
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :</i></span></p>
<h4 align="LEFT"><span style="color: #ff0000;"><strong><span lang="en-US"><b>Sanggahan para Ulama </b></span></strong><strong><span lang="en-US"><i><b>rahimahullah</b></i></span></strong></span></h4>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Dalam artikel bagian yang ke-2 (<a href="https://muslim.or.id/25542-benarkah-khilafah-islamiyyah-adalah-tujuan-2.html" target="_blank" rel="noopener">Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (2)</a>), telah penulis sebutkan diantara </span></span><span style="color: #000000;">syubhat dan penyimpangan besar yang menyelisihi </span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">manhaj dakwah para Rasul </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>‘alaihimush shalatu was salam, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">yaitu berlebih-lebihan (<em>ghuluw</em>) dalam menyikapi penegakan</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i> Khilafah Islamiyyah </i></span></span><sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a></i></span></span></sup><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Beberapa penyimpangan dan kesalahan yang sudah penulis sebutkan dalam masalah ini dalam artikel tersebut, diantaranya adalah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">salah memahami hal-hal berikut ini: tujuan agama Islam, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">ibadah, risalah para Nabi Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>‘alaihimush shalatu was salam</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> dan akar masalah kerusakan suatu negeri. Disamping itu,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> berlebih-lebihan dalam mensikapi politik dan yang lainnya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Dikarenakan banyaknya pemahaman yang salah dalam mensikapi penegakan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Khilafah Islamiyyah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">, maka sudah menjadi kewajiban </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">para Ulama dan da’i </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">untuk </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut, dalam rangka menunaikan tugas yang agung dari Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">seperti tercermin dalam firman Allah</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i> ‘azza wa jalla,</i></span></span><i> </i></p>
<p align="RIGHT"><span style="color: #000000;"><b>وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ </b></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya”</i></span></span> <span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Ali ‘Imraan:187</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">).</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Berikut ini beberapa bantahan</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> para Ulama </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> dalam rangka meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut :</span></span></p>
<h5 align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">1. <em>Khilafah Islamiyyah</em> memang wajib namun bukan yang paling wajib dan bukan yang paling penting</span></span></h5>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Ulama bersepakat (<em>ijma</em>‘) atas kewajiban pengangkatan satu orang pemimpin pemerintahan bagi kaum muslimin, ijma’ ini dinukilkan oleh Al-Mawardi dalam </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 15, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Abul Ma’ali Al-Juwaini dalam </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ghiyatsul Umam</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">,hal.15, Al-Qodhi ‘Iyadh dalam </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Ikmalul Mu’allim 6/220 </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">dan An-Nawawi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>dalam Syarhu Shahih Muslim 12/205,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> dan ulama-ulama yang lainnya. </span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><u><span style="color: #000000;">(</span></u></span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><u><span style="color: #000000;"><a href="http://www.dorar.net/article/1760">http://www.dorar.net/article/1760</a>)</span></u></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Berkata Al-Mawardi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">: </span></span></p>
<p align="RIGHT">وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>“</i>Mengadakan akad </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Imamah</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Khilafah</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">), bagi yang bertugas melaksanakannya di tengah-tengah umat ini, hukumnya wajib berdasarkan ijma’ ulama”</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"> (<em>Al-Ahkam As-Sulthaniyyah</em>, hal. 3).</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">An-Nawawi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">berkata :</span></span></p>
