
<p>Ketika harta yang berada dalam  kepemilikannya tidak bisa masuk dibawah kekuasaannya kecuali bila  memilikinya dengan salah satu sebab pemindahan kepemilikan yang syar’i.  Semua harta yang dikuasai seorang muslim tanpa sebab syar’I adalah haram  mempertahankannya apalagi diambil manfaat dan keuntungannya. Oleh karena  itu syariat mempersilahkan bisnis dengan semua sarana yang ada dan  memungkinkan selama bebas dari keharaman dan syubhatnya.</p>
<h2>Cara mendapatkan harta (bisnis) halal</h2>
<p>Dengan demikian beranekaragam hukum harta dilihat kepada cara mendapatkannya (bisnis):</p>
<p><strong><em>1. </em></strong><strong><em>Harta yang diambil tanpa pemilik karena memang asalnya tidak ada pemiliknya. </em></strong></p>
<p>Harta  ini dinamakan ahli fikih dengan Ihraaj al-Mubahaat atau Milku  al-Mubahaat; karena seorang muslim memiliki harta yang belum ada  sebelumnya pemilik dengan cara seperti ini selama tidak ada hubungan  dengan hak orang lain. Contohnya tambang didalam tanah apabila dia yang  mencari dan mendapatkannya maka dia adalah orang yang paling berhak  atasnya.</p>
<p><strong><em>2. </em></strong><strong><em>Harta yang diambil secara paksa dari orang yang tidak ada perlindungan Islam.</em></strong></p>
<p>Harta  ini yang didapatkan kaum muslimin dengan sebab berjihad memerangi orang  kafir yang tidak ada perlindungan islam atasnya seperti harta fai’ dan  ghanimah setelah dikeluarkan 20 % untuk Allah dan rasulNya</p>
<p><strong><em>3. Harta yang diambil paksa dengan benar ketika orang yang wajib membayarnya tidak mau</em></strong> <strong><em>membayar.</em></strong></p>
<p>Contohnya  harta zakat atau nafkah wajib apabila pemiliknya tdak mau  menunaikannya, maka diambil darinya tanpa keridhaan darinya dengan  sarana peradilan islam. Hal ini menjadi milik secara syar’I dengan  syarat mencukupkan ukuran yang seharusnya tidak boleh berlebihan.  Kecuali bila pemerintah ingin menghukum dan memberi pelajaran kepada  orang yang tidak mau berzakat.</p>
<p><strong><em>4. </em></strong><strong><em>Harta yang diambil sebagai kompensasi penggantian.</em></strong></p>
<p>Diantaranya yang didapatkan dengan jual beli. Ini hukumnya halal bila memenuhi syarat-syarat dan rukunnya.</p>
<p><strong><em>5. </em></strong><strong><em>Harta yang diambil tanpa kompensasi.</em></strong></p>
<p>Seperti harta sedekah, hadiah, wasiat dan lain-lainnya apabila diperhatikan  syarat-syaratnya.</p>
<p><strong><em>6. </em></strong><strong><em>Harta yang didapat tanpa ada usaha dan keridhoan pemiliknya.</em></strong></p>
<p>Seperti harta waris yang masuk kepemilikan ahli waris tanpa kehendak pewaris.</p>
<p>Inilah sejumlah kategori usaha mendapatkan harta halal secara umum apabila memenuhi rukun dan syarat-syaratnya.</p>
<h2>Cara mendapatkan harta (bisnis) haram</h2>
<p>Bisnis haram dapat disimpulkan dengan melihat kategori harta haram berikut:</p>
<h3><span style="text-decoration: underline;"><strong>1.  </strong><strong>Harta haram yang didapat tanpa izin pemiliknya dan tanpa izin syariat</strong></span></h3>
<p>Harta  dalam bentuk ini keluar dari kekuasaan pemiliknya tanpa keridhaan dan  kehendak pemiliknya tersebut. Harta pada asalnya tidak keluar dari  kepemilikan pemiliknya dan pindah kepada orang lain kecuali dengan izin  dan kehendaknya. Semua bisnis yang melanggar syarat ini maka  pemilikannya batil menyelisihi kaedah kepemilikan syar’i.</p>
<p>Oleh  karena itu, semua harta yang ada dari jalan terlarang dalam syariat dan  mengambilnya tanpa keridhaan pemiliknya maka harta haram yang tidak  boleh dimiliki dan diusahakan seorang muslim; karena berisi memakan  harta orang lain dengan batil dan berisi pelanggaran hak-hak orang lain.</p>
<p>Diantara sarana-sarananya adalah: Mencuri (sariqah), Suap (Risywah), Merampas (Ghashab), Ihtikaar, Riba dan penipuan</p>
<p><strong>Kepemilikan Harta Hasil ini.</strong></p>
<p>Pada  asalnya hasil bisnis haram tetap harta pemilik yang pertama, namun  kadang tidak demikian tergantung kepada factor yang mempengarahinya.  Factor ini ada tiga:</p>
<p>– Barang hasil bisnis tersebut masih ada.</p>
<p>Para  ulama sepakat barang hasil bisnis ini tetap menjadi pemilik pertama.  Juga wajib dikembalikan kepadanya apabila barangnya masih ada dan  pemiliknya dikenal dan diketahui tanpa ada tambahan dan kekurangan.   (lihat Bidayah al-mujtahidin 2/317 dan Maratib al-ijma’ hal 59).</p>
