
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Kisah Imam Ahmad </b><b><i>rahimahullah</i></b><b> ketika Menghadapi Fitnah</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Perhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad <i>rahimahullah</i>, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), </span></i><span style="font-weight: 400;">maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,</span><i><span style="font-weight: 400;">“Apa yang kalian inginkan?”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> jawab mereka.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">As-Sunnah, </span></i><span style="font-weight: 400;">no. 90).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ajakan Imam Ahmad </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!</span></i><span style="font-weight: 400;">” lalu iapun menyampaikan udzurnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud </b><b><i>radhiyallahu ‘anhu</i></b><b> tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi Fitnah</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau berkata,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Asyu’ab: 9886</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
 