya dan bukan dengan Dzat Allah. Sehingga ayat semacam ini bukan menunjukkan Allah berada di mana-mana.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Basyr Al Haafi<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a>, Ulama yang Begitu Zuhud di Masanya</strong></span></p>
<p>Disebutkan oleh Adz Dzahabi,</p>
<p dir="rtl" align="center">له عقيدة رواها ابن بطة في كتاب الإبانة وغيره فمما فيها والإيمان بأن الله على عرشه استوى كما شاء وأنه عالم بكل مكان</p>
<p>Basyr Al Haafi memilki pemahaman aqidah yang disebutkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah dan selainnya, di antara perkataan beliau adalah: “Beriman bahwa Allah menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Allah kehendaki. Namun meski begitu, ilmu Allah di setiap tempat.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran penting dari Basyr Al Haafi adalah:</span></p>
<p>Allah itu menetap tinggi di atas ‘Arsy. Meskipun jauh, Allah tetap mengetahui setiap tempat di muka bumi karena ilmu-Nya yang Maha Luas.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Ahmad bin Nashr Al Khuza’i<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">قال إبراهيم الحربي فيما صح عنه قال أحمد بن نصر وسئل عن علم الله فقال علم الله معنا وهو على عرشه</p>
<p>Ibrahim Al Harbi berkata mengenai perkataan shahih darinya, yaitu Ahmad bin Nashr berkata ketika ditanya mengenai ilmu Allah, “Ilmu Allah selalu bersama kita, sedangkan Dzat-Nya tetep menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Pelajaran penting dari Ahmad bin Nashr adalah:</p>
<p>Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya bukan di mana-mana, sedangkan yang bersama kita adalah ilmu Allah.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Qutaibah bin Sa’id<a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a>, Ulama Besar Khurosan</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له حدثنا أبو العباس السراج قال سمعت قتيبة بن سعيد يقول هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه كما قال جل جلاله الرحمن على العرش استوى وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه</p>
<p>Abu Ahmad Al Hakim dan Abu Bakr An Naqosy Al Mufassir (dan ini lafazh dari Abu Bakr), ia berkata, Abul ‘Abbas As Siroj telah menceritakan pada kami, ia berkata, aku mendengar Qutaibah bin Sa’id berkata, “Ini adalah perkataan para ulama besar Islam, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 14pt;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</span></p>
<p>“<em>Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.</em>”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p dir="rtl" align="center">وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه</p>
<p>Begitu pula dinukil dari Musa bin Harun dari Qutaibah, ia berkata, “Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya.”</p>
<p>Adz Dzahabi setelah membawakan perkataan Qutaibah, beliau mengatakan, “Inilah Qutaibah sudah dikenal kebesarannya dalam ilmu dan kejujurannya, beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Allah di atas langit”. <a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran dari Qutaibah bin Sa’id:</span></p>
<p>Adanya penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah berada di ketinggian di atas ‘Arsy-Nya. Setelah ini kita juga akan menemukan nukilan ijma’ dari <span style="text-decoration: underline;">Ishaq bin Rohuwyah</span>.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Abu Ma’mar Al Qutai’iy<a href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a>, Guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">نقل ابن أبي حاتم في تأليفه عن يحيى بن زكرياء عن عيسى عن أبي شعيب صالح الهروي عن أبي معمر إسماعيل بن إبراهيم أنه قال آخر كلام الجهمية أنه ليس في السماء إله</p>
<p>Dinukil dari Ibnu Abi Hatim dalam karyanya, dari Yahya bin Zakariya, dari ‘Isa, dari Abu Syu’aib Sholih Al Harowiy, dari Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrohim, beliau berkata, “Akhir dari perkataan Jahmiyah: Di atas langit (atau di ketinggian) tidak ada Allah yang disembah.”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran dari Abu Ma’mar Al Qutai’iy:</span></p>
<p>Keyakinan di atas langit tidak ada siapa-siapa itulah keyakinan sesat dari Jahmiyah, yang lalu diusung kembali oleh orang belakangan semacam Abu Salafy cs.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong> ‘Ali bin Al Madini<a href="#_ftn14"><strong>[14]</strong></a>, Imam Para Pakar Hadits</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">قال شيخ الإسلام أبو إسماعيل الهروي أنبأنا محمد بن محمد بن عبد الله حدثنا أحمد بن عبد الله سمعت محمد بن إبراهيم بن نافع حدثنا الحسن بن محمد بن الحارث قال سئل علي بن المديني وأنا أسمع ما قول أهل الجماعة قال يؤمنون بالرؤية وبالكلام وأن الله عزوجل فوق السموات على عرشه استوى</p>