<p>Imam asy-Syaukani berkata:</p>
<p class="arab">((<strong>ومجمع على وجوب رد المغصوب إذا كان باقيا</strong>))</p>
<p>Ijma’ tentang kewajiban mengembalikan harta hasil rampasan apabila masih ada. (ad-Darari al-Bahiyah hlm 335)</p>
<p>– Barangnya sudah hilang atau tidak ada.</p>
<p>Apabila  hasil usaha haram telah terpakai semua atau tidak bisa mengembalikannya  kepada pemiliknya, maka hukumnya sesuai dengan salah satu dari dua  keadaan:</p>
<p>– Hasil bisnis haram ini ada yang serupa dengannya. Maka  yang wajib adalah mengembalikan yang serupa dengannya menurut  kesepakatan ulama. Ibnu Rusyd berkata:</p>
<p class="arab">((<strong>فإذا ذهبت عينه فإنهم اتفقوا على أنه إذا كان مكيلاً أو موزونًا؛ أن على الغاصب المثل، أعني مثل ما استهلك صفة ووزنًا</strong>))</p>
<p>Apabila  bendanya hilang, maka mereka bersepakat apabila bendanya bisa ditakar  atau ditimbang maka wajib bagi yang merampasnya untuk mengembalikan yang  serupa, yaitu serupa dengan yang telah terpakai habis dalam sifat dan  timbangannya (Bidayatul Mujtahidin 2/317)</p>
<p>– Hasil bisnis haram  tersebut adalah barang yang bernilai harga atau tidak ada yang serupa  dengannya. Maka wajib bagi yang mengambilnya untuk mengembalikan nilai  harganya. Ini menjadi kesepakatan aimmatul arba’ah (imam ahli fikih yang  empat). (lihat ar-Raudh al-Murbi’ hlm 304).</p>
<p>Namun mereka  berselisih tentang waktu dihitunganya  nilai barangnya, yang rojih  adalah nilai barang ketika hilang dan tidak mampu digantikan dengan yang  serupa. Inilah madzhab Hanabilah (lihat Raudh al-Murbi’ hlm 430).   Karena barang itu tetap menjadi hak pemiliknya hingga hari hilang dan  habisnya barang itu.</p>
<p>– Barangnya telah berubah.</p>
<p>Barangnya telah berubah menjadi salah datu dari tiga perubahan:</p>
<p>– Perubahan barang secara menyeluruh</p>
<p>Dalam  masalah ini pendapat yang rojih adalah kepemilikan barangnya masih  menjadi milik pemilik pertama dan pemilik memiliki hak memilih untuk  mengambilnya atau minta kompensasi atau menuntut ganti rugi. Inilah yang  dirojihkan ibnu taimiyah dalam majmu’ fatawa  29/562.</p>
<p>– Perubahan dengan adanya penambahan</p>
<p>Maksudnya  ada perubahan yang mengurangi barang tersebut. Hal ini tidak  mempengaruhi kepemilikan sehingga wajib baginya untuk mengembalikan  barang tersebut kepada pemiliknya dan menanggung kompensasi pengurangan  atau kerugian tersebut. Inilah pendapat mayoritas ulama.</p>
<p>– Perubahan dengan adanya pengurangan.</p>
<p>Perubahan  ini tidak mempengaruhi kepemilikannya dan apabila terjadi pertambahan  dengan sebab usaha yang mengambilnya maka dia menjadi sekutu dalam  pertambahan tersebut; karena pertambahan mengasilkan kemanfaatan dan  kemanfaatan berlaku hokum barang.</p>
<p><strong>Keuntungan dari Hasil Harta ini.</strong></p>
<p>Keuntungan  yang ada dari hasil bisnis haram ini apabila dihasilkan dari usaha  pelaku bisnis haram tersebut maka kembali dibagi antara dia dengan  pemilik. Inilah riwayat dari Ahmad bin Hambal (al-Inshaaf  6/208) dan  dirojihkan Syeikhul Islam ibnu taimiyah (majmu’ fatwa 30/323)  dan ibnu  al-Qayyim (Madarij as-Salikin 1/423).</p>
<p>Berdasarkan pendapat ini  pelaku bisnis mendapatkan bagian keuntungan dan sisa keuntungan dan  pokoknya milik pemilik barang.  Imam al-ba’li dalam al-Ikhtiyaarat  al-Fiqhiyah hlm 147 menyatakan:</p>
<p class="arab"><strong>وكذلك المتوجه فيما  إذا غصب شيئاً كفرس وكسب به مالاً كالصيد أن يجعل الكسوب بين الغاصب ومالك  الدابة على قدر نفعهما بأن تقّوَم منفعة الراكب ومنفعة الفرس ثم يقسم  الصيد بينهما.</strong></p>
<p>Demikian juga hal ini berlaku pada  masalah apabila seorang merampas sesuatu seperti kuda dan  membisniskannya untuk mendapatkan harta seperti berburu, maka jadikan  hasil dibagi antara perampas dengan pemilik sesuai dengan ukuran  manfaatnya. Caranya dinilai manfaah ditunggangi dan manfaat kuda  kemudian hewan buruannya dibagi berdua.</p>
<p>Dasar argumentasinya  adalah perbuatan Umar bin al-Khathaab terhadap keduan putra beliau  Ubaidillah dan Abdullah (lihat al-Istidzkaar 7/150). Kisahnya</p>
