
<p><iframe loading="lazy" src="//www.youtube.com/embed/vqKjaK1xZmU?rel=0" height="281" width="500" allowfullscreen="" frameborder="0"></iframe></p>
<h2><strong>Gerakaan I’tidal dalam Sholat</strong></h2>
<p>1. Bangkit dari <em>i’tidal</em> dengan membaca tasmi’. Tasmi’ adalah bacaan:</p>
<p class="arab">سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ</p>
<p>2. Bacaan tasmi’ dimulai sejak bangkit dari dari rukuk, dan bukan setelah berdiri dari rukuk.</p>
<p>Abu Hurairah menceritakan,<br>
Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memulai takbiratul ihram ketika berdiri tegak, kemudian takbir lagi ketika turun rukuk, kemudian membaca<em> ‘sami’allaahu liman hamidah’</em> ketika bangkit i’tidal” (HR. Bukhari)</p>
<p>3. Pendapat yang kuat, bacaan tasmi’ ini wajib dibaca oleh imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. (<em>Sifat shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, hlm. 118)</p>
<p>4. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengangkat tangan ketika berdiri i’tidal, dengan cara yang sama ketika takbiratul ihram. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>5. Pendapat yang lebih kuat, posisi tangan ketika i’tidal tidak sedekap, tapi irsal (dilepas, tidak sedekap). Hanya saja, kami ingatkan bahwa dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat ulama. karena itu, sikap yang tepat adalah saling menghormati.</p>
<p>6. Wajib tumakninah ketika i’tidal. Tumakninah ketika i’tidal adalah diam sejenak ketika sudah berdiri sempurna, setelah bangkit dari rukuk.</p>
<p>7. Dianjurkan memperlama i’tidal sebagaimana yang dilakukan ketika rukuk. Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, mengatakan: “Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> shalat, sujud beliau, rukuk beliau, duduk diantara dua sujud, semuanya hampir sama panjangnya.” (HR. Abu Daud)</p>
<h3><strong>Kesalahan Ketika I’tidal</strong></h3>
<p>1. Tidak mengangkat tangan ketika i’tidal atau mengangkat tangan namun tidak sempurna.</p>
<p>2. Tidak berdiri sempurna ketika i’tidal. Perbuatan ini bisa membatalkan shalat. Karena seseorang tidak dianggap melakukan i’tidal, sampai dia berdiri sempurna.</p>
<p>3. tidak membaca: sami’allahu liman hamidah. Kesalahan ini banyak dilakukan oleh makmum</p>
<p>4. Membaca doa i’tidal sebelum sempurna berdiri. Membaca bacaan i’tidal sebelum berdiri sempurna, berarti membaca doa yang tidak pada tempatnya, sehingga harus diulangi</p>
<p>5. I’tidal yang terlalu cepat, sehingga berdirinya sangat singkat, belum mencukupi untuk disebut istiqamah.</p>
<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content --> 