<p align="RIGHT">وأجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>“</i>Dan</span></span> <span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">ulama bersepakat bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk mengangkat seorang Khalifah<i>” </i>(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><em>Syarhu Shahih Muslim</em>).</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Dan mayoritas ulama dari berbagai madzhab memandang sahnya setiap negara kaum muslimin dipimpin oleh kepala negara muslim masing-masing,</span><span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"> <span lang="id-ID"><span style="font-family: georgia, palatino, serif;">jika belum mendapatkan kondisi ideal untuk bersatunya negara-negara kaum muslimin (dengan kesepakatan bersama) dibawah satu pemimpin untuk kaum muslimin seluruh dunia. (silakan baca <a href="https://almanhaj.or.id/7070-hukum-syari-terkait-khilafah-dan-bagaimana-khilafah-diwujudkan.html">https://almanhaj.or.id/7070-hukum-syari-terkait-khilafah-dan-bagaimana-khilafah-diwujudkan.html</a>).</span></span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Hal ini dikarenakan, setelah tersebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia, jadilah masing-masing wilayah negara memiliki kepala negara masing-masing pula, yang kekuasaannya terbatas pada wilayah negara yang dipimpinnya saja. Maka wajib bagi masing-masing warga negara ta’at kepada kepala negaranya masing-masing, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Al-‘Allamah Asy-Syaukani dalam </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>Sailul Jarar 4/512. </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Hal ini sah karena belum mendapatkan kondisi ideal, sehingga sesuai dengan kaedah Ushul bahwa,</span></span></p>
<p align="RIGHT"><span lang="ar-SA">(</span><span lang="ar-SA">العجز مسقطٌ للأمر والنهي وإنْ كان واجبًا في الأصل</span><span lang="ar-SA">) [</span><span lang="ar-SA">مجموع الفتاوى</span><span lang="ar-SA">] (20/61)</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Ketidakmampuan menggugurkan perintah dan larangan, walaupun hukum asalnya wajib” (<span lang="ar-SA"><em>Majmu’ul Fatawa</em>, Syaikhul Islam 20/61, yang d</span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><u><span style="color: #000000;">iringkas dari </span></u></span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><u><span style="color: #000000;"><a href="http://www.dorar.net/article/1760">http://www.dorar.net/article/1760</a>).</span></u></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;">Setelah kita mengetahui hukum mengangkat khalifah itu wajib, sekarang yang menjadi pertanyaan : “Seberapa besarkah kewajiban tersebut? Apakah wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya, sehingga hukumnya menjadi </span></span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;">fardhu ‘ain atau sebatas fardhu kifayah?</span></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;">Al-Mawardi </span></span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span></span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;">menjelaskan hal itu:</span></span></span></p>
<p align="RIGHT">فَصْلٌ: “فِي بَيَانِ حُكْمِ الخِلَافَةِ”<br>
فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْإِمَامَةِ فَفَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ كَالْجِهَادِ وَطَلَبِ الْعِلْمِ، فَإِذَا قَامَ بِهَا مَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا سَقَطَ فَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهَا أَحَدٌ خَرَجَ مِنَ النَّاسِ فَرِيقَانِ:<br>
أَحَدُهُمَا: أَهْلُ الِاخْتِيَارِ حَتَّى يَخْتَارُوا إمَامًا لِلْأُمَّةِ.<br>
وَالثَّانِي: أَهْلُ الْإِمَامَةِ حَتَّى يَنْتَصِبَ أَحَدُهُمْ لِلْإِمَامَةِ،</p>
<p align="RIGHT">وَلَيْسَ عَلَى مَنْ عَدَا هَذَيْنِ الْفَرِيقَيْنِ مِنَ الْأُمَّةِ فِي تَأْخِيرِ الْإِمَامَةِ حَرَجٌ وَلَا مَأْثَمٌ،</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Pasal: “Tentang penjelasan hukum Khilafah”.</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Jika (sudah diketahui bahwa) benar-benar terbukti wajibnya menegakkan Imamah (Khilafah Islamiyyah), maka (ketahuilah) kewajiban itu jenisnya adalah fardhu kifayah, seperti jihad dan menuntut ilmu </i></span><sup><span style="color: #000000;"><i><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a></i></span></sup><span style="color: #000000;"><i>, maka jika telah dilaksanakan kewajiban tersebut oleh orang yang berkompeten, maka gugurlah kewajiban tersebut (bagi kaum muslimin yang lainnya) karena telah dilaksanakan olehnya. Dan jika tidak ada seorangpun yang menunaikannya, maka tampillah dua golongan manusia (yang berkewajiban melaksanakannya),</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Golongan Pertama: Ahlul Ikhtiyar (Dewan Perwakilan Rakyat yang bertugas memilih), sampai mereka memilihImam (Khalifah) untuk umat.