<p class="arab">((<strong>لما  أقرض أبو موسى الأشعرى ابنيه من مال الفيء مائتي ألف درهم وخصهما بها دون  سائر المسلمين. ورأى عمر بن الخطاب أن ذلك محاباة لهما لا تجوز، وكان المال  قد ربح ربحًا كثيرًا بلغ به المال ثمانمائة ألف درهم، أمرهما أن يدفعا  المال وربحه إلى بيت المال، وأنه لا شيء لهما من الربح؛ لكونهما قبضا المال  بغير حق. فقال له ابنه عبيد الله: إن هذا لا يحل لك، فإن المال لو خسر،  وتلف كان ذلك من ضماننا، فلماذا تجعل علينا الضمان، ولا تجعل لنا الربح؟  فتوقف عمر. فقال له بعض الصحابة: نجعله مضاربة بينهم وبين المسلمين لهما  نصف الربح وللمسلمين نصف الربح، فعمل عمر بذلك. </strong></p>
<p class="arab"><strong>وهذا  مما اعتمد عليه الفقهاء في المضاربة، وهو الذى استقر عليه قضاء عمر بن  الخطاب، ووافقه عليه أصحاب رسول الله، وهو العدل. فإن النماء حصل بمال هذا  وعمل هذا، فلا يختص أحدهما بالربح، ولا تجب عليهم الصدقة بالنماء. فإن الحق  لهما لا يعدوهما. بل يجعل الربح بينهما كما لو كانا مشتركين شركة مضاربة</strong>))</p>
<p>Ketika  Abu Musa al-Asy’ari menghutangkan kedua putra beliau dari harta fai’  200.000 dirham dan mengkhusukan keduanya saja tanpa yang lainnya dari  kaum muslimin. Umar bin al-Khathab memandang itu keitimewaan untuk  keduanya yang tidak boleh. Waktu itu harta tersebut sudah member  keuntungan banyak sehingga hartanya menjadi 800.000 dirham . Umar pun  memerintahkan keduanya untuk mengembalikan harts tersebut berikut  keuntungannya ke Baitul Mal dan tidak memberikan keduanya sedikitpun  dari keuntungan tersebut karena keduanya mengambil harta tanpa hak. Maka  putra beliau Ubaidillah berkata: ini tidak boleh engkau lakukan, karena  harta tersebut bila mengalami kerugian dan hilang mka itu jadi  kewajiban kami menggantinya; mengapa engkau jadikan wajib ganti rugi  atas kami dan tidak memberikan keuntuk menjadi hak kami? Lalu Umar pun  berhenti. Maka sebagian sahabat berkata kepada Umar: kita jadikan  mudharabah antara mereka dengan kaum muslimin, keduanya mendapatkan  setengah keuntungan dan kaum muslimin mendapatkan setengah keuntungan.  Lalu Umar menjalankannya.</p>
<p>Ini diantara dasar argumentasi ahli  fikih tentang Mudharabah. Inilah yang sudah bagu dalam peradilan Umar  bin al-Khathab dan disepakati para sahabat Rasulullah. Ini adalah  keadilan karena pertumbuhan terjadi disebabkan harta dan amal tersebut,  sehingga tidak bisa dikhusukan untuk salah satunya saja dan tidak ada  kewajiban zakat atas pertumbuhan tersebut, karena hak keduanya tidak  hilang bahkan membagi keuntungan untuk keduanya sebagaimana terjadi  dalam mudharabah. ( Majmu’ al-Fatawa 30/323).</p>
<p><strong>Bertaubat dari hasil bisnis ini.</strong></p>
<p>Orang yang bertaubat dari hasil bisnis haram ini tidak lepas dari beberapa keadaan:</p>
<p>– Bertaubat dengan memungkinkan mengembalikannya kepada pemiliknya.</p>
<p>Apabila  memungkinkan untuk mengembalikannya kepada pemiliknya maka disepakati  tidak akan dapatkan taubah dan keluar dari dosanya kecuali dengan  mengembalikannya kepada pemiliknya. (lihat bidayatul Mujtahidin 2/217) .  hokum ini diambil dari beberapa dalil, diantara yang sering disampaikan  ahli fikih adalah hadits yang diriwayatkan dari as-Saaib bin yazid dari  bapaknya dari kakeknya dari nabi shalallahu a’laihi wa sallam :</p>
<p class="arab">((<strong>لا يأخذن أحدكم متاع صاحبه لاعبًا ولا جادًا. وإذا أخذ أحدكم عصا أخيه فليرددها عليه</strong>)).</p>
<p>Janganlah  salah seorang kalian mengambil perhiasan temannya baik dengan  mainp-main atau sungguh-sungguh. Apabila salah seorang kalian mengambil  tongkat saudaranya maka hendaknya mengembalikannya kepadanya. (HR Ahmad  dan Abu dawud dan dinilai Hadits Hasan oleh al-Albani dalam al-Irwa’  1518).</p>
<p>– Bertaubat dengan tidak memungkinkan mengembalikannya kepada pemiliknya.</p>
<p>Apabila  tidak mungkin mengembalikannya kepada pemiliknya maka yang rojih adalah  pelaku bisa  bertaubat darinya. Caranya dengan mensedekahkan hasil  bisnis haram ini untuk kemaslahan umu kaum muslimin dengan nama  pemiliknya dan wajib baginya untuk bersungguh-sunggug mencari tempat  penyaluran yang paling baik dan manfaat. Tidak sempurna taubatnya  kecuali dengan ini.  (lihat majmu’ al-Muhadzdzab 9/426 dan majmu’  al-Fatawa 29/241)</p>
<p>Hal ini karena Allah menggantung semua kewajiban dengan kemampuan seperti dalam firmanNya:</p>
<p>Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu (QS at-taghabun: 16).</p>
<p>Harta yang tidak diketahui pemiliknya gugur kewajiban mengembalikannya.</p>
