
<p>Bagaimana cara hubungan intim yang sesuai sunnah Nabi? Berikut lanjutannya dalam serial kedua.</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">6- Jika ingin mengulangi hubungan intim, hendaklah berwudhu dahulu</span></h4>
<h4></h4>
<p>Ada hadits yang disebutkan dalam Shahih Muslim,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ ». زَادَ أَبُو بَكْرٍ فِى حَدِيثِهِ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا وَقَالَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُعَاوِدَ</p>
<p>Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya lalu ia ingin mengulanginya, maka hendaklah ia berwudhu.</em>” Abu Bakr dalam haditsnya menambahkan, “Hendaklah menambahkan wudhu di antara kedua hubungan intim tersebut.” Lalu ditambahkan, “Jika ia ingin mengulangi hubungan intim.” (HR. Muslim, no. 308).</p>
<p>Imam Malik menambahkan lafazh,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ</p>
<p><em>“Berwudhu itu lebih membuat semangat ketika ingin mengulangi hubungan intim.”</em></p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">7- Jika penis telah masuk dalam vagina (bertemunya dua kemaluan), maka sudah wajib mandi junub meskipun tidak keluar mani</span></h4>
<h4></h4>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ</p>
<p>“<em>Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah, pen.) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi</em>.” (HR. Muslim, no. 350)</p>
<p> </p>
<p>Begitu pula tetap wajib mandi kalau keluar mani meskipun tidak bertemunya dua kemaluan, misal mani keluar saat foreplay atau bercumbu sebagai bentuk pemanasan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani)</em>.” (HR. Muslim, no. 343)</p>
<p>Boleh saja bagi yang wajib mandi ia tidur dan menunda mandi hingga menjelang waktu Shubuh. Namun sangat dianjurkan baginya untuk berwudhu sebelum tidur. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu ‘Umar berikut.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَيَرْقُدُ أَحَدُنَا وَهْوَ جُنُبٌ قَالَ نَعَمْ إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْقُدْ وَهُوَ جُنُبٌ</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata bahwa ‘Umar bin Al-Khattab pernah bertanya pada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Apakah salah seorang di antara kami boleh tidur sedangkan ia dalam keadaan junub?</em>” Beliau menjawab, “<em>Iya, jika salah seorang di antara kalian junub, hendaklah ia berwudhu lalu tidur.</em>” (HR. Bukhari, no. 287; Muslim, no. 306).</p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;">8- Dilarang menyetubuhi wanita di waktu haidhnya</span></h4>
<h4></h4>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ</p>
<p>“<em>Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari (hubungan intim dengan) wanita di waktu haid.</em>” (QS. Al-Baqarah: 222).</p>
<p>Imam Nawawi berkata, “Mahidh dalam ayat bisa bermakna darah haid, ada pula yang mengatakan waktu haid dan juga ada yang berkata tempat keluarnya haid yaitu kemaluan. … Dan menurut ulama Syafi’iyah, maksud mahidh adalah darah haid.” (<em>Al-Majmu’</em>, 2: 343)</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم-</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.</em>” (HR. Tirmidzi no. 135, Ibnu Majah no. 639. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al-Muhamili dalam <em>Al-Majmu’</em> (2: 359) menyebutkan bahwa Imam Asy-Syafi’i <em>rahimahullah</em> berkata, “Barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah terjerumus dalam dosa besar.”</p>
<p>Hubungan seks yang dibolehkan dengan wanita haid adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ (senggama) di kemaluan. Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ</p>
<p>“<em>Lakukanlah segala sesuatu (terhadap wanita haid) selain jima’ (di kemaluan).</em>” (HR. Muslim, no. 302)</p>
<p>Dalam riwayat yang <em>muttafaqun ‘alaih</em> disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا ، فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنْ يُبَاشِرَهَا ، أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِى فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا . قَالَتْ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَمْلِكُ إِرْبَهُ</p>
<p>Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa di antara istri-istri Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ada yang mengalami haid. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ingin bercumbu dengannya. Lantas beliau memerintahkannya untuk memakai sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap mencumbunya (di atas sarung). Aisyah berkata, “Adakah di antara kalian yang bisa menahan hasratnya (untuk berjima’) sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya?”   (HR. Bukhari, no. 302; Muslim, no. 293). Imam Nawawi menyebutkan judul bab dari hadits di atas, “Bab mencumbu wanita haid di atas sarungnya”. Artinya di selain tempat keluarnya darah haid atau selain kemaluannya.</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Kaum muslimin sepakat akan haramnya menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.” (<em>Al-Majmu’</em>, 2: 359)</p>
<p>Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berkata, “Menyetubuhi wanita nifas adalah sebagaimana wanita haid yaitu haram berdasarkan kesepakatan para ulama.” (<em>Majmu’ Al-Fatawa</em>, 21: 624)</p>
<p> </p>
<p><em>-bersambung insya Allah-</em></p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #0000ff;">Referensi:</span></h4>
<p><a href="https://islamqa.info/ar/5560">https://islamqa.info/ar/5560</a></p>
<p>—</p>
<p>Bada Isya di Bandara Adisucipto Terminal B, 11 Jumadal Ula 1437 H</p>
<p><em>Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi</em>: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p><a href="http://rumaysho.com/">Rumaysho.Com</a>, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam</p>
 