
<h1><b>Cara Shalat Orang yang Terus Kencing</b></h1>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Saya memiliki penyakit berupa kencing terus-menerus tanpa bisa dikendalikan. Ini membuat saya kerepotan karena harus bolak-balik berwudhu ketika hendak shalat. Bahkan terkadang saya membatalkan shalat ketika saya merasa ada air kencing yang keluar di tengah shalat. Terus terang ini membuat saya kesulitan untuk shalat. Adakah solusi untuk masalah saya ini?</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash-shalatu was salamu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita telah mengetahui bahwa keluarnya air kencing adalah pembatal wudhu. Demikian juga keluarnya madzi, termasuk pembatal wudhu. Sehingga masalah ini dapat di</span><i><span style="font-weight: 400;">qiyas</span></i><span style="font-weight: 400;">kan dengan kasus orang terus-menerus keluar madzi. Dari ‘Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">كُنْتُ رَجُلًا مَذَّاءً وكُنْتُ أسْتَحْيِي أنْ أسْأَلَ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فأمَرْتُ المِقْدَادَ بنَ الأسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقالَ: يَغْسِلُ ذَكَرَهُ ويَتَوَضَّأُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dahulu aku terkena penyakit madza’ (keluar madzi terus-menerus). Dan aku malu untuk bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang hal ini) karena posisi putri beliau sebagai istriku. Maka aku perintahkan Al-Miqdad bin Al-Aswad untuk bertanya kepada Nabi. Nabi menjawab: hendaknya ia mencuci zakarnya dan berwudhu (untuk setiap shalat)”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al-Bukhari no.178, Muslim no. 303).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam hadits ini Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memerintahkan orang yang keluar madzi terus-menerus untuk mencuci zakarnya sebelum berwudhu dan kemudian berwudhu untuk setiap waktu shalat. Jika ini sudah dilakukan, maka madzi yang keluar setelah itu tidak membuat wudhu atau shalatnya batal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka demikian jugalah yang perlu dilakukan oleh orang yang terus-menerus keluar air kencing. Selain itu, ia juga harus menggunakan semacam pembalut atau pampers pada kemaluannya untuk mencegah air kencing menetes ke pakaian atau badannya. Kelonggaran ini berlaku sampai waktu shalat habis. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Salisul baul</span></i><span style="font-weight: 400;"> adalah keluarnya air kencing terus menerus tanpa disengaja. Ini merupakan penyakit yang terkadang Allah sembuhkan penderitanya. Oleh karena itu kami nasehatkan agar penanya memeriksakan dirinya ke dokter terlebih dahulu. Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">memberikan kesembuhan dan rahmat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun masalah wudhunya, maka wudhunya tetap sah walaupun di tengah wudhu ternyata ada air kencing yang keluar. Demikian juga ketika air kencing keluar setelah wudhu. Yang demikian karena orang ini tidak mampu mengendalikan keluarnya air kencing tersebut. Padahal Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">”(Orang-orang beriman berdoa), Ya Allah jangan engkau membebani kami dengan sesuatu yang tidak kami mampu” (QS. Al-Baqarah: 286).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">juga berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah tidak membebani seseorang kecuali semaksimal kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga berfirman:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun para ulama mengatakan, ia wajib berwudhu untuk masing-masing waktu shalat ketika sudah masuk waktunya. Jika ia berwudhu setelah masuk waktu shalat, ia boleh shalat fardhu atau shalat sunnah berapa raka’at pun sampai waktunya habis. Dan wajib bagi dia dalam keadaan ini untuk menjaga air kencingnya dengan memakai sesuatu pada zakarnya, untuk mengurangi resiko menetesnya air kencing pada pakaian atau badannya. Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberikan keselamatan dan kesehatan kepada saudara-saudara kami”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Nurun ‘alad Darbi</span></i><span style="font-weight: 400;">, rekaman nomor 309).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam fatwa</span><i><span style="font-weight: 400;"> Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts wal Ifta</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga dijelaskan:</span></p>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Aku mendengar dari sebagian ikhwah bahwa orang yang terkena penyakit salisul baul (kencing terus) atau salisur rih (buang angin terus) mereka wajib berwudhu untuk setiap shalat beberapa saat sebelum shalat dimulai. Apakah pernyataan ini benar? Jika benar apa dalilnya? Dan apakah wajib untuk beristinja setiap hendak shalat? Dan apakah wajib membersihkan kain pembalut yang ia gunakan sebelum shalat? Karena bisa jadi kain tersebut terkena tetesan air kencing. Dan ketika waktu shalat Jum’at apakah ia harus menunggu waktu mendekati selesainya khutbah yang kedua lalu baru berwudhu? Apakah dibolehkan wudhu di rumah kemudian baru datang ke masjid? Demikian juga dalam masalah mengusap khuf, sandal dan kaos kaki. Orang yang punya penyakit salisul baul, lalu ia berwudhu dengan mengusap khuf untuk shalat zhuhur, lalu ia selesaikan shalat zhuhur, bolehkah ia tetap mengusap khuf pada shalat selanjutnya?</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang memiliki penyakit </span><i><span style="font-weight: 400;">salisul baul</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang terus-menerus, jika datang waktu shalat, ia wajib ber</span><i><span style="font-weight: 400;">istinja</span></i><span style="font-weight: 400;"> (cebok) dan memakai sesuatu pada zakarnya (seperti pampers) yang dapat mencegah menetesnya air kencing ke pakaian. Kemudian ia berwudhu dan shalat seperti biasa. Dan ia wajib lakukan seperti ini di setiap waktu shalat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya firman Allah</span><i><span style="font-weight: 400;"> ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> memerintahkan wanita yang </span><i><span style="font-weight: 400;">istihadhah </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk memakai kain pengikat (pada farjinya), lalu berwudhu di setiap waktu shalat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang memiliki penyakit </span><i><span style="font-weight: 400;">salisul baul</span></i><span style="font-weight: 400;"> juga boleh untuk berwudhu dalam keadaan memakai khuf dan mengusap khufnya sampai habis batasan waktunya. Berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Al-Lajnah </span></i><span style="font-weight: 400;">edisi 2, juz 4, halaman 245 fatwa nomor 16954).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulannya, orang yang keluar air kencing terus-menerus ia harus memperhatikan hal-hal berikut ini:</span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Ketika sudah masuk waktu shalat, ia bergegas untuk mencuci zakarnya dari air kencing.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Ia menggunakan semacam pembalut atau pampers untuk menahan air kencing.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Setelah itu ia berwudhu seperti biasanya.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Setelah itu ia boleh shalat sunnah atau shalat wajib.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Ia tidak perlu mengulang wudhu sampai habis waktu shalat. Kecuali ia melakukan pembatal wudhu yang lain seperti buang angin, tidur lelap, dan lainnya.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Ketika datang waktu shalat yang selanjutnya, ia mengulang lagi dari poin 1.</span></li>
</ol>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memberi </span><i><span style="font-weight: 400;">taufiq</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-size: inherit;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI </strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 