</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>Golongan Kedua :Ahlul Imamah (Orang-orang yang terpenuhi syarat menjadi Imam (Khalifah)), sampai salah satu diantara mereka menjadi Imam (Khalifah) kaum muslimin,</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><i>dan bagi kaum muslimin selain dua golongan manusia tersebut, tidak salah dan tidak pula berdosa ketika terjadi penundaan pengangkatan Imam (Khalifah).</i></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa penegakkan Khilafah Islamiyyah itu </span><span style="color: #000000;"><b>bukanlah fardu ‘ain</b></span><span style="color: #000000;"> bagi setiap muslim dan muslimah, namun hukumnya fardhu kifayah, wajib dilaksanakan oleh dua golongan, yaitu: <em>Ahlul Ikhtiyar</em> (<em>Ahlul Halli wal ‘Aqdi</em>) dan Ahlul Imamah.</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Jika hukum penegakkan Khilafah Islamiyyah tidak sampai fardhu ‘ain, bagaimana mungkin ia dikatakan sebagai kewajiban yang terpenting dan paling mulia, yang melebihi kewajiban shalat bahkan melebihi Tauhid?</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman, serif;"><span style="font-size: medium;">Dan penegakkan Khilafah Islamiyyah ini tentunya untuk sebuah negri yang belum ada </span></span></span><span style="color: #000080;"><span lang="zxx"><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman, serif;"><span style="font-size: medium;">khalifah/pemimpin muslim yang sah, sehingga untuk neggri-negri yang telah sah ada kepala negaranya, dipimpin seorang muslim, bahkan wilayah negaranya diakui oleh dunia, maka tentunya </span></span></span></span></span><strong><span style="color: #000000;"><span style="font-family: Times New Roman, serif;"><span style="font-size: medium;"><span lang="id-ID"><b>wajib bagi masing-masing warga negara ta’at kepada kepala negaranya masing-masing dalam hal bukan maksiat, sambil terus menasehati pemerintah dengan nasehat yang baik dan bijak demi memaksimalkan penerapan hukum dan ajaran Islam di negaranya masing-masing!</b></span></span></span></span></strong></p>
<p align="LEFT"><strong><span style="color: #000000;">Lalu apakah kewajiban yang paling wajib dan terpenting serta paling mulia dalam Islam yang sesungguhnya? </span></strong></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahullah </i></span><span style="color: #000000;">telah</span><i> </i><span style="color: #000000;">menjelaskan dalam risalah </span><span style="color: #000000;"><i>Tsalatsatul Ushul,</i></span></p>
<p align="RIGHT"><span lang="ar-SA">أعظم ما أمر الله به التوحيد </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“Perintah Allah yang terbesar adalah tauhid”</span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Mengapa dikatakan Tauhid merupakan perintah Allah yang terbesar? Hal itu dikarenakan, </span></p>
<ul>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Tauhid itu hak Allah </span><span style="color: #000000;"><i>‘azza wa jalla,</i></span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Tauhid itu dasar dan asas agama Islam, maka tidaklah suatu ibadah bisa tegak dan diterima kecuali jika didasari dan diiringi dengan Tauhid,</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Tauhid juga merupakan tujuan diutusnya para Rasul </span><span style="color: #000000;"><i>‘alaihimush shalatu was salam </i></span><span style="color: #000000;">semuanya, Allah </span><span style="color: #000000;"><i>Ta’ala </i></span><span style="color: #000000;">berfirman,<br>
</span>وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ<br>
<span style="color: #000000;"><i>Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.</i></span><span style="color: #000000;"> (An-Nahl:36).</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Tidak ada satupun Utusan Allah kecuali mendakwahkan Tauhid,</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Allah </span><span style="color: #000000;"><i>Ta’ala </i></span><span style="color: #000000;">berfirman,<br>
<b>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ<br>
</b><i>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku semata”</i></span><span style="color: #000000;"> (Adz- Dzariyaat: 56).</span></p>
</li>
<li>
<p align="LEFT">Lawan dari Tauhid -yaitu syirik- adalah larangan Allah yang terbesar, jika sampai seseorang melakukan kesyirikan akbar, maka akan menggugurkan seluruh amalnya yang pernah dilakukannya dan Allah tidak akan mengampuni pelakunya sampai ia bertaubat, jika ia mati dalam keadaan tidak bertaubat maka akan masuk Neraka kekal selama-lamanya. <span style="color: #000000;">Allah </span><span style="color: #000000;"><i>Ta’ala </i></span><span style="color: #000000;">berfirman,<br>
</span> وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ<span style="color: #000000;"><b><br>
“</b><i>Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu benar-benar termasuk orang-orang yang merugi”</i></span><span style="color: #000000;"> (Az- Zumar:65).</span></p>
</li>