<p>Para ulama inipun berdalil dengan kisah sebagian sahabat seperti dari Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Hajjaj bin asy-SYa’ir.</p>
<p>Ibnu  al-Qayyim menyampaikan riwyat bahwa ibnu Mas’ud membeli budak wanita  dari seseorang dan beliau masuk menghitung uangnya. Lalu pemilik budak  wanita tadi pergi. Beliau menunggu hingga putus asa tidak bisa berharap  kepulangan orang tersebut, lalu beliau bersedekah dengan nilai tersebut  seraya berkata:</p>
<p class="arab"><strong>اللهم هذا عن رب الجارية، فإن رضي فالأجر له، وإن أتى فالأجر لي وله من حسناتي بقدره. </strong></p>
<p>Ya  Allah ini sedekah dari pemilik budak wanita ini, apabila dia ridha maka  pahalanya untuknya dan bila dia datang maka pahalanya untukku dan ia  berhak atas kebaikanku sesuai dengan ukurannya.</p>
<p>Ibnul Qayyim juga menyampaikan:</p>
<p class="arab"><strong>وغل  رجل من الغنيمة ثم تاب فجاء بما غله إلى أمير الجيش فأبى أن يقبله منه  قال: كيف لي بإيصاله إلى الجيش، وقد تفرقوا؟ فأتى حجاج بن الشاعر، فقال: يا  هذا إن الله يعلم الجيش وأسماءهم وأنسابهم، فادفع خمسه إلى صاحب الخمس،  وتصدق بالباقي عنهم، فإن الله يوصل ذلك إليهم- أو كما قال-. ففعل فلما أخبر  معاوية، قال: لأن أكون أفتيتك بذلك أحب إلي من نصف ملكي</strong>))</p>
<p>Seorang  berbuat ghulul dari ghanimah kemudian bertaubat dan membawa hasil  ghululnya kepada panglima pasukannya lalu panglima menolak menerimanya.  Dia berkata: Bagaimana aku dapt menyerahkannya kepada pasukan sedang  mereka telah bercerai? Lalu datang Hajjaj bin asy-Sya’ir dan berkata:  wahai fulan, Allah mengetahui pasukan tersebut, nama dan nasabnya, maka  serahkanlah seperlimanya kepada penerima khusmus dan bersedekahlah  dengan sisanya untuk mereka. Karena Allah akan menyampaikan hal itu  kepada mereka – atau semakna dengannya- lalu ia lakukan, ketika  disampaikan kepada Mu’awiyah, maka beliau berkata: Apa yang kamu  fatwakan tadi lebih aku cintai dari separuh kerajaanku (Madarij  assalikin 1/419-421)</p>
<p>Mereka juga berdalil dengan qiyas kepada  barang temuan apabila tidak diketemukan pemiliknya setelah diiklankan  dan tidak mau memilikinya. Maka ia bersedekah dengannya untuk pemilik  tersebut. Apabila dating pemiliknya maka disuruh memilih antara pahala  dang anti rugi.</p>
<p>– Dikembalikan kepada ahli waris pemiliknya.</p>
<p>Pendapat  yang rojih dalam hal ini adalah apabila barangnya masih ada dan  pemiliknya menuntut hingga mati, maka hak tuntutan berpindah kepada ahli  warisnya didunia dan akherat; karena mereka berhak atas warisan  tersebut. Apabila barangnya sudah tidak ada dimasa hidup pemiliknya maka  ahli waris tidak memiliki hak menuntutnya di akherat karena telah  hilang sebelum berpindah hak itu kepada mereka.</p>
<p>Ibnul Qayyim menyatakan;</p>
<p class="arab">((<strong>إن  تمكن الموروث من أخذ ماله، والمطالبة به فلم يأخذه حتى مات صارت المطالبة  به للوارث في الآخرة كما هي كذلك في الدنيا. وإن لم يتمكن من طلبه وأخذه بل  حال بينه وبينه ظلمًا وعدوانًا، فالطلب له في الآخرة. </strong></p>
<p class="arab"><strong>وهذا  تفصيل من أحسن ما يقال؛ فإن المال إذا استهلكه الظالم على الموروث، وتعذر  عليه أخذه صار بمنزلة عبده الذي قتله قاتل، وداره التي أحرقها غيره، وطعامه  وشرابه الذي أكله وشربه غيره. ومثل هذا إنما تلف على الموروث لا على  الوارث، فحق المطالبة به لمن تلف على ملكه.</strong><strong> </strong><strong>يبقى أن يقال:  فإذا كان المال عقارًا أو أرضًا أو أعيانًا قائمة باقية بعد الموت، فهي ملك  للوارث يجب على الغاصب دفعها إليه في كل وقت، فإذا لم يدفع إليه أعيان  ماله استحق المطالبة بها عند الله كما يستحق المطالبة بها في الدنيا</strong>))</p>
<p>Apabila  memungkinkan pemilik mengambil hartanya dan menuntutnya lalu tidak  mendapatkannya hingga mati maka ahli waris menjadi memiliki hak menuntut  diakherat seperti juga didunia. Apabila tidak memungkinkan menuntut dan  mengambil hartanya dengan terhalangi oleh kezholiman dan permusuhan  maka tuntutan dimilikinya di akherat. Ini rincian yang terbaik; karena  harta apabila telah digunakan orang yang zhalim atau pemilik dan tidak  mampu mengambilnya maka menjadi seperti budaknya yang terbunuh dan  rumahnya yang sibakar orang lain dan makanan dan minuman yang dimakan  dan diminum orang lain. Seperti ini hilang pada masa pemilik bukan pada  ahli waris, sehingga hak menuntut untuk orang yang kehilangan atas  kepemilikannya. Tingga disampaikan: apabila barang hartanya belum  diserahkan maka berhak menuntutnya disisi Allah sebagaiman hak  menuntutnya di dunia. (ad-Daa’ wa ad-dawaa 258).</p>
