
<h3 lang="id-ID" style="text-align: center;" align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><b>Rasulullah Memulai Dakwahnya dengan Tauhid</b></span></h3>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Nabi </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">memulai dakwahnya sama persis dengan para Nabi sebelum beliau, yaitu memulai dari aqidah tauhid. Beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">mengawali dakwahnya dengan menyeru umatnya agar mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">semata, yang merupakan inti dari kalimat tauhid </span><span lang="id-ID"><i>“laa ilaaha illallah”. </i></span><span lang="id-ID">Tidak pernah terlintas dalam pikiran beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">untuk memulai dakwahnya dengan selain dasar yang agung tersebut. Beliau terus-menerus menyerukan dakwah tauhid ini sepanjang periode kerasulan beliau selama 13 tahun di kota Mekah. Beliau tidak pernah merasa lelah dan bosan, beliau senantiasa bersabar terhadap setiap gangguan dan rintangan di jalan dakwah tauhid tersebut. Selama di Mekah, beliau tidaklah mewajibkan syari’at-syari’at dan rukun Islam kecuali shalat pada tahun ke sepuluh dari periode kerasulan. Meskipun beliau juga menyerukan kepada umatnya kepada akhlak yang mulia, menyambung tali persaudaraan, jujur, dan memelihara kehormatan diri, akan tetapi yang menjadi sentral dakwah dan titik perselisihan antara beliau dengan umatnya adalah dakwah kepada aqidah tauhid. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">telah memerintahkan kepada beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">untuk menegakkan dasar tauhid yang agung ini. Hal ini dapat kita cermati dari beberapa ayat berikut ini.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Ayat pertama, </b></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sesunguhnya kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>”</i></span><i> </i><span lang="">(QS. Az-Zumar [39]: 2-3).</span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Ayat ke dua, </b></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (11) وَأُمِرْتُ لِأَنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ (12) قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (13) قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي (14)</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Katakanlah,</i></span><span lang="id-ID"><i><b>’Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri’. Katakanlah,’Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabb-ku’. Katakanlah,</i></span><span lang="id-ID"><i><b>’Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku</b></i></span><span lang=""><i><b>.</b></i></span><span lang="id-ID"><i><b>’</b></i></span><span lang="id-ID"><i>“</i></span><i> </i><i> </i><span lang="">(QS. Az-Zumar [39]: 11-14).</span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Ayat ke tiga, </b></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p dir="RTL" align="CENTER">قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (163)</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Katakanlah,’Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku</b></i></span><span lang="id-ID"><i> dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)</i></span><span lang=""><i>.</i></span><span lang="id-ID"><i>’ ” </i></span><span lang="">(QS. Al-An’am [6]: 162-163).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Adapun dari As-Sunnah, maka banyak kita dapatkan keterangan yang menunjukkan bahwa beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">memulai dakwahnya dengan tauhid, dan menutup dakwahnya dengan tauhid pula. Beliau terus-menerus memegang teguh dakwah tauhid tersebut di sepanjang kehidupan beliau </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="id-ID">Di antara hadits yang menunjukkan hal itu adalah:</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Hadits pertama, </b></span><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">menyerukan kepada umatnya,</span></p>
<p dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">« يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تُفْلِحُوا »</p>
<p align="JUSTIFY"><em>“<span lang="id-ID">Wahai manusia, katakanlah ‘laa ilaaha illallah’, niscaya kalian akan beruntung</span><span lang="">.</span><span lang="id-ID">” </span></em><span lang="">[1] </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Hadits ke dua, </b></span><span lang="id-ID">dari ‘Amr bin ‘Abasah As-Sulami </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="id-ID">beliau berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Saat aku di masa jahiliyyah, aku menyangka bahwa manusia berada dalam kesesatan. Mereka tidaklah memiliki sesuatu apa pun, mereka menyembah berhala. Aku pun mendengar ada seorang laki-laki di Mekah yang menyampaikan berita-berita. Maka aku pun pergi ke sana dan mendatanginya. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersembunyi dari kejahatan kaumnya. Aku pun berjalan perlahan sampai bisa menemuinya di Mekah. Kemudian aku bertanya kepada beliau,’Siapakah Engkau?’ Beliau berkata,’Aku seorang Nabi’. Aku bertanya,’Apakah Nabi itu?’ Beliau menjawab,’Aku diutus oleh Allah’. Aku bertanya lagi,’Dengan apa Engkau diutus?’ Maka beliau menjawab,</i></span></p>