</ul>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><b>Kesimpulan:</b></span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pernyataan bahwa penegakan </span><span style="color: #000000;"><i>Khilafah Islamiyyah </i></span><span style="color: #000000;">sebagai “</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Pokok dari seluruh masalah dalam kehidupan manusia dan prinsip dasar yang paling mendasar!” </i>dan</span></span> “<span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>permasalahan kaum muslimin yang teragung!” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">adalah pernyataan yang salah dan tidak ada dalilnya.</span></span></p>
<p><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Bahkan pernyataan di atas adalah </span></span><span lang="en-US">pernyataan yang dusta menurut kesepakatan kaum muslimin dan sebuah bentuk kekufuran.</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span></span> mengatakan,</p>
<p style="text-align: right;">إنَّ القائل<span lang="en-US">: </span>إنَّ مسألة الإمامة أهم المطالب في أحكام الدين وأشرف مسائل المسلمين، كاذب بإجماع المسلمين</p>
<p>“Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) adalah tujuan yang tertinggi dalam hukum agama Islam dan permasalahan kaum muslimin yang teragung!”, (maka hakekatnya) ia berdusta menurut kesepakatan kaum muslimin (baca: para ulama)”.</p>
<p><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Bahkan beliau menyatakan bahwa perkataan itu sebagai bentuk kekufuran,</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #000000;">بل هو كفر فإنَّ الإيمان بالله ورسوله أهم من مسألة الإمامة وهذا معلوم بالاضطرار من دين الإسلام</span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">.</span></span><span style="color: #000000;"> فالكافر لا يصير مؤمناً حتى يشهد أن لا إله إلا الله وأنَّ محمداً رسول الله</span></p>
<p><span style="color: #000000;">“</span>Bahkan perkataan tersebut adalah bentuk kekufuran, karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya jelas lebih penting dari pada masalah Imamah (Khalifah Islamiyyah) dan ini merupakan perkara mendasar dalam agama Islam yang sifatnya dhoruri <sup><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></sup>. (Sebagaimana diketahui) orang kafir tidaklah sah menjadi seorang beriman sampai bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah<i>” (</i><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Syaikh </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">DR</span></span><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">. </span></span></strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Rabii’ Al-Madkhali).</span></span></p>
<h5 align="LEFT">
<span style="color: #000000;">2. </span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Khilafah Islamiyyah adalah sarana (wasilah) dan bukan tujuan serta bukan pula masalah pokok!</span></span>
</h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Demikianlah pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pakar ilmu Hadits, Syaikh Al-Albani </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">menjelaskan :</span></span></p>
<p align="RIGHT">فالدولة المسلمة – بلا شك – وسيلة لإقامة حكم الله في الأرض ، وليست غاية بحد ذاتها</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“Maka negara yang sah dalam Islam -tanpa diragukan- kedudukannya sebagai sarana untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi, dan bukan sebagai tujuan itu sendiri<i>” (</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">http://www.alalbany.net/4377).</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikh DR. Shaleh Al-Fauzan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>hafizhahullah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">, salah seorang ulama besar </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="id-ID">Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ahli Fikih sekaligus seorang mufti senior pernah mengatakan,</span></span></p>
<p align="RIGHT">إن تحكيم الشريعة وإقامة الحدود وقيام الدولة الإسلامية واجتناب المحرمات وفعل الواجبات كل هذه الأمور من حقوق التوحيد ومكملاته وهي تابعة له فكيف يعتنى بالتابع ويهمل الأصل؟</p>
<p><span style="color: #000000;">“Sesungguhnya penegakkan hukum Syari’at, penegakan hukum pidana, serta penegakan pemerintahan Islami, menjauhi keharaman dan mengerjakan kewajiban, hakekatnya semua perkara itu merupakan hak-hak tauhid dan kesempurnaannya, dan semua perkara itu mengikuti tauhid! Bagaimana mungkin perkara yang statusnya sebagai pengikut begitu diperhatikan, sedangkan perkara yang pokok justru ditelantarkan?” (</span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Syaikh </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">DR</span></span><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">.</span></span></strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Rabii’ Al-Madkhali).</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Coba bandingkan ucapan dua ulama besar tersebut dengan ucapan berikut ini,</span></span></p>
<p align="RIGHT"><span lang="en-US">(</span>إنّ غاية الدين الحقيقيّة إقامة نظام الإمامة الصالحة الراشدة<span lang="en-US">)</span></p>
