
<p><span style="font-weight: 400;">Ibadah sunnah adalah ibadah yang tidak wajib dikerjakan. Apabila menghendaki, seseorang bisa melaksanakannya, dan jika tidak menghendaki, dia bisa saja tidak melaksanakannya. Dan ketika seseorang melaksanakan atau menyelesaikan ibadah sunnah dengan ikhlas, maka dia berhak mendapatkan pahala.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/44192-keutamaan-menjaga-pelaksanaan-ibadah-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Menjaga Pelaksanaan Ibadah Sunnah</a></strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang menjadi masalah adalah, apabila seseorang sudah masuk dalam rangkaian ibadah sunnah, apakah dia harus menyelesaikan, ataukah boleh untuk dibatalkan tanpa alasan? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, seseorang ingin melaksanakan shalat sunnah dua raka’at. Setelah dia mendapatkan satu raka’at, apakah dia boleh membatalkan ibadah shalat sunnah tersebut? Contoh lainnya, seseorang ingin melaksanakan ibadah puasa sunnah dan niat di malam hari atau makan sahur. Dan sekarang dia berada di pertengahan siang, jam 13.00. Apakah dia boleh membatalkan ibadah puasa sunnah tersebut?</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Dua pendapat ulama dalam masalah ini</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Yaitu, apakah amal ibadah sunnah itu berubah status menjadi wajib ketika seseorang sudah masuk (sudah memulai) mengerjakannya? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama madzhab Hanafiyyah berpendapat bahwa meninggalkan ibadah sunnah itu tidak mengapa, yaitu ketika sebelum mengerjakannya. Adapun ketika seorang mukallaf itu sudah mulai mengerjakan ibadah sunnah, berubahlah hukumnya menjadi sebuah keharusan untuk disempurnakan sampai selesai, seperti ibadah wajib. Sehingga dia tidak boleh membatalkan ibadah sunnah tersebut di tengah-tengah pelaksanannya. Apabila dia sengaja membatalkan, maka dia harus meng-qadha’ (mengulang ibadah sunnah tersebut di waktu lainnya). </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/39376-sunnah-membantu-istri-di-rumah.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Membantu Istri di Rumah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama Hanafiyyah berdalil dengan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kamu membatalkan amal-amal kalian.” </span><b>(QS. Muhammad [47]: 33)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa ibadah sunnah itu tidaklah menjadi wajib ketika seseorang sudah masuk atau mulai mengerjakannya, sehingga boleh untuk ditinggalkan (dibatalkan) kapan saja dia kehendaki di tengah-tengah pelaksanaannya. Dikecualikan dalam masalah ini adalah </span><b>ibadah haji dan umrah sunnah</b><span style="font-weight: 400;">, yang wajib disempurnakan sampai selesai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan pendapat jumhur ulama tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama, hadits dari Ummu Hani’ </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha, </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> datang ke rumahnya dan meminta air lalu meminumnya. Kemudian beliau menyodorkan kepadanya, lalu dia pun meminumnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ummu Hani’ </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sedang berpuasa.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shalallahu ‘alaihi wa salam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِينُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Orang yang berpuasa sunnah lebih berhak atas dirinya. Jika dia mau, dia bisa menyempurnakan (menyelesaikan) puasanya. Dan jika dia mau, dia boleh membatalkan puasanya.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 732 dan Ahmad no. 26370, dinilai shahih oleh Al-Albani)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/23769-apakah-benar-mandi-hujan-hukumnya-sunnah.html" data-darkreader-inline-color="">Apakah Benar Mandi Hujan Hukumnya Sunnah?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini juga menjadi perbuatan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha,</span></i><span style="font-weight: 400;"> dia berkata, “Pada suatu hari, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bertanya kepadaku, “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu mempunyai makanan?” ‘</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فَإِنِّي صَائِمٌ</span></p>
<p><b>“Kalau begitu, aku akan berpuasa.”</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Tidak lama kemudian, saya diberi hadiah berupa makanan -atau dengan redaksi: seorang tamu mengunjungi kami-.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">‘Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> kembali, saya pun berkata, “Ya Rasulullah, tadi ada orang datang memberi kita makanan dan aku simpan untukmu.” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bertanya, “Makanan apa itu?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saya menjawab, “Roti </span><i><span style="font-weight: 400;">khais</span></i><span style="font-weight: 400;"> (yakni roti yang terbuat dari kurma, minyak samin, dan keju).”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau bersabda, “Bawalah kemari.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka roti itu pun aku sajikan untuk beliau. Lalu beliau makan, kemudian berkata, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا</span></p>
<p><b>“Sungguh dari pagi tadi aku puasa.”</b> <b>(HR. Muslim no. 1154)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian juga, hal ini juga sesuai dengan prinsip qiyas. Yaitu, mengqiyaskan berada di tengah ibadah sunnah dengan sebelum pelaksanaannya. Maksudnya, sebagaimana seorang mukallaf boleh memilih untuk mulai melaksanakan ibadah sunnah ataukah tidak, demikian pula ketika mukallaf tersebut berada di tengah-tengah pelaksanaan ibadah sunnah, dia pun boleh memilih: apakah dia selesaikan atau dia batalkan ibadah sunnah tersebut. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/22812-hukum-puasa-sunnah-di-hari-tasyrik.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Puasa Sunnah di Hari Tasyrik</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Pendapat yang lebih kuat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah dengan memberikan rincian. Yaitu, tidak boleh membatalkan ibadah sunnah, kecuali jika ada ‘udzur. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَ</b>ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan janganlah kamu membatalkan amal-amalmu.” </span><b>(QS. Muhammad [47]: 33)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga tidak boleh bagi seseorang, ketika dia sudah mulai masuk dalam mengerjakan ketaatan, kemudian dia membatalkannya, meskipun ibadah tersebut adalah ibadah sunnah. Dikecualikan dalam masalah ini adalah ibadah puasa sunnah, karena dua hadits yang telah disebutkan di atas. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21680-sunnah-yang-terlupakan-ucapan-innal-aisya-aisyul-akhirah.html" data-darkreader-inline-color="">Sunnah Yang Terlupakan, Ucapan “Innal ‘Aisya, ‘Aisyul Akhirah”</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/21115-memakai-sorban-disunnahkan.html" data-darkreader-inline-color="">Memakai Sorban Disunnahkan?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<div class="post-meta"></div>
<p>Simak selengkapnya disini. Klik <a href="https://muslim.or.id/page/5?s=sunnah">https://muslim.or.id/page/5?s=sunnah</a></p>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 19 Syawwal 1440/23 Juni 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disarikan dari kitab </span><b><i>Ghayatul Ma’muul fi Syarhi Al-Bidaayah fil Ushuul, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 86-89 (penerbit Daar Ibnu Rajab, cetakan pertama tahun 1433)</span></p>
 