<p>Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowi mengatakan, Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdillah menceritakan kepada kami, aku mendengar Muhammad bin Ibrahim bin Naafi’ mengatakan, Al Hasan bin Muhammad bin Al Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ali bin Al Madini ditanya dan aku pun mendengarnya, “Apa perkataan dari Ahlul Jama’ah (Ahlus Sunnah)?” ‘Ali bin Al Madini mengatakan, “Mereka (Ahlus Sunnah) beriman pada ru’yah (Allah akan dilihat), mereka beriman bahwa Allah berbicara dan Allah berada di atas langit, menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya.”</p>
<p dir="rtl" align="center">فسئل عن قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم فقال اقرأ ما قبله ألم تر أن الله يعلم قد أكثر البخاري في صحيحه عن علي بن المديني وقال ما استصغرت إلا بين يدي ابن المديني مات في ذي القعدة سنة أربع وثلاثين ومائتين</p>
<p>Ali bin Al Madini juga ditanya mengenai firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ</span></p>
<p>“<em>Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya</em>.” (QS. Al Mujadilah: 7). Beliau pun menjawab, “Cobalah baca awal ayatnya,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ</span></p>
<p>“<em>Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui.</em>” (QS. Al Mujadilah: 7)<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran dari Ali bin Al Madini:</span></p>
<p>Lihatlah pelajaran yang sangat berharga dari ulama Robbani. Sebagian orang mengira maksud surat Al Mujadilah ayat 7 adalah Allah di mana-mana. Namun lihat bagaimanakah sanggahan dari Ali bin Al Madini? Cobalah baca awal ayat, itulah yang dimaksud. Jadi yang dimaksud adalah ilmu Allah yang di mana-mana dan bukan Dzat Allah.</p>
<p><span style="color: #800080;"><strong>Ishaq bin Rohuwyah<a href="#_ftn16"><strong>[16]</strong></a>, Ulama Besar Khurosan</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">قال حرب بن إسماعيل الكرماني قلت لإسحاق بن راهويه قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم كيف تقول فيه قال حيث ما كنت فهو أقرب إليك من حبل الوريد وهو بائن من خلقه</p>
<p dir="rtl" align="center">ثم ذكر عن ابن المبارك قوله هو على عرشه بائن من خلقه</p>
<p dir="rtl" align="center">ثم قال أعلى شيء في ذلك وأبينه قوله تعالى الرحمن على العرش استوى رواها الخلال في السنة عن حرب</p>
<p>Harb bin Isma’il Al Karmani, ia berkata bahwa ia berkata pada Ishaq bin Rohuwyah mengenai firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ</span></p>
<p>“<em>Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya</em>.” (QS. Al Mujadilah: 7). Bagaimanakah pendapatmu mengenai ayat tersebut?”</p>
<p>Ishaq bin Rohuwyah menjawab, “Dia itu lebih dekat (dengan ilmu-Nya) dari urat lehermu. Namun Dzat-Nya terpisah dari makhluk. Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnul Mubarok, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”</p>
<p>Lalu Ishaq bin Rohuwyah mengatakan, “Ayat yang paling gamblang dan paling jelas menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p align="center"><span style="font-size: 14pt;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</span></p>
<p>“<em>Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.</em>”<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Al Khollal meriwayatkannya dalam As Sunnah dari Harb.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p dir="rtl" align="center">قال أبو بكر الخلال أنبأنا المروذي حدثنا محمد بن الصباح النيسابوري حدثنا أبو داود الخفاف سليمان بن داود قال قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى الرحمن على العرش استوى إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور</p>
<p>“Abu Bakr Al Khollal mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Al Maruzi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Shobah An Naisaburi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Abu Daud Al Khonaf Sulaiman bin Daud. Beliau katakana, Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 14pt;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</span></p>
<p>“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”<a href="#_ftn19">[19]</a>. Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh.<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Adz Dzahabi rahimahullah ketika membawakan perkataan Ishaq di atas, beliau rahimahullah mengatakan,</p>