<p dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">« أَرْسَلَنِى بِصِلَةِ الأَرْحَامِ وَكَسْرِ الأَوْثَانِ وَأَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ لاَ يُشْرَكُ بِهِ شَىْءٌ »</p>
<p align="JUSTIFY">“<em><span lang="id-ID">Aku diutus untuk menyambung tali persaudaraan, menghancurkan berhala, dan </span></em><span lang="id-ID"><em>agar mentauhidkan Allah serta tidak menyekutukannya dengan sesuatu apa pun</em>.</span><span lang="id-ID">” </span><span lang="">[2] </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID"><b>Hadits ke tiga, </b></span><span lang="id-ID">dalam beberapa pertanyaan Raja Heraklius kepada Abu Sufyan ketika masa perjanjian Hudaibiyah. Heraklius menanyakan tentang keadaan Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Apa yang diperintahkan kepada kalian?” </i></span><span lang="id-ID"> Aku (Abu Sufyan) berkata, </span><span lang="id-ID"><i>”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</i></span></p>
<p dir="RTL" lang="id-ID" align="CENTER">اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ</p>
<p align="JUSTIFY">“<em><span lang="id-ID">Sembahlah Allah semata, dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.</span></em><span lang="id-ID"><em> Tinggalkanlah perkataan nenek moyang kalian! Beliau memerintahkan kami untuk mengerjakan shalat, jujur, menjaga kehormatan diri, dan menyambung persaudaraan</em>.” </span><span lang="">[3] </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Betapa kokohnya pengaruh dakwah tauhid Rasulullah </span><em><span lang="id-ID">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></em><span lang=""> dalam hati Abu Sufyan </span><em><span lang="">radhiyallahu ‘anhu</span></em><span lang="">. Sehingga yang pertama kali beliau sebutkan adalah inti dakwah tauhid yang Rasulullah </span><em><span lang="id-ID">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></em> <span lang="">ajarkan, sebel</span><span lang="">um menyebutkan perintah-perintah Rasulullah </span><em><span lang="id-ID">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></em><span lang=""> yang lainnya semacam shalat dan menyambung persaudaraan.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Tauhid inilah yang menjadi perhatian serius Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="id-ID">Dengan penuh kesabaran Rasulullah mendakwahkan tauhid dan membina para sahabatnya di atas aqidah tauhid tersebut. Dakwah beliau bukanlah untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk tujuan-tujuan rendah lainnya. Demikian pula, Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">juga tidak menjadikan kekuasaan sebagai sarana atau alat untuk berdakwah. Padahal saat itu Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">mendapatkan tekanan bertubi-tubi dari kaum kafir Quraisy agar menghentikan dakwahnya.</span> <span lang=""><b>[4, 5] </b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[Bersambung]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Selesai disempurnakan di siang hari, Lab EMC Rotterdam NL, 17 Rajab 1436</span></p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><span lang=""><b> M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<h5 class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><b>Catatan kaki:</b></span></h5>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><b>[1]</b></span></span><i><b> </b></i><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">HR. Ahmad no. 16066. Syaikh Syu’aib Arnauth dalam </span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><i>ta’liq </i></span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">beliau terhadap </span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><i>Musnad Imam Ahmad </i></span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">(3/492) menyatakan bahwa status hadits ini adalah </span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><i>shahih li ghairihi.</i></span></span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><span lang=""><b>[2] </b></span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">HR. Muslim no. 1967, hadits di atas adalah potongan dari hadits yang panjang.</span></span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><span lang=""><b>[3] </b></span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">HR. Bukhari no. 7, hadits ini adalah potongan dari hadits yang panjang.</span></span></p>
<p class="sdfootnote"><span style="font-size: small;"><span lang=""><b>[4] </b></span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">Diringkas dari </span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID"><i>Manhajul Anbiya’ fi Ad-Da’wati Ilallah, </i></span></span><span style="font-size: small;"><span lang="id-ID">hal. 72-77.</span></span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY"><span style="font-size: small;"><span lang=""><b>[5] </b></span><span lang="">Disarikan dari buku penulis, </span><span lang="id-ID"><i>“Saudaraku … Mengapa Engkau Enggan Mengenal Allah?” </i></span><span lang="id-ID">(Pustaka Al-Fajr, Yogyakarta, tahun 2010).</span></span></p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY">—</p>
<p class="sdfootnote" align="JUSTIFY">Artikel Muslim.Or.Id</p>
 