<p align="LEFT">“<span lang="en-US"><i>Sesungguhnya</i></span><b> </b><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>tujuan agama Islam yang sebenarnya adalah mendirikan sistem Imamah (Khilafah Islamiyyah) yang baik dan lurus!</i></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Sungguh sangat batillah pernyataan di atas, karena konsekwensi dari ucapan di atas adalah bahwasanya tauhid, shalat, puasa, zakat dan semua ajaran agama Islam yang lainnya, hakekatnya merupakan sarana semata, untuk satu tujuan agama Islam, yaitu : penegakan Imamah (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Khilafah Islamiyyah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">)!</span></span></p>
<p lang="en-US" align="LEFT"><span style="color: #000000;">Sebuah ucapan yang tidak ada satupun dalil yang mendasarinya.</span></p>
<h5>3. Masalah Khilafah Islamiyyah tidaklah disebutkan secara mendominasi di dalam Alquran dan As-Sunnah</h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> mengatakan,</span></span></p>
<p align="RIGHT">فمن المعلوم أنَّ أشرف مسائل المسلمين، وأهم المطالب في الدين ينبغي أن يكون ذكرها في كتاب الله تعالى أعظم من غيرها، وبيان الرسول لها أولى من بيان غيرها، والقرآن مملوء بذكر توحيد الله تعالى، وذكر أسمائه، وصفاته، وآياته، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقصص، والأمر والنهي، والحدود والفرائض، بخلاف الإمامة، فكيف يكون القرآن مملوءً بغير الأهم الأشرف؟</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“Merupakan perkara yang telah diketahui bahwa suatu perkara kaum muslimin yang sifatnya teragung sekaligus ia merupakan tujuan yang terpenting dalam agama Islam, selayaknyalah hal itu disebutkan dalam Kitabullah Ta’ala lebih besar daripada penyebutan perkara selainnya, dan penjelasan Rasulullah terhadapnya, selayaknyalah lebih utama daripada penjelasan beliau tentang perkara selainnya. Sedangkan (kenyataannya) Aquran penuh dengan penyebutan Tauhidullah Ta’ala, nama dan sifat-Nya, Ayat-Ayat, Malaikat dan Kitab-Kitab dan para Rasul-Nya serta hari Akhir serta kisah-kisah,perintah, larangan, hukuman Had dan kewajiban-kewajiban.</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Namun, untuk masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) tidaklah demikian <a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a>! Maka bagaimana mungkin Alquran dikatakan dipenuhi dengan perkara yang tidak paling penting dan tidak pula paling mulia?” (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali)</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">.</span></span></p>
<h5>
<span lang="id-ID">4. </span><span lang="en-US">Suatu perkara yang sangat mendasar sekali dalam Islam bahwa dari dulu Rasulullah </span><span lang="en-US">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span><span lang="en-US"> tidak pernah mempersyaratkan pengetahuan tentang Imamah sebagai syarat kesahan keimanan orang yang masuk Islam. </span>
</h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> mengatakan,</span></span></p>
<p align="RIGHT"><span style="color: #000000;">وأيضا فنحن نعلم بالاضطرار من دين محمد بن عبد الله – صلى الله عليه و سلم</span> <span style="color: #000000;"><span lang="en-US">– </span>أنَّ</span> الناس كانوا إذا أسلموا لم يجعل إيمانّم موقوفا على معرفة الإمامة</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“Dan kami juga mengetahui -dengan pengetahuan yang sifatnya dharuri <a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a> dalam agama Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>– bahwa sejak dahulu manusia jika masuk Islam tidak pernah dipersyaratkan harus mengetahui masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) , untuk menyatakan kesahan iman mereka!” (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali).</span></span></p>
<h5 align="LEFT">
<span style="color: #000000;"><span lang="en-US">5. Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">dan Rasul-Nya </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> tidak pernah menyebutkan Imamah sebagai salah satu dari rukun Iman</span></span>
</h5>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> mengatakan,</span></span></p>
<p align="RIGHT">قوله: ( وهي أحد أركان الإيمان المستحق بسببه الخلود في الجنان ). فيقال: من جعل هذا من أركان الإيمان إلا أهل الجهل والبهتان؟!</p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“Ucapannya<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a> : “Dan Imamah adalah salah satu dari rukun Iman, yang dengan sebabnya, (seorang hamba) bisa kekal di Surga”. Maka bantahannya adalah bahwa tidaklah seseorang menjadikan ini sebagai bagian dari rukun Iman kecuali ia adalah orang bodoh dan pendusta!” (</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah,</i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali).</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Mengapa demikian wahai saudaraku?</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Karena di dalam dalil-dalil, baik itu Alquran maupun As-Sunnah, tidak pernah ada satupun dalil yang menunjukkan adanya masalah Imamah sebagai salah satu dari rukun Iman!</span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Contohnya, firman Allah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Ta’ala :</i></span></span></p>
