
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Nasehat salah satu Khalifah Rasyidun, ‘Ali bin Abi Thalib </b><b><i>radhiyallahu ‘anhu </i></b><b>tentang Hal-Hal yang Dibutuhkan Seorang Muslim dalam Menghadapi Fitnah </b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Al-Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">meriwayatkan di dalam kitabnya </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Adab Al-Mufrad </span></i><span style="font-weight: 400;">dari ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">لا تكونوا عُجُلاً مَذَايِيعَ بُذُرًا: فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحاً أو مُكْلِحاً، وأمور مُتَماحِلَةً رُدُحاً </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Janganlah kalian suka terburu-buru, mudah menyebarkan dan memperbesar  fitnah serta suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan, karena di belakang kalian terdapat musibah yang sangat buruk atau tidak disukai, dan perkara-perkara yang membinasakan lagi fitnah-fitnah yang besar”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Adab Al-Mufrad </span></i><span style="font-weight: 400;">(327), berkata Al-Albani (Hadis ini) sahih).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">melarang tiga perkara, yaitu:</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Melarang kita menjadi orang yang </span><i><span style="font-weight: 400;">‘ujul, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu bersikap suka terburu-buru dalam memutuskan perkara, berucap maupun bertindak. Hendaklah kita menjadi orang yang tenang, berhati-hati dan teliti memandang suatu permasalahan dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta baik dan buruknya. Dengan demikian, diharapkan seseorang melangkah dengan pertimbangan yang benar-benar matang.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Melarang kita menjadi orang yang </span><i><span style="font-weight: 400;">madzayi’, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu tipe penyebar fitnah atau orang yang memperbesar api fitnah, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Dengan tersebarnya fitnah, maka daerah yang terkena fitnah </span> <span style="font-weight: 400;">menjadi lebih luas dan dengan diperbesar api fitnah akan </span> <span style="font-weight: 400;">terjadi keburukan dan bahaya yang lebih besar, meskipun </span> <span style="font-weight: 400;">daerah yang tidak terkena fitnah tidaklah bertambah luas.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Melarang kita menjadi orang yang </span><i><span style="font-weight: 400;">budzur, </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan. </span> <span style="font-weight: 400;">Merupakan perkara yang dimaklumi bersama, bahwa di saat api fitnah bergejolak, satu kalimat saja yang terucapkan -padahal semestinya satu kalimat tersebut disimpan demi </span> <span style="font-weight: 400;">mencegah bahaya dan dampak buruk yang besar- terbukti </span> <span style="font-weight: 400;">bisa menyebabkan darah kaum muslimin mengalir dan merusak harta dan kehormatan mereka. Bahkan bisa saja timbul bahaya yang lebih besar dari itu </span> <span style="font-weight: 400;">semua, yaitu bahaya dan musibah yang menimpa agama seorang muslim.</span>
</li>
</ol>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kesimpulan</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari beberapa penjelasan pada serial sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa pembahasan mengenai “</span><b>Dampak-dampak negatif fitnah</b><span style="font-weight: 400;">” ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena merupakan penjagaan seseorang dari segala keburukan, baik keburukan di dunia, terlebih lagi keburukan di akhirat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seseorang yang memahami dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya, diharapkan akan waspada, berhati-hati dan menjaga diri dari segala keburukan. Ia bukan hanya selamat dari keburukan ketika fitnah itu datang, bahkan jauh-jauh hari sebelum fitnah itu menyerang, iapun akan diberi taufik oleh Allah untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga bisa jadi hal itu menjadi sebab yang besar bagi dirinya untuk menjadi sosok pembuka pintu kebaikan bagi orang lain saat fitnah datang menyerang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya itu banyak jumlahnya, namun Syaikh Abdur Razzaq </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">akan menulis sebagiannya saja dengan harapan Allah menjadikan hal itu bisa bermanfaat luas bagi kaum muslimin.</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 