
<p>Apakah bercelak dan tetes mata membatalkan puasa?</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Anas, Al Hasan, dan Ibrahim tidaklah menilai bermasalah untuk bercelak ketika puasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bercelak dan tetes mata tidaklah membatalkan puasa. Alasannya telah dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pendapat yang lebih kuat adalah hal-hal ini tidaklah membatalkan puasa. Karena puasa adalah bagian dari agama yang perlu sekali kita mengetahui dalil khusus dan dalil umum. Seandainya perkara ini adalah perkara yang Allah haramkan ketika berpuasa dan membatalkannya, tentu Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> akan menjelaskan kepada kita. Seandainya hal ini disebutkan oleh beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, tentu para sahabat akan menyampaikannya pada kita sebagaimana syari’at lainnya sampai pada kita. Karena tidak ada satu orang ulama pun menukil hal ini dari beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> baik hadits shohih, </span><i><span style="font-weight: 400;">dho’if</span></i><span style="font-weight: 400;">, musnad (bersambung sampai Nabi) ataupun mursal (sanad di atas tabi’in terputus), maka diketahui bahwa beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak menyebutkan perkara ini (sebagai pembatal). Sedangkan hadits yang menyatakan bahwa bercelak membatalkan puasa adalah hadits yang </span><i><span style="font-weight: 400;">dho’if</span></i><span style="font-weight: 400;"> (lemah)”. (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Fatawa</span></i><span style="font-weight: 400;">, 25/234)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukhari juga berkata dalam kitab shohihnya tanpa menyebutkan sanad,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>وَلَمْ يَرَ أَنَسٌ وَالْحَسَن وَإِبْرَاهِيم بِالْكُحْلِ لِلصَّائِمِ بَأْسًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Anas, Al Hasan, dan Ibrahim tidaklah menilai bermasalah untuk bercelak ketika puasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Riwayat di atas dikuatkan oleh ‘Abdur Rozak dengan menyambungkan dan sanadnya shohih,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 18pt;"><b>لَا بَأْس بِالْكُحْلِ لِلصَّائِمِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Tidak mengapa bercelak untuk orang yang berpuasa.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Bari</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/180)</span></p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/20156-matan-abu-syuja-pembatal-puasa-berupa-muntah-hubungan-intim-keluar-mani-haidh-nifas.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Matan Abu Syuja: Pembatal Puasa Berupa Muntah, Hubungan Intim, Keluar Mani, Haidh, Nifas</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/20570-safinatun-najah-yang-tidak-puasa-dan-yang-bukan-pembatal-puasa.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Safinatun Najah: Yang Tidak Puasa dan Yang Bukan Pembatal Puasa</strong></span></a></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
 