
<p>Apakah makmum diperintahkan membaca surah Al-Fatihah ataukah cukup dengan bacaan imam?</p>
<p> </p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Kitab Shalat</strong></span></p>
<p align="center"><strong><span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-size: 18pt;">بَابُ صِفَةِ الصَّلاَةِ</span></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/tag/buluhul-maram-cara-shalat" target="_blank" rel="noopener"><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bab Sifat Shalat</strong></span></a></span></p>

<h2>Hukum Membaca Surah Al-Fatihah dalam Shalat</h2>
<h3>Hadits #279</h3>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ عُبادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَفِي رِوَايَةٍ، لِابْنِ حِبَّانَ وَالدَّارقُطْنِيِّ: «لاَ تُجْزِي صَلاَةٌ لاَ يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ».</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">وَفِي أُخْرَى، لِأَحْمَدَ، وَأَبِي دَاوُدَ، وَالتِّرْمِذِيِّ، وَابْنِ حِبَّانَ: «لَعَلَّكُمْ تَقْرَأُونَ خَلْفَ إمَامِكُمْ؟»، قُلْنَا: نَعَمْ، قَالَ: «لاَ تَفْعَلُوا إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا».</p>
<p>Dari ‘Ubadah bin Ash-Shaamit <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an (surah Al-Fatihah).</em>” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>) [HR. Bukhari, no. 756 dan Muslim, no. 394, Ad-Daruquthni, 1:321]
</p>
<p>Dalam riwayat Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthni disebutkan, “<em>Tidak sah (berpahala) shalat yang tidak dibacakan surah Al-Fatihah di dalamnya</em>.” [Ini adalah lafaz dari Ziyad bin Ayyub. Ad-Daruquthni mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih].</p>
<p>Dalam hadits lain riwayat Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban disebutkan, “<em>Barangkali kalian membacanya di belakang imam kalian?</em>” Kami menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “<em>Jangan engkau lakukan kecuali membaca surah Al-Fatihah karena sungguh tidak sah shalat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah</em>.” [HR. Ahmad, 37:368; Abu Daud, no. 823; Tirmidzi, no. 311; Ibnu Khuzaimah, 3:36; Ibnu Hibban, 5:86. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Demikian pula Ad-Daruquthni menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Namun, ada kritikan yang menyatakan bahwa hadits ini memiliki ‘<em>illah</em> atau cacat].</p>
<p> </p>
<h3>Faedah hadits</h3>
<ol>
<li>Surah Al-Fatihah disebut dengan <em>Ummul Qur’an</em> karena di dalamnya terdapat kandungan makna yang terdapat dalam Al-Qur’an yaitu terdapat pujian kepada Allah, perintah untuk beribadah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan, juga terdapat kabar gembira bagi yang beriman dan ancaman bagi yang durhaka.</li>
<li>Surah Al-Fatihah disebut pula dengan<em> Fatihatul Kitab</em> (Pembuka Kitab Suci). Karena Surah Al-Fatihah inilah pembuka kitab suci Al-Qur’an dan pembuka tilawah. Pembuka tilawah berarti pembuka dalam shalat. Dalam shalat tidaklah boleh membuka membaca surah selain didahului surah Al-Fatihah.</li>
<li>Al-Qur’an disebut dengan Al-Kitab karena kitab ini termaktub di langit dan tertulis di bumi.</li>
<li>Surah Al-Fatihah memiliki beberapa penyebutan. Dari sini saja sudah menunjukkan keutamaan surah yang mulia ini.</li>
<li>Para ulama madzhab bersepakat bahwa surah Al-Fatihah wajib dibaca dalam shalat bagi imam dan orang yang shalat <em>munfarid</em> (sendirian). Shalat tidaklah sah kecuali harus membaca surah Al-Fatihah. Imam Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad menyebutkan bahwa membaca Al-Fatihah tidaklah harus, boleh saja mengganti dengan surah lain dalam Al-Qur’an. <strong>Namun, pendapat jumhur ulama dalam hal ini lebih kuat.</strong>
</li>
<li>Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum membaca surah Al-Fatihah bagi makmum. Dalam hal ini ada tiga pendapat.</li>
</ol>
<ul>
<li>
<strong>Pendapat pertama</strong>: Wajib membaca surah Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat sir maupun jahar karena membacanya itu termasuk <strong>rukun shalat</strong>. Pendapat ini dianut oleh ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Ibnu ‘Abbas, Al-Auza’i, Al-Laits, Imam Syafii dan kebanyakan pengikutnya, juga dipilih oleh Imam Ash-Shan’ani dan Syaikh Ibnu Baz.</li>
<li>
<strong>Pendapat kedua</strong>: Wajib membaca surah Al-Fatihah bagi makmum dalam shalat sir, sedangkan dalam shalat jahar tidak diwajibkan membacanya. Inilah pendapat Imam Malik, pendapat terdahulu dari Imam Syafii (<em>qaul qadim</em>), salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dikuatkan oleh sebagian ulama Hanafiyah.</li>
<li>
<strong>Pendapat ketiga</strong>: Makmum wajib diam dalam shalat jahriyyah dan sirriyah. Dalam shalat jahar dan sir, makmum tidak wajib membaca surah Al-Fatihah. Inilah pendapat ulama Hanafiyah.</li>
</ul>
<p>Pendapat yang terkuat dalam hal ini adalah <strong>wajibnya membaca surah Al-Fatihah dalam shalat sirriyah dan jahriyah bagi makmum sebagaimana dipilih oleh pendapat pertama</strong>. Makmum membaca surah Al-Fatihah ketika imam diam. Jika makmum tidak dimudahkan, ia tetap membacanya walaupun saat imam sedang membaca surah setelah Al-Fatihah. Setelah itu barulah makmum diam. Hal ini dikecualikan jika makmum masuk dan imam sedang rukuk, maka makmum ikut rukuk bersama imam dan membaca surah Al-Fatihah menjadi gugur.</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/16347-mendapati-ruku-bersama-imam-berarti-mendapat-satu-rakaat.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Mendapat Rukuk Berarti Mendapat Satu Rakaat</span></a></span></strong></p>
<p>Sahabat Abu Bakrah ketika ia mendapatkan jamaah dalam keadaan rukuk, ia melakukan rukuk dari sebelum masuk dalam shaf. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> diceritakan hal tersebut dan beliau berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ</p>
<p>“<em>Semoga Allah memberikan terus semangat kepadamu. Namun, seperti itu jangan diulangi</em>.” (HR. Bukhari, no. 783).</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/1497-makmum-membaca-al-fatihah-di-belakang-imam.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Pendapat Pertengahan, Hukum Membaca Surah Al-Fatihah bagi Makmum</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h3>Referensi:</h3>
<ul>
<li>
<em>Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram.</em> Cetakan pertama, Tahun 1432 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. Jilid Ketiga. 3:49-57.</li>
</ul>
<p>—</p>
<p>Selasa sore, 25 Rabiul Akhir 1443 H, 30 November 2021</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com">@ Darush Sholihin Panggang Gunungkidul</a></span></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></span></p>
<p>Artikel<span style="color: #ff0000;"> <a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 