<p>Berdasarkan  keterangan diatas maka orang yang menghilangkan manfaat harta orang lain  dengan menahannya maka akan mendapatkan dosa sesuai dengan pelanggaran  berupa kezhaliman tersebut walaupun ia telah mengembalikannya.  (Ikhtiyaraat al-Fiqhiyyah hlm 166).</p>
<p>Hal ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairoh dari rasulullah bahwa beliau bersabda:</p>
<p class="arab"><strong>مَنْ  كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا  فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ  لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ  مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ</strong></p>
<p>Siapa yang  memiliki kezhaliman pada saudaranya maka hendaknya minta dihalalkan,  karena tidak ada disini dinar dan dirham sebelum diambil untuk  saudaranya berupa kebaikannya apabila tidak memiliki kebaikan maka  diambil dari keburukan saudaranya lalu diberikan kepadanya. (HR  al-Bukhori)</p>
<p>Oleh karena itu ibnu taimiyah berkata:</p>
<p class="arab">((<strong>فبين  النبي  أن الظلامة إذا كانت في المال طالب المظلوم بها ظالمه، ولم يجعل  المطالبة لورثته، وذلك أن الورثة يخالفونه في الدنيا فما أمكن استيفاؤه في  الدنيا كان للورثة، وما لم يمكن استيفاؤه في الدنيا، فالطالب به في الآخرة  المظلوم نفسه</strong>))</p>
<p> Dalam hadits ini Nabi shalallahu ‘alaihi wa  sallam menjelaskan bahwa kezhaliman bila ada pada harta maka yang  dizhalimi akan menuntutnya pada yang menzhalimi dan tidak menjadikan hak  menuntut pada ahli warisnya. Hal ini karena ahli waris menyelisihinya  di dunia. Semua yang mungkin ditunaikan didunia maka itu hak ahli  warisnya dan yang tidak mungkin ditunaikan didunia maka penuntutnya  diakherat adalah yang terzholimi tersebut. (Majmu’ al-Fatawa 30/377).</p>
<h3><span style="text-decoration: underline;"><strong>2. </strong><strong>Harta haram yang dengan izin pemiliknya saja</strong></span></h3>
<p>Harta  yang didapatkan dengan cara terlarang secara syar’I dan mendapatkan  izin dari pemiliknya, maka harta ini didapatkan dari bisnis yang haram  seperti yang pertama namun berbeda dari sisi dosanya.</p>
<p>Pada jenis yang pertama dosa ada pada yang mengambilnya tanpa yang memberi. Sedangkan yang ini keduanya berdosa.</p>
<p>Contohnya: perjudian dan berdagang barang terlarang.</p>
<p>Harta seperti ini mungkin dikategorikan menjadi dua bagian:</p>
<ul>
<li>Berupa  barang atau manfaatnya mubah dan diharamkan karena tujuannya, seperti  orang yang menjual anggur untuk dibuat minuman keras.</li>
<li>Barang  atau manfaatnya haram dan dilarang seperti bayaran pezina dan hasil  penjualan minuman keras.  Ini diharamkan walaupun tidak terjadi bisnis  padanya dan tidak sah serah terimanya; karena diantara syarat serah  terimayang sah adalah akadnya pada barang atau manfaat yang  diperbolehkan, namun bila terjadi serah terima maka tidak dikembalikan  lagi kepadanya; karena ini membantu mereka bermaksiat .</li>
</ul>
<p>Imam ibnul Qayyim berkata:</p>
<p class="arab">((<strong>فلا  يجوز أن يجمع له بين العوض والمعوض، فإن في ذلك إعانة له على الإثم  والعدوان، وتيسير أصحاب المعاصي عليه، وماذا يريد الزاني وفاعل الفاحشة إذا  علم أنه ينال غرضه، ويسترد ماله؟ فهذا مما تصان الشريعة عن الإتيان به،  ولا يسوغ القول به، وهو يتضمن الجمع بين الظلم والفاحشة والغدر، ومن أقبح  القبيح أن يستوفي عوضه من المزني بها ثم يرجع فيما أعطاها قهرًا، وقبح هذا  مستقر في فطر جميع العقلاء، فلا تأتي به شريعة؛ لكن لا يطيب للقابض أكله،  بل هو خبيث كما حكم عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولكن خبثه لخبث  مكسبه</strong>)</p>
<p>Tidak boleh memberikan padanya hasil dan kompensasinya;  karena hal itu membantunya berbuat dosa dan kerusakan dan mempermudah  pelaku maksiat berbuat maksiat. Apa yang diinginkan pezina dan pelaku  keburukan apabila mengetahui berhasil mendapatkan keinginannya dan minta  kembali hartanya? Ini termasuk yang dijaga syariat agar tidak dilakukan  dan tidak boleh berpendapat demikian. Itu berisi penyatuan antara  kezhaliman, fahisyah dan kecurangan.   Termasuk keburukan terburuk   adalah mendapatkan sempurna kompensasi dari PSK kemudian mengambil  kembali secara paksa. Keburukan ini sudah terfahami fithrah semua orang  berakal, sehingga syariat tidak mungkin memperbolehkannya! Namun tidak  boleh penerima memakannya, bahkan dia buruk sebagaimana dihukumi  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun buruknya karena buruknya  usaha tersebut. (zaad al-Ma’ad 5/779).</p>
