
<p>Bahasan Bulughul Maram kali ini menarik. Apakah saat kita mengucapkan salam dalam shalat itu berakhir hingga “WA BAROKAATUH” ataukah cukup “ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH” saja?</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
<p align="center"><strong><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;">بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ</span></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/tag/buluhul-maram-cara-shalat" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bab Sifat Shalat</strong></span></a></span></p>
<p></p>
<p> </p>
<h2>Hadits #320</h2>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ: «السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ»، وَعَنْ شِمَالِهِ: «السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ». رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ.</span></p>
<p>Dari Wa’il bin Hujr <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</em> beliau salam ke sebelah kanan dengan ucapan: AS-SALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAHI WA BAROKAATUH (artinya: Semoga salam sejahtera atasmu beserta rahmat Allah dan berkah-Nya) dan salam ke sebelah kiri dengan ucapan: AS-SALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad sahih) [HR. Abu Daud, no. 997]</p>
<p> </p>
<h3>Catatan:</h3>
<p>Para ulama berselisih pendapat mengenai lafaz “wa barokaatuh” pada salam kedua. Bahkan riwayat “WA BAROKAATUH” dinyatakan sebagai riwayat yang lemah.</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<ol>
<li>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu mengucapkan <a href="https://rumaysho.com/10074-sifat-shalat-nabi-29-mengakhiri-shalat-dengan-salam.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>salam dua kali dalam shalat</strong></span></a>. Namun, salam kedua itu dihukumi sunnah, bukan wajib. Inilah pendapat ulama Malikiyyah dan Syafiiyah, juga salah satu pendapat dari Imam Ahmad.</li>
<li>Dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em>, Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Para ulama sepakat bahwa <a href="https://rumaysho.com/31104-safinatun-naja-rukun-shalat-cara-niat-membaca-al-fatihah-dan-rinciannya.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>salam yang wajib adalah salam pertama</strong></span></a>.” Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily menyatakan bahwa salam kedua itu sunnah sebagaimana hadits dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengucapkan salam hanya sekali pada shalat witir di akhir rakaat kesembilan.</li>
<li>Ucapan salam adalah “AS-SALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH, AS-SALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH”. Inilah riwayat yang <a href="https://rumaysho.com/11484-hadits-mahfuzh-dan-hadits-syadz.html" target="_blank" rel="noopener"><strong><em>mahfuzh</em></strong></a> (sahih yang menyelisihi riwayat yang lainnya) yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, sebagaimana dari Ibnu Mas’ud yang menyebutkan tanpa “WA BAROKAATUH”.</li>
<li>Jumhur ulama berpendapat bolehnya salam dengan “AS-SALAAMU ‘ALAIKUM, AS-SALAAMU ‘ALAIKUM.”</li>
<li>Mengenai tambahan “WA BAROKAATUH” ada dua pendapat dalam hal ini, yaitu: (1) tidak ada tambahahn “WA BAROKAATUH” karena sebagian besar riwayat tidak menyebutkannya; (2) boleh ada tambahan “WA BAROKAATUH” karena ada riwayat Abu Daud dari Wail tentang hal ini. Lihat <em>Minhah Al-‘Allam</em>, 3:180.</li>
<li>Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily berkata bahwa (dalam shalat saat salam) tidak disunnahkan menambahkan “WA BAROKAATUH” karena hadits yang membicarakannya sebenarnya adalah hadits <em>dhaif. </em>Hal ini berbeda seperti yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Bulugh Al-Maram bahwa sanad haditsnya itu sahih. Sebagian ulama mengisyaratkan bahwa menambah “WA BAROKAATUH” adalah <a href="https://rumaysho.com/17359-hadits-arbain-05-peringatan-bahaya-bidah.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>bid’ah, sebab haditsnya itu tak sahih</strong></span></a>. Hadits yang sahih membicarakan bahwa salam itu tak sampai “WA BAROKAATUH”. Lihat <em>Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah</em>, 1:519.</li>
</ol>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/22521-manhajus-salikin-menutup-shalat-dengan-salam.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Cara Mengucapkan Salam dalam Shalat</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p>Dalam <em>Nail Ar-Raja’ (</em>hlm. 224) disebutkan:</p>
<ul>
<li>Bacaan salam paling singkat adalah: ASSALAAMU ‘ALAIKUM.</li>
<li>Bacaan salam paling sempurna adalah: ASSALAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH.</li>
</ul>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/22626-ucapan-salam-saat-shalat-apakah-sampai-wa-barakaatuh.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Ucapan Salam Apakah Perlu Sampai WA BAROKAATUH?</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h3>Cara salam</h3>
<p>Cara salam adalah dengan memalingkan wajah ke kanan sampai orang di belakang melihat pipi, begitu pula salam ke kiri sampai orang di belakang melihat pipi. Disebutkan dalam hadits,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ أَرَى رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ</span></p>
<p>Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri hingga aku melihat pipinya yang putih.” (HR. Muslim, no. 582).</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;">أَنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ »</span></p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri sampai terlihat pipinya yang putih, lalu beliau mengucapkan, ‘ASSALAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH, ASSALAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH’.” (HR. Abu Daud, no. 996 dan Tirmidzi, no. 295. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).</p>
<p> </p>
<p><em>Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.</em></p>
<p> </p>
<h3>Referensi:</h3>
<ol>
<li>
<em>Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah.</em> Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Prof. Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayan. 1:518-519.</li>
<li>
<em>Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.</em> Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:176-180.</li>
<li>
<em>Nail Ar-Raja’ bi Syarh Safinah An-Najaa’.</em> Cetakan pertama, Tahun 1439 H. As-Sayyid Ahmad bin ‘Umar Asy-Syathiri. Penerbit Daar Al-Minhaj.</li>
<li>
<em>Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi. Penerbit Maktabah Darul Minhaj.</li>
</ol>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Selasa pagi, 17 Ramadhan 1443 H, 19 April 2022</p>
<p><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul</a></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel<span style="color: #ff0000;"> <a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 