
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Anjuran Mendahulukan Bagian Kanan</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Dari ‘Aisyah </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anha, </i></span><span lang="">Rasulullah </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="">bersabda,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER">كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ»</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang=""><i>Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai untuk mendahulukan bagian kanan (daripada bagian yang kiri) ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam semua urusannya (yang baik atau mulia).” </i></span><span lang="">(HR. Bukhari no. 168; 5926 dan Muslim no. 268)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Di dalam hadits ini, ‘Aisyah </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anha </i></span><span lang="">menceritakan</span><i> </i><span lang="">kebiasaan yang disukai oleh Rasulullah </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="">Yaitu mendahulukan bagian tubuh bagian kanan daripada bagian tubuh yang kiri ketika memakai sandal, menyisir atau merapikan rambut, bersuci dari hadats (misalnya wudhu dan mandi wajib), dan dalam semua urusan yang sejenis dengan yang disebutkan oleh ‘Aisyah </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anha, </i></span><span lang="">seperti memakai baju (gamis), celana, tidur, makan, minum, dan semisalnya. Hal ini dalam rangka memuliakan bagian kanan daripada bagian kiri. Adapun masalah-masalah yang kotor, maka yang lebih utama adalah mendahulukan bagian kiri. Oleh karena itu, Rasulullah </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="">melarang untuk membersihkan kotoran dengan tangan kanan, melarang menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika buang air, karena tangan kanan adalah untuk hal-hal yang baik dan bersih. Sedangkan tangan kiri untuk selain itu. Demikian pula, dianjurkan untuk mendahulukan kaki kiri ketika masuk WC (toilet). </span><span lang=""><b>[1, 2] </b></span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><span lang=""><b>Lalu, Bagaimana dengan Bersiwak?</b></span></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Ketika bersiwak, dianjurkan pula untuk mendahulukan membersihkan bagian kanan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anha </i></span><span lang="">di atas. </span><span lang=""><b>[3]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Namun, para ulama berbeda pendapat tentang manakah yang lebih utama, bersiwak dengan tangan kanan ataukah dengan tangan kiri?</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Sebagian ulama berpendapat bahwa bersiwak bukanlah termasuk hal yang kotor, sehingga dianjurkan dengan tangan kanan, bukan dengan tangan kiri. Dari Abu Musa Al-Asy’ari </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="">beliau berkata,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER">أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدْتُهُ «يَسْتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ يَقُولُ أُعْ أُعْ، وَالسِّوَاكُ فِي فِيهِ، كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ»</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang=""><i>Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendapati beliau sedang menggosok gigi dengan kayu siwak di tangannya. Beliau mengeluarkan suara, U’ U’, sedangkan kayu siwak masih berada di mulutnya, seolah-olah beliau hendak muntah.” </i></span><span lang="">(HR. Bukhari no. 244 dan Muslim no. 254)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Imam Bukhari </span><span lang=""><i>rahimahullah </i></span><span lang="">meletakkan hadits ini dalam bab </span><span lang=""><i>“Bersiwaknya Pemimpin di Hadapan Rakyatnya”. </i></span><span lang="">Rasulullah </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="">adalah seorang pemimpin, dan beliau </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="">bersiwak ketika berada di tengah-tengah jamaah sahabatnya. Oleh karena itu, bersiwak bukanlah termasuk hal yang kotor. Sehingga jika ada seseorang yang bersiwak di sebuah pertemuan (majelis), tidak boleh dicela dengan mengatakan bahwa bersiwak itu termasuk hal yang kotor atau menjijikkan. Jika termasuk hal yang kotor, Nabi </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="">tidak akan melakukannya di hadapan manusia. Dari sinilah kemudian diambil kesimpulan bahwa bersiwak itu hendaknya dengan tangan kanan. </span><span lang=""><b>[4]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Para ulama yang memilih pendapat ini juga mengatakan bahwa siwak termasuk amalan sunnah, yang merupakan (murni) ketaatan atau mendekatkan diri kepada Allah <em>Ta’ala</em>, sehingga tidak selayaknya dengan tangan kiri. Jika siwak termasuk ibadah, maka yang lebih utama adalah dengan tangan kanan.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Pendapat ke dua mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bersiwak dengan tangan kiri, dan inilah pendapat yang terkenal (masyhur) dalam madzhab Hanbali. Hal ini karena siwak termasuk bagian dari membersihkan kotoran atau bau dari dalam mulut. Dan menghilangkan kotoran hendaknya dengan tangan kiri, sebagaimana ketika istinja’ (membersihkan kemaluan).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Ulama madzhab Maliki merinci masalah ini. Mereka mengatakan, jika siwak bertujuan untuk membersihkan mulut, seperti ketika bangun tidur dan menghilangkan sisa makanan atau minuman di dalam mulut, maka hendaknya dengan tangan kiri. Hal ini karena siwak ketika itu termasuk bagian dari menghilangkan (membersihkan) kotoran. Adapun jika bertujuan untuk murni ketaatan, seperti bersiwak ketika hendak berwudhu untuk mendirikan shalat, maka hendaknya dengan tangan kanan. Hal ini karena siwak dalam kondisi seperti ini bertujuan untuk melaksanakan sunnah Nabi </span><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang=""><b>[5]</b></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Setelah menjelaskan perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><span lang=""><i>rahimahullah </i></span><span lang="">mengatakan</span><span lang=""><b>,</b></span><span lang=""><i><b>”Terdapat kelonggaran dalam masalah ini, karena tidak adanya dalil yang jelas.” </b></i></span><span lang=""><b>[6]</b></span><i> </i></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Berdasarkan kesimpulan yang disampaikan Syaikh Al-‘Utsaimin </span><span lang=""><i>rahimahullah </i></span><span lang="">di atas, maka tidak mengapa bersiwak dengan tangan kanan ataupun dengan tangan kiri.</span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Selesai disusun di Masjid Nasuha, Rotterdam</span><span lang=""> NL</span><span lang="id-ID">, </span><span lang="">ba’da maghrib 4 Jumadil Ula </span><span lang="id-ID">1436</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID">M. Saifudin Hakim</span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[1]</b></span><span lang=""> Lihat </span><span lang=""><i>Taisiirul ‘Allaam, </i></span><span lang="">hal. 28.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[2]</b></span> <span lang=""><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam,</i></span><span lang=""> 1/39.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[3]</b></span> <span lang=""><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></span><span lang="">1/155.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[4] </b></span><span lang=""><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam,</i></span><span lang=""> 1/60-61.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[5]</b></span> <span lang=""><i>Asy-Syarhul Mumti’, </i></span><span lang="">1/155.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang=""><b>[6]</b></span><span lang=""> idem, 1/156.</span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><b>Referensi:</b></h5>
<ul>
<li>
<span lang=""><i>Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, </i></span><span lang="">Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><span lang=""><i>rahimahullah, </i></span><span lang="">cetakan ke empat, Daar Ibnul Jauzi KSA, tahun 1435.</span>
</li>
<li>
<span lang=""><i>Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></span><span lang="">Syaikh Dr. Sa’ad bin Naashir bin ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syatsri, cetakan pertama, Kunuuz Isbiliya Riyadh KSA, tahun 1429.</span>
</li>
<li>
<span lang=""><i>Taisiirul ‘Allaam Syarh ‘Umdatul Ahkaam, </i></span><span lang="">Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Bassaam, cetakan pertama, Maktabah Al-Asadiyyah Makkah KSA, tahun 1433.</span>
</li>
</ul>
<p> </p>
<p>Artikel Muslim.Or.Id</p>
 