<p><strong>Kepemilikan harta haram dari usaha ini.</strong></p>
<p>Pelaku bisnis haram jenis ini tidak lepas dari dua keadaan ditinjau dari keabsahan kepemilikannya:</p>
<p><strong><em>Keadaan pertama :</em></strong> Berkeyakinan bolehnya bisnis tersebut dan tidak tahu dilarang.</p>
<p>Hasil bisnis yang sudah ditangannya dimiliki oleh pelaku apabila tidak mengetahu keharamannya berdasarkan firman Allah:</p>
<p>Sesungguhnya  jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual  beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya  larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka  baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan  urusannya (terserah) kepada Allah. (QS al-baqarah: 275). Sehingga orang  yang tidak mengetahui larangan tidak berdosa dan mendapatkan semua yang  telah dimilikinya. Syeikh Abdurahman as-Sa’di berkata:</p>
<p class="arab">((<strong>الله  تعالى لم يأمر برد المقبوض بعقد الربا بعد التوبة.  وإنما أمر برد الربا  الذي لم يقبض، وأنه قبض برضى ملكه فلا يشبه المغصوب. ولأن فيه من التسهيل  والترغيب في التوبة ما ليس في القول بتوقيف توبته على رد التصرفات الماضية  مهما كثرت وشقَّت والله أعلم</strong>))</p>
<p>Allah tidak memerintahkan  mengembalikan yang sudah diterima dengan akad riba setelah taubat. Hanya  memerintahkah mengembalikan riba yang belum diterima dan hal itu  diterima dengan keridhaan pemiliknya sehingga tidak serupa dengan barang  rampasan. Juga karena berisi kemudahan dan motivasi untuk bertaubat  yang tidak ada dalam pendapat taubatnya tergantung kepada pengembalian  semua yang telah dilakukan walaupun banyak dan susah. (al-fatawa  as-Sa’diyah hlm 303).</p>
<p>Sedangkan syeikh Muhammad al-Amin asy-Syingqity menjelaskan pengertian ini dalam pernyataan:</p>
<p>Pelajaran  dari ayat yang mulia ini, Allah tidak menyiksa manusia dengan sebab  melakukan sesuatu kecuali setelah mengharamkannya. Pengertian ini telah  dijelaskan secara gamblang dalam banyak ayat: Allah telah berfirman  tentang orang yang dahulu minum khamr dan makan harta perjudian sebelum  turunnya ayat larangan: “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman  dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah  mereka Makan dahulu” (QS al-Maaidah : 93) dan berfirman tentang orang  yang menikahi istri-istri bapaknya sebelum dilarang: “Dan janganlah kamu  kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada  masa yang telah lampau”(QS an-Nisaa’ ; 22) maksudnya terkecuali pada  masa yang telah lampau sebelum pengharaman. Sejenis dengan ini Firman  Allah : “Dan (larangan) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan  yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau”; (QS  an-Nisaa’ :23). Berfirman tentang berburu sebelum larangan : “Allah  telah memaafkan apa yang telah lalu” (Qs al-maaidah :95). Juga berfirman  tentang sholat menghadap baitulmaqdis sebelum dihapus kiblat kepadanya:  “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu” (Qs al-Baqarah: 143)  maksudnya: sholat kalian menghadap baitulmaqdis sebelum dirubah.</p>
<p>Diantara  dalil yang paling jelas tentang pengertian ini adalah Nabi dan kaum  muslimin ketika memohon ampunan buat kerabat mereka yang telah wafat  dari kaum musyrikin dan Allah turunkan firmanNya: “Tiadalah sepatutnya  bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah)  bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum  Kerabat (Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik  itu adalah penghuni neraka jahanam”(QS at-Taubah; 113).</p>
<p>Merekapun  menyesali permohonan ampunan buat kaum musyrikin, Allah turunkan  firmanNya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum,  sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya  kepada mereka apa yang harus mereka jauhi”(Qs at-taubah: 115). Disini  Allah menjelaskan bahwa Dia tidak menghukumi mereka sesat dengan sebab  melakukan sesuatu kecuali setelah dijelaskan yang harus dijauhi  (Adwaa’ul Bayaan 1/188).</p>
<p>Masuk dalam kategori ini semua yang  diyakini halalnya dengan ijtihad atau taqlid seperti sebagian muamalat  yang masih diperselisihkan para ulama antara kebolehan dan larangannya. (  lihat Majmu’ al-Fatawa 29/412-413, al-Ikhtiyaraat al-Fiqhiyah hlm 167).</p>
