
<p>Inilah cara sedekap dalam shalat yang keliru, yaitu tangan sedekap dan diletakkan di pinggang.</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 17pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">بَابُ الحَثِّ عَلَى الخُشُوْعِ فِي الصَّلاَةِ</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 16pt;"><strong>Bab Dorongan untuk Khusyuk dalam Shalat</strong></span></p>

<h2>Larangan Shalat Mukhtashiran (Tangan Sedekap di Pinggang)</h2>
<h3>Hadits #238</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَمَعْنَاهُ أَنْ يَجْعَلَ يَدَهُ عَلَى خَاصِرَتِهِ</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu,</em> ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang seseorang shalat dengan meletakkan tangan sedekap di pinggang (<em>mukhtashiran</em>).” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>. Lafaz hadits ini adalah lafaz Muslim. Maknanya adalah meletakkan tangannya pada pinggangnya). [HR. Bukhari, no. 1219, 1220 dan Muslim, no. 545]
</p>
<h3>Hadits #239</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَفِي البُخَارِي: عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ ذَلِكَ فِعْلُ اليَهُوْدِ</p>
<p>Menurut riwayat Al-Bukhari, dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> disebutkan, sesungguhnya demikian itu merupakan perbuatan orang <a href="https://rumaysho.com/?s=yahudi" target="_blank" rel="noopener"><strong><span style="color: #ff0000;">Yahudi</span></strong></a>. [HR. Bukhari, no. 3458]
</p>
<p> </p>
<h3>Kosakata hadits</h3>
<ul>
<li>
<em>Ar-rojul</em> dalam hadits diartikan seseorang, bukan hanya laki-laki, perempuan juga termasuk.</li>
<li>
<em>Mukhtashiran</em> adalah bentuk <em>isim faa’il</em> dari kata <em>ikhtashara</em>. <em>Ikhtashara</em> adalah meletakkan tangan pada <em>khashirah</em>-nya. <em>Khashirah</em> dari seseorang adalah <strong>antara</strong> <em>al-warku</em>/ <em>al-wirku</em> (pangkal paha) dan <em>al-adhlaa’</em> (tulang rusuk). Inilah pengertian <em>khashirah</em> menurut Imam Nawawi. Bahkan menurut beliau, inilah yang dipahami oleh para peneliti, ahli bahasa, ahli kosakata, dan ahli hadits. Lihat <em>Syarh Shahih Muslim</em>, 5:39.</li>
<li>Dalam kamus Al-Munawwir, <em>al-khashru </em>berarti pinggang. <em>Al-khashirah</em> berarti lambung.</li>
<li>Letak lambung manusia berada pada rongga sebelah kiri perut.</li>
</ul>
<p>Pendapat lain dari makna shalat <em>mukhtashiran</em> adalah:</p>
<ul>
<li>membaca satu ayat atau dua ayat dari akhir surah.</li>
<li>menghapus ayat sajadah saat melewatinya dalam shalat agar tidak melakukan <strong><a href="https://rumaysho.com/23824-manhajus-salikin-sujud-tilawah.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">sujud tilawah</span></a></strong>.</li>
<li>shalat dengan bersandar pada tongkat.</li>
</ul>
<p>Masih ada pendapat lainnya mengenai maksud shalat <em>mukhtashiran</em>.</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<ol>
<li>Dilarang sedekap dalam shalat dengan meletakkan tangan di pinggang. Ini adalah larangan dari jumhur ulama. Para ulama mengatakan hukumnya <em>makruh tanzih</em> (makruh, tidak sampai haram).</li>
<li>Para ulama katakan, cara shalat dengan meletakkan tangan di pinggang tidak membatalkan shalat. Demikian menurut pandangan ulama Syafiiyah dan Hambali.</li>
<li>Kita dilarang <a href="https://rumaysho.com/tag/tasyabbuh" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong><em>tasyabbuh</em></strong></span></a> (menyerupai) <a href="https://rumaysho.com/?s=yahudi" target="_blank" rel="noopener"><strong><span style="color: #ff0000;">Yahudi</span></strong></a>. Inilah hikmah dari larangan shalat <em>mukhtashiran</em>.</li>
<li>Meletakkan tangan di pinggang saat shalat menunjukkan <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/tag/kiat-shalat-khusyuk" target="_blank" rel="noopener"><strong>tidak khusyuk</strong>.</a></span> Karena cara shalat seperti ini akan membuat gerakan-gerakan tambahan dengan memiringkan, mengangkat, atau melepasnya.</li>
<li>Yang tepat, sedekap dalam shalat adalah dengan meletakkan tangan kanan di depan tangan kiri, lalu diletakkan di pusar, di atas, atau di bawahnya. Nanti akan ada penjelasannya dalam <a href="https://rumaysho.com/?s=cara+shalat" target="_blank" rel="noopener"><strong><span style="color: #ff0000;">tata cara shalat</span> </strong></a>dari Bulughul Maram.</li>
</ol>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/229-larangan-shalat-dalam-keadaan-tangan-di-pinggang.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Larangan Shalat Tangan di Pinggang</span></a></strong></span></p>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:432-433.</p>
<p>—</p>
<p>Kamis pagi, 2 Safar 1443 H, 9 September 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 