<p align="center">اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور</p>
<p>“Dengarkanlah perkataan Imam yang satu ini. Lihatlah bagaimana beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai masalah ini. Sebagaimana pula ijma’ ini dinukil oleh Qutaibah di masanya.”<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p><span style="color: #800080;">Pelajaran berharga dari Ishaq bin Rohuwyah:</span></p>
<ol start="1">
<li>Kalau      kita katakan Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy-Nya, bukan berarti      Allah di dalam langit atau menempel pada ‘Arsy. Lihatlah penjelasan      gamblang dari Ishaq bin Rohuwyah bahwa Allah itu terpisah dari      makhluk-Nya, sehingga menunjukkan bahwa Allah bukan berada di dalam      langit.</li>
<li>Ini      menunjukkan bahwa pengertian langit tidak selamanya dengan bentuk langit      yang ada di benak kita karena langit sekali lagi bisa bermakna ketinggian.      Jadi jika kita katakan Allah fis samaa’, itu juga bisa berarti Allah di ketinggian.      Karena ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak bersatu dengan makhluk.      Mohon bisa dipahami.</li>
<li>Pengertian      Allah itu bersama hamba tidak melazimkan bahwa Allah berada di mana-mana.      Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya, di atas seluruh makhluk-Nya,      sedangakan yang berada di mana-mana adalah ilmu Allah. Dan sekali lagi,      bukan Dzat Allah.</li>
<li>Sudah      ada dua nukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang menyatakan bahwa Allah berada      di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya. Sebelumnya pula kami sudah      sebutkan adanya ijma’ yang diklaim oleh Qutaibah dan sekarang oleh Ishaq      bin Rohuwyah. Lalu masihkah keyakinan ijma’ ini disangsikan? </li>
</ol>
<p> </p>
<p>Pembahasan ini kami cukupkan dulu untuk sementara waktu. Masih banyak perkataan ulama yang kami nukil lagi dalam posting selanjutnya, terutama dari ulama pakar hadits semacam Bukhari, Abu Zur’ah dan lainnya. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p>Semoga pelajaran-pelajaran berharga yang kami sajikan dalam tulisan kali ini bisa sebagai sepercik hidayah bagi yang ingin meraihnya. Hanya Allah yang beri taufik.</p>
<p> </p>
<p>Diselesaikan di waktu Maghrib, Jum’at – 9 Jumadil Awwal 1431 H (23/04/2010), Panggang-GK</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p>Artikel <a href="http://www.rumaysho.com/">www.rumaysho.com</a></p>
<p> <br clear="all">  </p>
<hr>
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi meninggal tahun 221 H.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 169. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Al Haruwi dalam “Dzammul Kalam” (1/120). Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 181.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Nu’aim bin Hammad Al Khuza’i hidup pada tahun 146-228 H.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 171-172. Sanad riwayat ini shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 184.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Basyr Al Haafi hidup pada tahun 151-227 H.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 172. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 185.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Ahmad bin Nashr Al Khuza’i meninggal tahun 231 H.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 173. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 186-187.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Qutaibah bin Sa’id hidup tahun 150-240 H.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> QS. Thoha: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Abu Ma’mar Al Qutai’iy meninggal tahun 236 H.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174-175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> ‘Ali bin Al Madini meninggal tahun 234 H.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188-189.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Ishaq bin Rohuwyah hidup antara tahun 166-238 H</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> QS. Thoha: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 177. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 191</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> QS. Thaha: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Idem</p>
 