<p align="RIGHT">لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ<span lang="en-US">… </span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;">“<span lang="en-US"><i>Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…” </i>(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Al-Baqarah:177)</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>. </i></span></span></p>
<p align="LEFT"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Dan sabda Nabi </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">ketika berdialog dengan Jibril </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>‘alaihis salam,</i></span></span></p>
<p align="RIGHT">فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ <span lang="en-US">: </span>أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ<span lang="en-US">. </span></p>
<p align="LEFT"><em><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">“Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya,Rasul-Rasul-Nya dan hari Akhir, dan kamu beriman kepada</span></span><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Q</span></span></strong></em><strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>adar yang baik maupun yang buruk” </i></span></span></strong><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">(</span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">HR. Muslim).</span></span><i> </i></p>
<p><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Dari kedua dalil di atas dan dalil-dalil yang lainnya tentang rukun Iman, maka tidak ada satupun dalil yang menunjukkan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">masalah Imamah sebagai salah satu dari rukun Iman!</span></span></p>
<h5>
<span lang="en-US">6. Para Nabi </span><span lang="en-US"><i>‘alaihimush shalatu was salam</i></span><span lang="en-US"> dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing, tidak pernah seorangpun diantara mereka yang menjadikan masalah Imamah sebagai solusi terpenting dan pertama sebelum yang lainnya!</span>
</h5>
<p><span lang="en-US">Bahkan dakwah mereka </span><span lang="en-US"><i>‘alaihimush shalatu was salam </i></span><span lang="en-US">adalah dakwah Tauhid, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Alquran, seperti dalam Al-A’raaf: 59, 65, 73 dan 85.</span></p>
<p><span lang="en-US">Seluruh para Rasul </span><span lang="en-US"><i>‘alaihimush shalatu was salam</i></span><span lang="en-US"> walaupun mereka menghadapi umat yang berbeda-beda dan problematika yang berbeda-beda, namun tetaplah dakwah Tauhid sebagai asas dakwah mereka. </span></p>
<p><span lang="en-US">Namun yang perlu diketahui, bukan berarti seorang da’i ketika ingin mencontoh dakwah para Rasul </span><span lang="en-US"><i>‘alaihimush shalatu was salam </i></span><span lang="en-US">lalu ia tidak mendakwahkan ajaran agama Islam yang lainnya selain Tauhid! Yang benar bukan demikian, karena yang dimaksud di sini adalah menjadikan dakwah Tauhid sebagai dakwah yang pokok, terpenting dan yang pertama.</span></p>
<h5>
<b>7. Demikian pula Rasulullah</b><i><b> shallallahu ‘alaihi wa sallam,</b></i><b> Utusan Allah yang terbaik, beliau pun dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya, tidak pernah menjadikan masalah Imamah sebagai solusi terpenting dan pertama!</b>
</h5>
<p><span lang="en-US">Untuk pembahasan tentang bagaimana dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan problematika umat? Silahkan membaca artikel : “<a href="https://muslim.or.id/25476-dakwah-khilafah-ataukah-dakwah-tauhid-1.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid?</a>“. </span></p>
<p><span lang="en-US"><i>Walhamdulillaah Rabbil’alamiin.</i></span></p>
<p>***</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<div id="sdfootnote1">
<p class="sdfootnote"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1 </a>Lihat penjelasan tentang makna <span style="color: #000000;"><span lang="en-US"><i>Khilafah Islamiyyah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">pada artikel ke-2 tersebut.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><i> </i><span style="color: #000000;">Jenis ilmu-ilmu yang fardhu kifayah.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a><i> </i><span lang="en-US">Ilmu yang wajib bagi setiap muslim mengetahuinya dan</span> mudah diketahui setiap muslim.</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><span style="color: #000000;"><span lang="en-US"> Tidak disebutkan mendominasi dan tidak paling ditekankan dalam Alquran dan As-Sunnah.</span></span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="LEFT"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a><span lang="en-US"> Ilmu yang wajib bagi setiap muslim mengetahuinya dan</span> mudah diketahui setiap muslim.</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p class="sdfootnote">6<span lang="en-US"> Ucapan penulis syi’ah rafidhah.</span></p>
<p class="sdfootnote">—</p>
<p class="sdfootnote">Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p class="sdfootnote">Artikel Muslim.Or.Id</p>
</div>
 