<p><strong><em>Keadaan kedua: </em></strong>Meyakini  dan mengetahui larangannya (lihat majmu’ al-fatawa 29/411). Para ulama  sepakat bahwa yang belum diterima pelaku bisnis haram ini tidak menjadi  miliknya. Sedangkan yang sudah ditangannya dengan akad fasid seperti  riba dan lainnya, para ulama masih berselisih, yang rojih</p>
<p>Hasil  bisnis ini keluar dari kepemilikan orang yang mengeluarkannya secara  ridha apabila mengetahui larangan atau fasadnya; karena pelaku  mendapatkannya dengan izin dan keridhaannya, sehingga tidak sama dengan  orang yang merampasnya. Inilah pendapat madzhab Hanafiyah dan riwayat  dari imam Ahmad serta dirojihkan Syeikhul islam ibnu Taimiyah. (lihat  majmu’ al-fatawa 29/292 dan 327)</p>
<p>Namun Karena izin dan keridhaan  tidak cukup dalam memindahkan kepemilikan dalam segala keadaannya, maka  pelaku dalam keadaan ini tidak memanfaatkannya seperti harta halal.  Kewajibannya adalh mengeluarkan harta ini untuk berlepas darinya.  Diantara dasar hal ini adalah hadits yang diriwayatkan al-bukhori dan  muslim dari hadits Abu Humaid as-Saaidi yang berbunyi:</p>
<p class="arab"><strong>اسْتَعْمَلَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ الْأَزْدِ  يُقَالُ لَهُ ابْنُ الْأُتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ فَلَمَّا قَدِمَ  قَالَ هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي قَالَ فَهَلَّا جَلَسَ فِي بَيْتِ  أَبِيهِ أَوْ بَيْتِ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ يُهْدَى لَه</strong></p>
<p>Nabi  mengangkat seorang dari kabilah Al-Azd bernama ibnu al-Utbiyah untuk  mengambil zakat. Ketika dia datang dna berkata: Ini milik kalian dan ini  dihadiahkan kepadaku. Rasulullah bersabda: coba saja kalau dia duduk  dirumah bapaknya atau ibunya, hendaknya dia melihat apakah dia diberi  hadiah atau tidak.</p>
<p>Dalam kisah ini Nabi tidak mengembalikan harta  tersebut kepada orang yang menghadiahkannya namun memasukkannya ke  baitulmal. (lihat Fathul Bari 13/167).</p>
<p><strong>Bertaubat dari hasil bisnis ini.</strong></p>
<p>Para  ulama berselisih dalam masalah ini dan yang rojih adalah tidak wajib  mengembalikan harta haram tersebut kepada pemiliknya yang member, bahkan  wajib mensedekahkannya dan tidak mengembalikannya kepada orang yang  sudha mengambil sempurna kompensasinya. Hal ini karena tidak disatukan  buat orang yang telah memanfaatkan manfaat haram antara kompensasi dan  pembayarannya.</p>
<p>Ibnul Qayyim menyatakan:</p>
<p class="arab"> ((<strong>وهب  أن هذا المال لم يملكه الآخذ، فملك صاحبه قد زال عنه بإعطائه لمن أخذه،  وقد سلّم له ما في قبالته من النفع. فكيف يقال: ملكه باق عليه، و يجب رده  إليه؟! وهذا بخلاف أمره بالصدقة به؛ فإنه قد أخذه من وجه خبيث برضا صاحبه،  وبذله له بذلك وصاحبه قد رضي بإخراجه عن ملكه بذلك،  وألا يعود إليه، فكان  أحق الوجوه: صرفه في المصلحة التي ينتفع بها من قبضه، و يخفف عنه الإثم</strong>))</p>
<p>Okelah  seandainya harta ini tidak dimiliki oleh yang mengambilnya, maka  kepemilikan pemilik pertama yang member telah hilang dengan  memberikannya kepada orang yang mengambilnya. Dia telah menyerahkannya  sebagai kompensasi manfaat yang diambilnya. Lalu bagaimana dikatakan  kepemilikannya teap ada padanya dan wajib mengembalikannya?!  Ini tidak  sama dengan perintah mensedekahkannya; karena dia telah mengambilnya  dengan cara tidak baik dengan keridhaan pemiliknya dan dia keluarkan  dalam keadaan temannya ridha dikeluarkan dari kepemilikannya tersebut  dan tidak akan kembali kepadanya. Sehingga yang benar adalah  mengeluarkannya untuk kemaslahatan orang yang memanfaatkannya dari  penerimanya dan diringankan darinya dosa. ( Madarij as-Salikin 1/422).</p>
<p>Beliau juga menyatakan:</p>
<p class="arab">((<strong>ولا يلزم من الحكم بخبثه وجوب رده على الدافع فإن النبي صلى الله عليه وسلم حكم بخبث كسب الحجام، ولا يجب رده على دافعه))</strong></p>
<p>Tidak  mesti menghukumi sesuatu itu buruk (khobits) mewajibkan untuk  mengembalikannya kepada yang membayar, karena Nabi menghukumi buuruknya  hasil bekam dan tidak wajib mengembalikan kepada yang membayarnya. (Zaad  al-Ma’ad 5/779)</p>
<p>Syeikhul Islam ibnu taimiyah merojihkan hal ini dalam pernyataan beliau:</p>
