
<h3 style="text-align: center;">Fatwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam</h3>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p>Bolehkah meletakkan mushaf (Al-Qur’an) di bawah kepala orang yang terkena gangguan jin ketika tidur untuk mengusir jin (setan)?</p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p>Hal ini tidak diperbolehkan. Karena hal ini bertentangan (dengan kewajiban untuk) mengagungkan dan mensucikan mushaf. Allah Ta’ala berkata ketika mendeskripsikan Al-Qur’an,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ ؛ مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ ؛ بِأَيْدِي سَفَرَةٍ ؛ كِرَامٍ بَرَرَةٍ</span></p>
<p>“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat). Yang mulia lagi berbakti.” <b>(QS. ‘Abasa [80]: 13-16)</b></p>
<p>Meletakkan di bawah kepala (bantal) bukanlah termasuk memuliakan mushaf Al-Qur’an, tidak pula termasuk meninggikan Al-Qur’an. Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>telah mengangkat kitab Taurat, sebuah kitab yang sudah mengalami pengubahan dan sudah dihapus <i>(mansukh). </i>Terdapat hadits dari Ibnu ‘Umar, di dalamnya disebutkan bahwa Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>berkata kepada sekelompok orang Yahudi,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بِالتَّوْرَاةِ</span></p>
<p>“(Datangkanlah) Taurat.”</p>
<p>Kemudian Nabi menarik bantal yang sebelumnya dipakai duduk, lalu meletakkan kitab Taurat di atas bantal tersebut. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 4449) dengan sanad yang <i>hasan.</i></p>
<p>Jika pemuliaan dalam bentuk seperti ini diberikan kepada Taurat, maka Al-Qur’an tentu lebih berhak lagi.</p>
<p>Selain itu, jin tidaklah diusir dengan semata-mata meletakkan mushaf Al-Qur’an di rumah, atau di kantong baju, atau di bawah kepala (bantal). Akan tetapi, jin itu bisa diusir dengan menghadapkan hati sepenuhnya terhadap Al-Qur’an, baik dengan membacanya, berusaha memahaminya (tadabbur), mengamalkannya, menjadikannya sebagai sumber hukum, berdakwah dengannya, dan juga menghadapkan hati dengan mengamalkan dzikir-dzikir yang disyariatkan.</p>
<p><b>***</b></p>
<p>Diselesaikan ba’da ashar, Sint-Jobskade NL, 9 Sya’ban 1439/ 26 April 2018</p>
<p><b>Penerjemah: M. Saifudin Hakim</b></p>
<p>Artikel: Muslim.Or.Id</p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1]</b><b>    </b>Diterjemahkan dari: <b><i>Ahkaam At-Ta’aamul ma’a Al-Jinn wa Adaabu Ar-Ruqa Asy-Syar’iyyah</i></b> hal. 105, karya Syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam, penerbit Maktabah Al-Imam Al-Wadi’i, Shan’a (Yaman), cetakan pertama tahun 1434.</p>
 