<p class="arab">((<strong>فهو  كما لو تراضيا بمهر البغي، وهناك يتصدق به على أصح القولين لا يعطى  للزاني. وكذلك في الخمر ونحو ذلك مما أخذ صاحبه منفعة محرمة فلا يجمع له  العوض والمعوض</strong>))</p>
<p>Ini seperti seandainya dua orang saling ridha  dengan pembayaran PSK, disana harus disedekahkan menurut pendapat yang  lebih shahih dari dua pendapat ulama tidak diberikan kepada lelaki yang  menzinahinya. Demikian juga dalam khomr dan sejenisnya yang seroang  mengambil manfaat terlarang sehingga tidak dikumpulkan pembayaran dan  kompensasinya untuk nya (Majmu’ al-fatawa 29/291-292)</p>
<p>Beliau juga menyatakan:</p>
<p class="arab">((<strong>فهنا-  أي مهر البغي وثمن الخمر – لا يقضى له به قبل القبض ولو أعطاه إياه لم  يحكم برده فإن هذا معونة لهم على المعاصي إذا جمع لهم بين العوض والمعوض  ولا يحل هذا المال للبغي والخمار ونحوهما لكن يصرف في مصالح المسلمين</strong>))</p>
<p>Disini  –yaitu bayaran PSK dan hasil penjualan anjing- tidak diambil sebelum  diterima dan seandainya diberikan kepadanya tidak dihukumi harus  mengembalikannya. Karena ini membantu mereka berbuat maksiat apabila  berkumpul untuk mereka antara pembayaran dan kompensasinya dan tidak  halal harta tersebut untuk PSK dan penjual khomr dan sejenisnya namun  dikeluarkan untuk kemaslahatan kaum muslimin. (Majmu’ al-Fatawa 29/309)</p>
<p>Apabila pelaku bisnis ini faqir maka diperbolehkan baginya untuk mengambil harta tersebut sekedar kebutuhannya saja.</p>
<p>Imam an-nawawi ketika menukilkan ucapan imam al-Ghazali dalam aktifitas harta haram menyatakan:</p>
<p class="arab">((<strong>وله  أن يتصدق به على نفسه وعياله إذا كان فقيرًا؛ لأن عياله إذا كانوا فقراء،  فالوصف موجود فيهم, بل هم أولى من يتصدق عليه, وله هو أن يأخذ منه قدر  حاجته لأنه أيضا فقير. وهذا الذي قاله الغزالي في هذا الفرع ذكره آخرون من  الأصحاب, وهو كما قالوه</strong>))</p>
<p>Dia boleh bersedekah dengannya kepada  diri dan keluarganya apabila seorang faqir; karena keluarganya apabila  fakir maka sifat ada pada mereka, bahkan mereka lebih utama diberikan  sedekah. Dia juga boleh mengambil sebagiannya sesuai kebutuhannya karena  diapun faqir. Yang disampaikan al-Ghazali ini pada masalah ini juga  dijelaskan ulama syafi’iyah lainnya dan itu benar seperti pendpat  mereka. (Majmu’ syah al-Muhadzdzab 9/428-429).</p>
<p>Sedangkan ibnul  Qayyim menyatakan: kesempurnaan taubat dengan sedekahkan harta tersebut.  Apabila ia membutuhkannya maka ia diperbolehkan untuk mengambil sekedar  kecukupannya saja dan bersedekah dengan sisanya. Ini hokum untuk semua  yang mengusahakan harta haram karena buruknya pembayaran baik berupa  barang ataupun manfaat. (Zadul Ma’ad 5/799)</p>
<p>Syeikhul Islam berkata:</p>
<p class="arab"><strong>((فإن  تابت هذه البغي، وهذا الخمار، وكانوا فقراء جاز أن يصرف إليهم من هذا  المال مقدار حاجتهم. فإن كان يقدر  أن يتجر أو يعمل صنعة كالنسيج والغزل  أعطي ما يكون له رأس مال. وإن اقترضوا منه شيئًا؛ ليكتسبوا به، و يردوا عوض  القرض كان أحسن. وأما إذا تصدق به لاعتقاده أنه يحل له أن يتصدق به فهذا  يثاب على ذلك. وأما إن تصدق به كما يتصدق المالك بملكه فهذا لا يقبله الله؛  إن الله لا يقبل إلا الطيب، فهذا خبيث كما قال النبي صلى الله عليه وسلم:  ((مهر البغي خبيث))</strong></p>
<p>Apabila pelacur dan penjual khomr tersebut  bertaubat dan mereka adalah orang fakir maka diperbolehkan dia  menngunakan harta tersebut sekedar kebutuhannya saja. Apabila dia mampu  berdagang atau membuat kerajinan seperti menyulam dan memintal kain maka  diberi sebagi modalnya dan bila dia mengambil dengan hutang untuk modal  usaha dan mengembalikannya maka itu lebih baik. Adapun bila bersedakah  seluruhnya dengan keyakinan itu halal baginya untuk disedekahkan maka ia  mendapatkan pahala. Adapun bila bersedakah dengannya sebagaimana  sedekah seorang pemilik semua yang dimilikinya maka Allah tidak  menerimanya; karena Allah tidak menerima kecuali yang bagus, sedang  harta ini adalah buruk (khobits) sebagaimana disabdakan rasulullah :  Pembayaran pelacur adalah khobits. (Majmu’ al-Fatawa 29/309)</p>
<p>Demikian sebagian masalah tentang bisnis halal dan haram dalam perspektif fikih islam.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li>Ahkaam  al-Maal al-Haram wa Dhawaabit al-Intifa’ wat Tasharruf bihi fil fiqhil  Islami, DR. Abbas Ahmad Muhammad al-Baaz,  Darun Nafaais, yordania.</li>
<li>At-taubah min al-Makaasib al-Haraam, Kholid bin ABdillah al-Mushlih.</li>
</ol>
 